<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615</id><updated>2011-04-21T19:15:49.415-07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='tobasa'/><category term='batak'/><category term='Sejarah'/><category term='Tokoh'/><category term='toba'/><category term='Berita'/><category term='bupati'/><category term='tapanuli'/><title type='text'>PORSEA POS</title><subtitle type='html'>Porsea Merupakan Kota Pertama Mesjid Berdiri Di Tanah Toba (1450 M)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://porseauli.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-6930355174260735655</id><published>2007-10-13T17:55:00.000-07:00</published><updated>2007-10-13T18:00:16.457-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Barus Di Tahun 627 M</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s1600-h/bend3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s200/bend3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5044646594624863074" /&gt;&lt;/a&gt;Selasa, 26 Juni 2007 23:01 WIB&lt;br /&gt;Menelusuri Jejak Islam Barus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspada Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Lobu Tua berjarak 4 km ke arah barat dari ibu kota Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah. Keberadaannya tak ada yang istimewa, karena layaknya desa warganya hidup bersahaja dari hasil laut, sawah dan kebun yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebagian warga punya kebanggaan luar biasa atas tanah mereka. Generasi tua dan sebagian generasi mudanya, paham betul tanah Lobu Tua punya sejarah masa lalu yang gemilang. Lobu Tua pernah menjadi emporium (pelabuhan niaga samudera) yang didatangi berbagai bangsa untuk membeli hasil bumi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak artefak (keramik, perak, batu bertulis, dsb) peninggalan masa lalu terkandung di bumi desa itu. Berbagai penelitian telah dilakukan kalangan arkeolog nasional maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya, mencoba mengungkap keberadaan Lobu Tua sebagai salah satu pelabuhan tua, tempat interaksi banyak peradaban maju masa lalu, dari penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak Peradaban Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pelabuhan niaga samudera, Barus (Lobu Tua) diperkirakan sudah ada sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Bahkan, ada memerkirakan lebih jauh dari itu sekira 5.000 tahun SM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan akhir itu, didasarkan pada temuan bahan pengawet dari berbagai mummy Fir'aun Mesir Kuno salah satu pengawetnya menggunakan kanper atau kapur Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getah kayu itu yang paling baik kualitasnya, kala itu hanya ditemukan di sekitar Barus. Sejarawan era kemerdekaan Prof. Mr. Mhd. Yamin, SH memperkirakan perdagangan rempah-rempah di antaranya kanfer, sudah dilakukan pedagang Nusantara sejak 6.000 tahun lalu ke berbagai penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ke depan dari perkiraan itu, berdasarkan arsip-arsip tua berasal dari kitab suci. Misalnya di Injil Perjanjian Lama, menceritakan Raja Sulaiman (Solomon) atau dalam keyakinan Islam dikenal dengan Nabi Sulaiman, memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan membeli rempah-rempah hingga ke Ophir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ophir patut diduga sebagai Barus/Lobu Tua. Perkiraan itu punya jejak spiritual berbentuk kepercayaan monotheisme. Misalnya Ugamo Parmalim yang menjadi agama asli etnis Batak, meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Ompu Mulajadi Na Bolon.&lt;br /&gt;Peradaban lain sempat menyentuh emporium Barus, adalah Yunani yang di perkirakan para pedagangnya mengunjungi Barus di awal-awal Masehi. Seorang pengembara Yunani Claudius Ptolomeus mencatat perjalanannya hingga ke Barousai, sekira tahun 70 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencatat sejarah Yunani itu menyebutkan bahwa selain pedagang Yunani, pedagang Venesia, India, Arab dan Tiongkok juga lalu lalang ke Barus untuk mendapatkan rempah-rempah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada arsip tua India "Kathasaritsagara" sekira tahun 600 M, mencatat perjalanan seorang Brahmana mencari anaknya hingga ke Barus. Brahmana itu mengunjungi Keladvipa (pulau kelapa diduga Sumatera) dengan rute Ketaha (Kedah), menyusuri pantai Barat hingga ke Karpuradvipa (Barus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Tiongkok sejak lama mengenal Barus sebagai Po Law Che. Misalnya, dari catatan Hsuan Tsang dari era Dinasti Tang tahun 645 M dan pengembara I Tcing, tahun 685 M .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sekelompok penyebar ajaran Kristen Sekte Nestorian dari Konstantinopel, pusat Kerajaan Byzantium Timur, menjejakkan kakinya di Barus.  &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Kelompok itu diperkirakan datang sekira tahun 600 M dan mendirikan gereja pertama di Desa Pancuran, Barus. Lalu di tahun itu juga, pedagang Arab memasuki Barus sekira 627-643 M atau sekira tahun 1 Hijriah, dan menyebarkan agama Islam di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya Wahab bin Qabishah mendarat di Pulau Mursala pada 627 M. Ada juga utusan Khulafaur Rasyidin, bernama Syekh Ismail akan ke Samudera Pasai dan singgah di Barus, sekira tahun 634 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, tercatat bangsa Arab (Islam) mendirikan koloni di Barus. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri, misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 M dalam bukunya "Silsilatus Tawarikh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya Dinasti Syailendra dari Champa (Muang Thai) menaklukkan emporium Barus sekira 850 M dan menamakan koloni itu sebagai Kalasapura. Setelah penaklukan itu, di pelabuhan itu berdiri koloni terdiri dari berbagai bangsa terpisah dengan masyarakat asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat, tahun 1088 ada perkumpulan dagang Tamil (India) di koloni itu. Namun sekali lagi, koloni Barus di bumi hanguskan sekira tahun 1127 M oleh Kerajaan Marina dari Madagaskar, Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabad setelah itu, Bangsa Eropah menemukan koloni Barus baru. Penjelajah terkenal bangsa Italia Marcopolo menjejakkan kakinya di bandar perniagaan itu pada 1292 M. Sedangkan sejarawan muslim ternama Ibnu Bathuthah mengunjungi Barus pada 1345 M. Berikutnya pelaut Portugis berdagang di Barus pada 1469 M. Sedangkan pedagang dari berbagai belahan dunia lain menyinggahi Barus, tercatat dari Ceylon (Sri Lanka), Yaman, Persia, Inggris dan Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan dari berbagai arsip bangsa-bangsa dunia, emporium Barus bertahan hingga abad 17 M. Setelah itu, pusat perniagaan Barus secara perlahan kehilangan perannya, hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai jejak para pendatang dari penjuru dunia itu, sebagian ada yang sudah ditemukan melalui penggalian arkeologis oleh para arkeolog nasional dan internasional, misalnya temuan artefak, keramik, batu bertulis pada tahun 1872 atau pada penggalian tahun 1978 dan 1995 di situs Lobu Tua. Temuan itu sudah banyak mengisi berbagai museum dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emporium Barus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sejarawan Islam dalam mau pun luar negeri mengakui arti penting pantai Barat Pulau Sumatera (Andalas) sebagai salah satu daerah awal masuknya Islam ke Nusantara.&lt;br /&gt;Namun, belum ada kesepakatan di antara mereka, apakah Barus merupakan lokasi pertama masuknya Islam. Pandangan itu setidaknya mengemuka dalam Seminar I "Masuknya Islam di Nusantara ," diselenggarakan di Medan pada 17-20 Maret 1963.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminar itu, seorang sejarawan lokal, bernama Dada Meuraxa berkeyakinan Islam masuk ke Barus pada tahun 1 Hijriah, berdasarkan penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin, di komplek pemakaman Mahligai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu nisan itu menginformasikan Syekh Rukunuddin wafat dalam usia 100 tahun, 2 bulan dan 22 hari pada tahun "ha"-"mim" Hijratun nabi. Meuraxa, menerjemahkan "ha"-"mim" itu 8 - 40 yang kemudian dijumlahkan menjadi 48 H. Perhitungan itu berdasarkan Ilmu Falak (Astronomi) dari Kitab Tajul Muluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di seminar itu, pandangan Meuraxa disangkal ulama terkenal Sumut saat itu, Ustadz HM Arsyad Thalib Lubis. Menurut ulama pendiri Al Jam’iyatul Washliyah itu, bukti nisan tidak dapat dijadikan dasar penentuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, dua huruf ‘Ha’ dan ‘mim’ yang menunjukkan tahun di batu nisan itu bukan 48 H melainkan 408 Hijriah. Menurut ulama terkenal itu, untuk nama memang harus dijumlah, tapi untuk tahun harus dipadukan, sehingga menjadi 408 Hijriah.      &lt;br /&gt;Akhirnya, seminar pertama itu memutuskan Islam pertama kali masuk ke Nusantara memang di Pantai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barat Sumatera tanpa menentukan di mana pastinya lokasi masuknya agama Islam.&lt;br /&gt;Perbedaan pandangan itu terus berlangsung hingga belasan tahun kemudian. Baru pada tahun 1978, sejumlah arkeolog dipimpin Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar daerah Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog juga pengajar di Universitas Airlangga Surabaya dan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, meyakini Islam sudah masuk sejak tahun 1 Hijriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat pertama oleh sejarawan lokal Dada Meuraxa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengukuhan itu dikuatkan lagi dalam seminar sama pada 29-30 Maret 1983 di Medan menyimpulkan Barus merupakan daerah pertama masuknya Islam di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhitungan masuknya Islam di Barus itu, didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus bertuliskan aksara Arab dan Persia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, menurut Ustadz Djamaluddin Batubara, hingga kini ada sebagian tulisannya tidak bisa diterjemahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan aksara Arab. Seorang arkeolog dan ahli kaligrafi kuno Arab dari Prancis Prof. Dr. Ludwig Kuvi mengakui Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, merupakan ulama besar. Sedangkan batu nisan menjadi pertanda makam itu banyak ditemukan di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang makam Syekh Mahmud itu, sejarawan Belanda Dr. Ph. S. Van Roenkel menyatakan Syekh Mahmud merupakan penyebar Islam pertama sekira 1.000 tahun lalu berhasil mengajak masuk Islam Raja I etnis Batak, yakni Raja Guru Marsakkot. Namun, karena hal itu tidak disukai kalangan kerabat Raja Batak itu, ulama itu kemudian dibunuh, sehingga terjadi huru hara besar di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Ustadz Djamaluddin Batubara sendiri, memiliki teori lain tentang keberadaan makam Syekh Mahmud terpencil dan berada di ketinggian bukit Papan Tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Djamaluddin, Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, diperkirakan datang lebih awal dari Syekh Rukunuddin, yakni pada era 10 tahun pertama dakwah Rasulullah Muhammad SAW di Makkah. Masa kedatangan ulama diduga kerabat dan sahabat nabi itu, membawa ajaran Islam Tauhid tanpa Syari’at. "Itu sebabnya di makam itu belum ada penanggalan, melainkan sabda Nabi bermakna tauhid," tegas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ketinggian makam itu dibanding 43 makam bersejarah lainnya, menjadi alasan terdahulunya kedatangan Syekh Mahmud ketimbang para penyebar Islam lainnya.&lt;br /&gt;"Dulu, Barus sekarang ini laut dan pantainya di perbukitan itu (menunjuk Bukit Papan Tinggi sekira 200 meter di atas permukaan laut). Atau paling tidak dulunya daratan ini masih rawa-rawa dalam. Seiring dengan perubahan ekologis, laut atau rawa-rawa itu jadi daratan," kata Djamaluddin. Bukti pendukung teori itu disebutkan banyaknya ditemukan batu karang di daratan Barus sekarang, jika penggalian dilakukan hanya semeter dari permukaan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Syekh Mahmud merupakan penyebar Islam pertama, sedangkan 43 ulama lainnya merupakan pengikut dan murid-muridnya, kata Ustadz Djamaluddin yang merupakan tamatan Pesantren Purba Baru. Ke 43 makam ulama penyebar Islam itu di antaranya, makam  Syekh Rukunuddin, Tuanku Batu Badan, komplek Bukit Hasang, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang, Tuanku Makhdum, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ahmad Khatib Siddiq, dan makam Imam Mua’azhamsyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya makam Imam Chatib Miktibai, Tuanku Pinago, Tuanku Sultan Ibrahim bin Tuanku Sultan Muhammadsyah Chaniago, dan makam Tuan Digaung, serta beberapa makam lainnya. Kesemua makam dari 43 ulama itu berada di Barus dan sekitarnya.&lt;br /&gt;Selain itu, keberadaan Islam di Barus, berhubungan langsung dengan Islam di Aceh. Beberapa temuan arsip kuno menunjukkan adanya tiga ulama Islam terhubungkan antara Barus dan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, keberadaan ulama terkenal Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Syamsuddin as Sumatrani paham keagamaan mereka berseberangan dengan Syekh Abdul Rauf as Singkili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diyakini banyak sejarawan Islam, kedua ulama terdahulu bermukim dan menyebarkan pahamnya di Barus, setelah paham Wujudiah mereka mendapat serangan dari Syekh Abdur Rauf as Singkili dan tidak diakui di Kerajaan Islam Samudera Pasai Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sama terjadi juga terhadap keberadaan Islam di Minangkabau (Sumatera Barat). Misalnya keberadaan seorang penguasa Islam asal Minangkabau bernama Sultan Muhammadsyah Chaniago disebut-sebut berasal dari Indrapuri merupakan pusat Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau. Namun, diakui, Islam sendiri tidak menyebar ke pedalaman Tano Batak, karena adanya penolakan keras dari masyarakat setempat kental memegang adat istiadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ustadz Djamaluddin Batubara, etnis Batak dikenal sangat memegang teguh adat istiadat melebihi apa pun. Sedangkan adat istiadat mereka pegang diperkuat dengan ajaran lokal Parmalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, patut dicatat, awal masuknya Islam (di masa Syekh Mahmud dan 43 ulama lainnya, diperkirakan tidak ada penolakan, malah terjadi sinkretisisme simbolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada periode kedua masuknya Islam (sekira abad 17 M), ajaran itu ditolak, karena berlawanan dengan adat kebiasaan masyarakat setempat. "Jelasnya, ketika Islam Tauhid/Sufistik datang, tak ada penolakan. Baru ketika Islam Syari’at datang, masyarakat menolak," tegas Djamaluddin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-6930355174260735655?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/6930355174260735655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/6930355174260735655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/10/barus-di-tahun-627-m.html' title='Barus Di Tahun 627 M'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s72-c/bend3.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-5272439841284578173</id><published>2007-10-13T17:50:00.000-07:00</published><updated>2007-10-13T17:53:28.623-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Parmalim Dan Mantra "Borkat Kobul Lailaha Illallah"</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s1600-h/bend3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s200/bend3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5044646594624863074" /&gt;&lt;/a&gt;Selasa, 26 Juni 2007 22:51 WIB&lt;br /&gt;Kultur Islam Dan Ugamo Parmalim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspada Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugamo Parmalim menjadi kepercayaan asli etnis Batak, hingga kini masih eksis. Bahkan, di Kecamatan Barus sendiri, seperti penuturan Zuardi Mustafa Simanulang ada desa bernama Kampung Mudik sebagian warganya masih menganut kepercayaan asli itu. Bahkan, penganut Parmalim di sana punya rumah ibadah disebut Parsaktian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan asli etnis Batak itu, menurut Ustadz Djamaluddin sangat dekat hubungannya dengan tradisi dan simbol-simbol agama Samawi, khususnya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, Parmalim itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis Batak. Dikatakan, saat ini penganut kepercayaan Parmalim memiliki 360 orang dukun yang berfungsi sebagai pembawa upacara keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 360 dukun itu, separuh di antaranya (180 orang) menggunakan bacaan pembuka dan penutup mantra (tabas) dengan ucapan mirip bacaan Islam dan Yahudi (Hebrew).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan mantra itu kira-kira; "Binsumillah dirakoman dirakomin" dan penutupnya "Yasa Yasu Yausa" Sedangkan separuh di antaranya menggunakan pembuka dan penutup tabas dengan bahasa mirip ucapan Islam. Untuk pembukaan: "Bismillahirrahmanirrahiem" dan penutupnya; "Borkat Kobul Lailaha Illallah" atau "Borkat Kobul Baginda Saidina Ali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan fakta itu, Ustadz Djamaluddin Batubara berkeyakinan, ada hubungan antara Parmalim dengan agama-agama Samawi. Menurut dia, Al Qur'an ada menyebutkan kepercayaan monotheisme Ibrahim dikenal dengan "millah (ta) Ibrahim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, jika dihubungkan cerita tentang penemuan mummy Mesir yang dibalsem dengan rempah-rempah pengawet di antaranya kanfer (kapur barus) serta kisah tentang Raja (Nabi) Sulaiman membutuhkan rempah-rempah dari Ophir (Barus), diperkirakan kala itulah keyakinan monotheisme terserap dan kemudian mengakar dalam keyakinan etnis Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam sejarah asal Keturunan Raja Barus, disebutkan pula raja I etnis Batak bernama Raja Makoeta atau Raja Manghuttal bergelar Sisingamangaraja I sekira tahun 1550 M sudah memeluk agama Islam dan mengembangkannya hingga ke Aceh dan Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisingamangaraja I sendiri merupakan kemenakan Raja Uti, penguasa Barus. Raja Makoeta merupakan panglima Raja Uti ketika melawan Portugis yang hendak menguasai Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarahnya kemudian Sisingamangaraja I itu mendirikan kerajaan baru berpusat di Bakkara. Kata 'Bakkara' sendiri diambil dari salah satu surah di Al Qur'an, yakni Surah Al Baqarah (Lembu Betina).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dikarenakan daerah jadi pusat kerajaan Sisingamangaraja I merupakan dataran banyak lembunya. Diceritakan pula, antara Barus dan Bakkara terjadi hubungan persahabatan yang erat. Itu ditandai dengan dibuatnya jalan menghubungkan kedua kerajaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisingamangaraja I dalam memerintah rakyatnya, berpedoman pada sejumlah pegangan spiritual bernuansa monotheistis. Misalnya, menyucikan diri, tidak memakan darah dan daging yang tidak disembelih (mate garam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menenggak minuman yang memabukkan. Mendirikan rumah ibadah tempat berdoa kepada Tuhan YME. Menghapuskan perbudakan, mencintai kebersihan, kesehatan dan menganjurkan penduduk membuat sumber air (sumur) untuk kelompok warga. Mengutamakan musyawarah (syura) dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, umum sudah diketahui penanggalan Raja Batak sejak awal telah menggunakan penanggalan Islam, yakni Hijriah. Itu terlihat dari cap kerajaan para penguasa Batak, misalnya cap Sisingamangaraja XII bertuliskan Arab/Melayu dengan penanggalan tahun 1304 Hijratun Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan simbol dan pakaian kebesaran kerajaan Batak, cenderung mendekati simbol-simbol ke-Islaman. Misalnya, tongkat, pedang, sorban berwarna putih serta stempel kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai peraturan dibuat Sisingamangaraja I menjadi pedoman kehidupan bagi etnis Batak di kemudian hari juga bernuansa monotheistis. Sayangnya, pedoman itu kemudian tidak berlanjut, karena ketiadaan penganjur Islam (pendakwah) dekat dengan kerajaan Batak sepeninggal Raja Uti. Islam Tauhid (monotheis) itulah di kemudian hari dikenal sebagai kepercayaan Parmalim, tutur Ustadz Djamaluddin Batubara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perebutan Eksistensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kepercayaan asli etnis Batak itu, belakangan kian menyusut dan kehilangan eksistensinya. Pasca menyebarnya Protestantisme dibawa Dr. I.L Nomensen ke Tano Batak, Parmalim menghadapi tekanan keras. Watak ekspansionisme Protestan, ternyata tidak memberikan peluang kepada kepercayaan asli itu untuk tetap hidup dalam keberagaman keyakinan. Akibatnya, Parmalim menjadi keyakinan yang terasing di tanah kelahirannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan kenapa Parmalim harus menghadapi tekanan keras yang membuat kepercayaan asli itu kian meredup. Pertama, keyakinan monotheisme Parmalim sangat bertolak belakang dengan keyakinan mayoritas etnis Batak beragama Kristen Protestan/Katholik meyakini konsep Trinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sinkretisme simbol-simbol Parmalim-Islam mengganggu missi untuk menjadikan Tano Batak sebagai wilayah Judea di Andalas. Artinya, klaim bahwa etnis Batak sama dengan orang Kristen masih bisa dianulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan orang Minang, Aceh dan Melayu yang bisa mengklaim dirinya sama dengan orang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kebijakan pemerintah dan agama-agama dominatif mengabaikan, bahkan berniat melenyapkan eksistensi berbagai aliran kepercayaan yang ada, menyebabkan Parmalim dan kepercayaan lainnya terpinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah warisan spiritual masa lalu di negeri ini, Ugamo Parmalim seharusnya tidak bisa dipandang sama dengan aliran-aliran kepercayaan yang ada belakangan sebagai sempalan agama-agama dominatif (Islam, Kristen, Budha, Hindu dan Kong Hu Chu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dikarenakan Parmalim memang dilahirkan dari rahim keyakinan masa lalu nenek moyang bangsa, keberadaannya jauh lebih terdahulu dibanding agama-agama resmi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan bijaksana jika political will pemerintah, khususnya Pemprov Sumatera Utara memberikan perlindungan atas keberadaan Ugamo Parmalim itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar tentang Perjuangan Sisingamangaraja XII yang berlangsung Akhir Mei 2007 lalu di Medan, setidaknya bisa menjadi langkah awal yang baik untuk memberikan ruang lebih terbuka kepada Parmalim menunjukkan eksistensinya di tengah pergaulan antar agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kasus penolakan masyarakat sekitar terhadap pendirian Parsaktian di Jalan Air Bersih, Medan , beberapa waktu lalu, patut dipandang sebagai upaya tidak memberikan ruang toleransi kepada kepercayaan asli etnis Batak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya toleransi beragama diberikan kepada semua keyakinan, agar tidak muncul prasangka toleransi beragama cuma lip servis digunakan untuk kepentingan sempit agamaagama tertentu.&lt;br /&gt;*Abdul Khalik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-5272439841284578173?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/5272439841284578173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/5272439841284578173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/10/parmalim-dan-mantra-borkat-kobul.html' title='Parmalim Dan Mantra &quot;Borkat Kobul Lailaha Illallah&quot;'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s72-c/bend3.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-8649161643992929838</id><published>2007-09-05T05:37:00.000-07:00</published><updated>2007-09-05T05:39:37.146-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Renta Lumban Batu</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s1600-h/bend3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s200/bend3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5044646594624863074" /&gt;&lt;/a&gt; Stres, Ibu Memaku Kepala Anak    &lt;br /&gt;Selasa 28 Agustus 2007, Jam: 10:20:00  &lt;br /&gt;JAKARTA (Pos Kota) – Stres tak punya duit ongkos pulang ke kampung halamannya di Sumut, seorang ibu tega memaku kepala anaknya. Bocah berusia 2 tahun itu kini terbaring lemah di RSCM. Peristiwa mengenaskan ini terjadi di Depok Dua Timur, Minggu petang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexander Siagian, 2, dengan paku yang masih tertanam di batok kepala sedalam 3 cm kini dirawat di ruang IRNA B lantai 2 RSCM. Diakui sang ayah, Belsing Hasekial, 41, warga Jalan Sono Keling IV, Depok II Timur, sejak beberapa tahun terakhir istrinya Renta Lumban Batu, 28, memang mengalami gangguan jiwa. “Malahan sekitar setahun lalu, dia pernah membotaki rambutnya dengan alasan karena kepanasan,” kata Belsing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkannya hal tersebut dikerenakan sang istri meminta untuk pulang ke kampung halamannya di Ledong, Tanjung Balai, Sumatera Utara. Namun karena tidak mempunyai biaya keinginan tersebut belum terpenuhi. “Sudak lima tahun Renta tidak pulang kampung,” tutur Belsing, yang bekerja sebagai satpam di sebuah pusat perbelanjaan di Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan Imelda, bibi bocah malang tersebut, peristiwa itu terjadi pada Sabtu, (25/8) sore. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Renta yang memaki sang anak. Mendengar hal tersebut, maka Imelda yang tinggal berseberangan dengan Renta langsung mendatanginya. Betapa terkejutnya, Imelda ketika mendapati kepala keponakannya telah tertanjap paku. Tidak hanya itu, setelah menanamkan paku ke kepala sang anak Renta juga menancapkan dua paku ke kepalanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kejadian tersebut Imelda langsung membawa Alexander ke RSIA Hermina, namun dirujuk ke RS Pasar Rebo sebelum akhirnya ibu dan anak tersebut mendapat perawatan di RSCM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANAK DURHAKA&lt;br /&gt;Dasar anak durhaka, dinasehati orangtua malah membacok kepala ayah kandungnya sendiri. Peristiwa penganiayaan itu terjadi di RT 07/011 Kel. Angke, Kec. Tambora, Jakarta Barat, Minggu (26/8) malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersangka Ahmad, 20, anak biadab yang saat membacok bapaknya dalam keadaan teler, hingga Senin siang masih dalam pencarian petugas Polsek Tambora. Sementara ayahnya Surya Atmaja, 59, kini dirawat di RS Atmajaya Pluit, Jakarta Utara. Diperoleh keterangan, setiap malam Ahmad pulang dalam keadaan teler. Orangtuanya sudah sering menasehati anak muda tersebut tapi tak pernah diindahkan. Tapi karena kelakuannya tak pernah berubah, Minggu malam sekitar pkl 22:00 ketika pulang ke rumahnya langsung ditanya ibu bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Surya mencoba menasehati putranya. Namun tanpa disangka-sangka, Ahmad yang sudah kerasukan setan mengambil golok lalu membacok kepala bapaknya hingga roboh. Setelah membacok, pemuda itu menjadi panik dan langsung kabur. Keluarga dibantu warga sekitar menolong membawa korban ke RS Atmajaya Pluit. Sedangkan tersangka yang dikenal tetangganya sebagai pemuda nakal di kawasan Rusun Angke, masih dicari polisi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-8649161643992929838?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/8649161643992929838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/8649161643992929838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/09/renta-lumban-batu.html' title='Renta Lumban Batu'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s72-c/bend3.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-7492865771337539443</id><published>2007-08-24T07:45:00.000-07:00</published><updated>2007-08-24T07:46:17.815-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Jamaluddin Purba Dan Ranperda Tanjung Balai</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s1600-h/bend3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s200/bend3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5044646594624863074" /&gt;&lt;/a&gt;  Jumat, 24 Agustus 2007 03:00 WIB&lt;br /&gt;Ranperda Gepeng Dinilai Rendahkan Islam&lt;br /&gt;Tg. balai, WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinilai merendahkan Agama Islam, Pemuda Muslimin Indonesia Kota Tg. Balai menolak Rancangan Perda tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita menolak Ranperda Gelandangan dan Pengemis, khususnya pada pasal 5. Sebab dalam pasal ada kata kontroversi yakni sedekah, yang identik dengan agama Islam. Jadi kata sedekah itu dapat merendahkan agama Islam," tegas Sekretaris PMI Kota Tg. Balai, Indra Mingka pada Public Hearing sosialisasi Ranperda Penanggulangan Gepeng di aula Rumah Dinas Walikota Tg. Balai, Kamis (23/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Ranperda itu tetap dipertahankan, lanjut Indra, sebaiknya kata sedekah direvisi dengan kata-kata lain seperti minta-minta atau sebagainya. "Tolong kata sedekah itu dihapus," tegas Indra. Tim sosialisasi Jamaluddin Purba menyambut baik usulan itu. "Kita akan menyampaikan usulan itu pada rapat paripurna tim perumus Ranperda, agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai religi, masyarakat dan tidak menyudutkan kelompok atau golongan tertentu," tukas Purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Purba, para gepeng yang disharing akan diberi pembinaan, sedangkan yang memberikan uang ataupun melakukan eksploitasi akan diberi hukuman. "Pembinaan dapat berupa tindakan preventif, responsif dan rehabilitasi," jelas Dekan Fakultas Fisipol UMSU itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purba melanjutkan, gelandangan merupakan orang yang hidup tidak sesuai norma yang layak, yakni tidak bekerja selain meminta-minta belas kasihan orang lain. Dikatakan, untuk mendapatkan belas kasihan orang lain, para gepeng berupaya menimbulkan trik-trik tertentu seperti menunjukkan kelemahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau pemerintah saja yang memikirkan masalah ini akan menimbulkan multi kompleks dan dikhawatirkan penanggulangan akan terlantar. Sebab itu masalah ini harus dipikirkan seluruh elemen masyarakat," ujar Purba. Kasi Rehabilitasi Sosial Dinsos Sumut, Hasyim menyatakan, Ranperda Penanggulangan Gepeng manfaatnya bukan sekarang, melainkan berupa antisipasi ke depan. "Sempatlah nanti semua turun di jalan, tentu sulit mengatasinya," demikian Hasyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Binjai&lt;br /&gt;Pemerintah seharusnya serius menanggulangi gepeng sehingga mereka jera termasuk orang yang mengkordinirnya. Penanganan masalah gepeng juga tidak akan selesai jika menjatuhkan hukuman kepada orang yang ingin bersedekah. Demikian HM. Nuh seorang warga Binjai di aula Pemko Binjai Kamis (23/8) dalam sosialisasi draf Ranperda Prop. Sumut tentang penanggulangan gelandangan dan  pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Wakil Walikota Binjai Drs.H. Anhar A Monel, MAP saat membuka  publik hearing draf Raperda Penanggulangan gelandang dan pengemis minta peserta memberi masukan. "Kalau selama ini hanya membaca koran adanya  denda Rp6 juta kepada pemberi gepeng, sekarang bisa didiskusikan, sehingga  draf Raperda ini secara serius menanggulangi gepeng di Sumatera Utara," terang Anhar. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia daerah (KPAID) Sumut Zahrin Piliang yang juga Sekretaris Tim Perumus Raperda Gepeng Dinas Sosial Sumut mengemukakan, jumlah gelandangan dan pengemis di Sumut kini mencapai 12.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbanyak di Medan, menyusul Binjai dan daerah lain. Gelandangan dan pengemis tumbuh subur karena faktor mentalitas pelaku yang  senang mendapatkan uang dengan mengemis tanpa mau bekerja. Sehingga pemerintah menemukan jalan buntu memberdayakannya. Mereka bisa berpenghasilan satu hari Rp50.000 yang jika diperhitungkan jauh di atas UMR. Di sisi lain persoalannya kian dilematis dari perspektif agama memberikan sedekah merupakan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan untuk daerah  Kab.Langkat dan Binjai mendapat sambutan yang antusias terutama pasal yang membuat denda Rp6 juta dan pidana kurungan maksimal enam minggu bagi orang yang memberikan uang atau barang kepada gepeng di tempat umum. Kegiatan dihadiri 120 orang dari Kab. Langkat dan Binjai dihadiri Kasubdis Bina Rehabilitasi Sosial Dinsos Sumut Drs.H. Hatta Siregar, Kepala Kantor Sosial Binjai Drs.H.Sofyan Nasution. Kegiatan ini menurut Hatta Siregar akan dilakukan bergiliran di 25 daerah tingkat II se Sumut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-7492865771337539443?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/7492865771337539443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/7492865771337539443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/08/jamaluddin-purba-dan-ranperda-tanjung.html' title='Jamaluddin Purba Dan Ranperda Tanjung Balai'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s72-c/bend3.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-4595560901828540585</id><published>2007-08-24T07:40:00.000-07:00</published><updated>2007-08-24T07:41:22.866-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tobasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tapanuli'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bupati'/><title type='text'>Korupsi 3 Milyar, Bupati Tobasa Didemo</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s1600-h/bend3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s200/bend3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5044646594624863074" /&gt;&lt;/a&gt; Kamis, 23 Agustus 2007 03:00 WIB&lt;br /&gt;Bupati Tobasa Kembali Didemo Soal Korupsi Rp3 Miliar &lt;br /&gt;Balige, WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan massa yang tergabung dalam gerakan  aliansi masyarakat bersama Pegawai Negeri Sipil (PNS) kembali melakukan aksi demonstrasi ke kantor Bupati, DPRD dan Kejari, Rabu (22/8) untuk menuntut penegakan hukum atas kasus dugaan korupsi Rp3 miliar dengan tersangka Bupati Tobasa St.Drs.Monang Sitorus, SH.MBA.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Pengamatan Waspada di lapangan, seperti biasanya aksi demonstrasi itu berlangsung dengan membawa poster-poster dan spanduk bertuliskan kecaman-kecaman atas tindakan Bupati Tobasa yang sewenang-wenang mengambil uang kas daerah Rp3 miliar dan perbuatan mutasi jabatan tanpa memenuhi prosedur peraturan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sangat disayangkan DPRD Tobasa sebagai lembaga wakil rakyat tidak ada satupun berada di kantornya untuk menerima aksi demonstrasi dalam penyampaian aspirasi atas kinerja eksekutif yang dinilai tidak becus. Keberadaan para anggota DPRD yang menghilang dari kantornya sewaktu aksi demonstrasi menentang kinerja Bupati Tobasa ini sepertinya  ada unsur kesengajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan adanya unsur kesengajaan ini tidaklah hanya tuduhan semata karena sewaktu aksi demonstrasi mendukung kepemimpinan Bupati  Tobasa, Selasa (21/8) nampak hadir para anggota dewan Sabam Simanjuntak, Herbet Sibuea, Vespasianus Panjaitan, Togar Manurung, Parulian Gurning dan Parade Manurung untuk menerima aspirasi mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila Sibarani dalam orasinya mengatakan selain mengambil uang kas daerah Rp3 miliar ternyata kinerja Bupati Tobasa selama kepemimpinannya sama sekali tidak ada program pemerintah yang mengarah untuk kesejahteraan rakyat hanya terlihat untuk kepentingan golongan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti program Askes Tobamas dengan menghabiskan anggaran miliaran rupiah APBD Tobasa namun tetap dikutip uang lagi dari rakyat dengan alasan untuk berobat gratis, kata Sibarani, itu merupakan tindakan pembodohan karena program kesehatan nasional sudah ditetapkan warga negara ekonomi lemah di mana saja gratis untuk berobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah perjalanan kegiatan program Askes Tobamas ini perlu diusut penggunaan anggarannya yang telah menghabiskan anggaran miliaran rupiah kata Sibarani, apalagi dasar hukum pemakaian anggarannya tidak jelas dan terkesan hanya menguntungkan oknum-oknum tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program tanaman jagung itu juga hanya pemborosan anggaran saja apalagi dengan adanya penyiapan dana penyanggah untuk menampung hasil pertanian komoditi jagung hingga mencapai miliaran rupiah."Bagaimana mungkin rakyat bisa menanam dan makan jagung padahal sejak jaman dahulu turun temurun menaman padi dan makan nasi, itu mustahil dapat diubah" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Christian Manurung yang berbaju lengkap PNS mewakili rekan-rekanya dalam berorasi mengatakan, tidak takut dipecat untuk  berjuang membasmi para koruptor yang berada di tubuh Pemkab Tobasa." Selaku PNS saya berhak dan tidak mau mempunyai pemimpin koruptor yang menghabiskan anggaran untuk kepentingan pribadinya saja" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu, pembacaan pancaprasetya Korps PNS dilakukan Christian Manurung untuk memberikan pencerahan bagi rekan-rekannya pegawai agar jangan takut dalam menegakkan kebenaran dan menentang perilaku pimpinan yang dinilai melanggar ketentuan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi situasi Kab. Tobasa, aktivis LSM Rikson Sibuea, putra perantau bermukim di Medan kepada Waspada melalui telepon selular mengatakan hendaknya pihak Poldasu  secepatnya menyelesaikan status hukum Bupati Tobasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-4595560901828540585?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4595560901828540585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4595560901828540585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/08/korupsi-3-milyar-bupati-tobasa-didemo.html' title='Korupsi 3 Milyar, Bupati Tobasa Didemo'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s72-c/bend3.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-3182917878382112891</id><published>2007-07-19T08:47:00.000-07:00</published><updated>2007-07-19T10:02:27.949-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Den Bravo Tangkal Imperialisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/Rp-ZCtmv7rI/AAAAAAAAAGc/AuT1pgflWt0/s1600-h/bravo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/Rp-ZCtmv7rI/AAAAAAAAAGc/AuT1pgflWt0/s400/bravo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088954375832858290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Detasemen Bravo 90 terbilang paling muda. Baru dibentuk secara terbatas di lingkungan Korps Pasukan Khas AU pada 1990, Bravo berarti yang terbaik. Konsep pembentukannya merujuk kepada pemikiran Jenderal Guilio Douchet: Lebih mudah dan lebih efektif menghancurkan kekuatan udara lawan dengan cara menghancurkan pangkalan/instalasi serta alutsistanya di darat daripada harus bertempur di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dasar ini, Bravo 90 diarahkan menjalankan tugas intelijen dalam rangka mendukung operasi udara, menetralisir semua potensi kekuatan udara lawan serta melaksanakan operasi-operasi khusus sesuai kebijakan Panglima TNI. Saat dibentuk, Bravo diperkuat 34 prajurit ­ 1 perwira, 3 bintara, 30 tamtama. Entah kenapa, sejak dibentuk hingga akhir 1990-an, hampir tak pernah terdengar nama Bravo. Dalam masa "vakum" itu, anggotanya dilebur ke dalam Satuan Demonstrasi dan Latihan Depodiklat Paskhas (Satdemolat). Baru pada 9 September 1999, dilaksanakan upacara pengukuhan Detasemen Bravo dengan penyerahan tongkat komando.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prajurit Bravo diambil dari prajurit para-komando terbaik. Setiap angkatan direkrut 5-10 orang. Untuk mengasah kemampuan antiteror, latihan dilakukan di pusat latihan serbuan pesawat GMF Sat-81 Gultor, latihan infiltrasi laut dalam rangkan penyerbuan pangkalan udara lepas pantai di pusat latihan Denjaka, latihan UDT (under water demolition) di sarana latihan Kopaska, serta latihan penjinakan bahan peledak di Pusdikzi Gegana, Polri. Hanya saja diakui KSAU Marsekal TNI Chappy Hakim, persenjataan Bravo sudah sangat tidak memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya sekarang, mungkinkah ketiga satuan ini digabungkan ke dalam satu Satgas? Pertanyaan ini kiranya terpulang ke Pimpinan TNI dan Pemerintah. Hanya saja sebagai gambaran, hampir tidak pernah terdengar ada satgas pasukan khusus (antiteror) di mancanegara. Karena kekhususan kemampuan yang dimiliki masing-masing satuan, mereka lebih dibiarkan berjalan mandiri namun siap digerakkan sewaktu-waktu bila diperlukan baik dalam operasi khusus maupun operasi gabungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-3182917878382112891?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/3182917878382112891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/3182917878382112891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/07/den-bravo-tangkal-imperialisme.html' title='Den Bravo Tangkal Imperialisme'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/Rp-ZCtmv7rI/AAAAAAAAAGc/AuT1pgflWt0/s72-c/bravo.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-1496920413674385145</id><published>2007-03-24T09:19:00.000-07:00</published><updated>2007-03-24T09:20:47.995-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Perampok Emas Bersenjata Dari Tarutung Diadili</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s1600-h/bend3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s200/bend3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5044646594624863074" /&gt;&lt;/a&gt;Perampok Bersenjata Api Kuras Ratusan Juta Rupiah Diadili di Tarutung        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mar 24, 2007 at 09:09 PM  &lt;br /&gt;Tarutung (SIB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perampok emas dan uang kontan  pakai senjata api, sehingga ratusan juta rupiah&lt;br /&gt;milik korban Romianna Br Simamora ludes di Jalan Pahae, Desa Simasom, Tarutung–Taput, disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tarutung dengan terdakwa YSP dan CAB dalam berkas terpisah, Kamis (22/3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) B Nababan SH dikatakan, Selasa 14 Nopember 2006 sekitar pukul 16.00 WIB ketika korban bersama anaknya Henro Gultom pulang seusai berjualan emas  di Pasar Sarulla, dalam perjalanan menuju Tarutung mengenderai mobil L 300 BK 1636 JP dikemudikan Harison Lumbangaol disuatu jembatan di kawasan Sarajevo terdakwa tiba-tiba menyelipkan mobil kijang Krista warna Silver BK 1540 GF sehingga mobil yang ditumpangi korban terhenti mendadak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawanan rampok yang memakai senjata api masuk kedalan mobil yang ditumpangi korban, lalu menodongkan senjata pistol  ke arah korban seraya berkata:  ”Jangan bergerak, buka – buka cepat mana emas mu” dan salah seorang dari kawanan rampok menguasai setir. Sementara  seorang dari perampok berkata : “tembak sekali kakinya  biar ngerti ”.  Sehingga korban ketakutan dan berkata :  “ Ambil kalianpun itu tapi jangan lukai orang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tas korban diambil uang kontan Rp 50 juta dan emas  berupa cincin berbagai bentuk, gelang, kalung berbagai bentuk, rantai serta gelang berbagai model bernilai ratusan juta  disikat. Setelah itu kawanan rampok singgah di rumah Hendrik di Tarutung dan disitu dibagibagikan uang kontan hasil rampokan. Sementara terdakwa CAD meneruskan perjalanan menuju P Siantar, tapi tertangkap di tengah jalan bersama mobil  Krista yang dikemudikannya di Siborongborong oleh petugas kepolisian yang telah menerima informasi tentang kejahatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kejelian petugas Polres Taput dengan strategi yang mantap dari Kapolres Taput AKBP Eko S      terdakwa YSP   tertangkap di Medan. Sehingga kasus perampokan tersebut dapat terungkap. Sementara 5 orang lainnya berinitial PP,RG,MS,MS,LS masih status DPO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan terdakwa diancam hukuman berat 9 tahun sesuai dakwaan tunggal melanggar pasal 365 ayat 2 ke 2 KUHP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada persidangan yang dipimpin Majelis Hakim   Gerhard Pasaribu SH didengarkan keterangan saksi :  Rumianna Br Simamora, Henro Gultom, Harison Gultom dan Hendrik Lumbantobing yang pada pokoknya menerangkan sesuai dakwaan JPU. Guna pemeriksaanselanjutnya, sidang diundurkan seminggu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-1496920413674385145?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/1496920413674385145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/1496920413674385145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/03/perampok-emas-bersenjata-dari-tarutung.html' title='Perampok Emas Bersenjata Dari Tarutung Diadili'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s72-c/bend3.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-703281779677654631</id><published>2007-03-22T00:03:00.000-07:00</published><updated>2007-03-22T00:26:26.890-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Samosir</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s1600-h/bend3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s200/bend3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5044646594624863074" /&gt;&lt;/a&gt;Kabupaten Toba Samosir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI pesisir Danau Toba bagian timur, tepatnya di Dermaga Penyeberangan Ajibata dan Tiga Raja, hilir mudik manusia menggunakan feri dan perahu motor ke Pulau Samosir seolah tanpa henti. Tujuan gelombang manusia ini tak lain adalah Tuk-tuk Siadong dan Tomok, tempat persinggahan favorit turis lokal maupun asing, untuk kemudian mengeksplorasi keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MULAI ramainya turis menggambarkan makin membaiknya kepercayaan mereka-terutama turis asing-untuk kembali datang ke daerah di negara yang masih dipertanyakan keamanannya. Danau Toba dan Pulau Samosir akan tetap memiliki nilai jual wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan setiap sudut Danau Toba, deretan perbukitan hijau Bukit Barisan, dan air terjun yang mempercantiknya, bukan hal baru sebagai obyek wisata andalan Sumatera Utara. Anugerah alam ini dimiliki Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1998 telah memisahkan diri dari kabupaten induk, Tapanuli Utara. Tujuan menjadi daerah otonom tak lain untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah yang sampai sekarang belum mencapai Rp 1 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denyut nadi perekonomian penduduk secara geografis terpetakan di bidang pertanian. Meski dari dulu potensi keindahan alam Toba dan Samosir tak habis-habisnya ditelusuri, dipuji, dan mengangkat pariwisata, namun hal itu tidak mengurangi dominasi usaha pertanian. Ketika krisis ekonomi melanda, tahun 1997, pertanian tetap menjadi gantungan penduduk. Apalagi ketika sektor pariwisata ikut terpuruk. Arus wisatawan yang menurun drastis membuat sepi usaha ikutannya, jasa dan perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi yang terbukti menghidupi penduduk adalah pertanian tanaman pangan. Dari wilayah 344.085 hektar, 24.806 hektar merupakan lahan sawah. Dari lahan ini petani mampu swasembada dan bahkan surplus beras. Produksi padi lebih dari 100.000 ton dengan produktivitas 5,2 ton per hektar. Kelebihan beras ini ikut memasok kebutuhan beras Tapanuli Utara, Sibolga, Dairi, bahkan Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman padi merata di tiap kecamatan. Namun, sentra tanaman padi adalah Kecamatan Porsea, Lumbanjulu, Balige, dan Silaen. Selain beras, produksi jagung, ubi kayu, dan ubi jalar Tobasa juga cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi tanaman di lahan kering juga diunggulkan. Lahan kering yang termanfaatkan untuk tanaman padi gogo, palawija, sayur, dan buah-buahan 71.904 hektar. Masih ada 42.871 hektar yang belum termanfaatkan. Salah satu komoditas unggulan adalah bawang merah di Kecamatan Pangururan dan Sianjur Mula-mula. Pemasarannya lokal kemudian ke tanah Jawa. Bahkan, bibit bawang merah dari dua kecamatan ini tidak saja dimanfaatkan petani setempat, tapi juga dikembangkan petani di Jawa, seperti di Kabupaten Brebes (Jawa Tengah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanian Tobasa tidak hanya tanaman pangan. Perkebunan kopi, kemiri, dan kemenyan, perikanan air tawar, serta usaha ternak ikut menggiatkan perdagangan. Kegiatan industri pengolahan pun ikut terdongkrak. Setidaknya, terdapat 1.907 unit usaha industri kecil rumah tangga yang mengolah hasil pertanian dan kehutanan. Tenaga kerja yang terserap 2.700 orang menghasilkan nilai produksi hingga Rp 5 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain industri berbasis pertanian, industri rumahan di bidang kerajinan ulos, tekstil, kimia, bahan bangunan, dan lainnya turut menjawab kebutuhan penduduk. Jumlahnya sekitar 2.053 unit usaha dengan sekitar 3.700 tenaga kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah industri besar bercokol di sini mengembangkan modal. Sebut saja PT Toba Pulp Lestari, dulunya PT Inti Indorayon Utama yang kontroversial dan kini beroperasi mengolah bubur kertas. Juga ada PT Inalum yang menghasilkan aluminium dan energi listrik yang memanfaatkan air Danau Toba. Kedua perusahaan besar ini berada di Kecamatan Porsea yang juga sentra pertanian Tobasa. Beberapa perusahaan besar lainnya di bidang budi daya ikan nila merah dengan sistem jaring apung dan bidang pariwisata juga turut eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kabupaten yang belum lima tahun dimekarkan, berbagai jenis investasi dibutuhkan guna memacu perkembangan ekonomi daerah. Berbagai potensi dirasakan belum tergarap optimal. Salah satunya, sektor pertambangan yang memiliki potensi tak kalah prospektif. Perut bumi Kabupaten Tobasa mengandung sedikitnya 15 jenis bahan tambang galian golongan C guna keperluan industri, seperti tanah diatomi, kalsium karbonat, kaolin, batu gamping, pasir kuarsa, emas dan perak, marmer, bismut, barite, ziolit, fosfat, guano, hematite, andesit, dan tawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan mendatangkan investor perlu persiapan. Sarana pendukung menjadi faktor magnetik. Misalnya, kehadiran industri pengolahan memerlukan sumber daya listrik memadai. Setelah pasokan listrik dari PLTA Asahan II, kebutuhan listrik juga akan dipenuhi oleh PLTA Asahan I yang akan direalisasikan pembangunannya setelah mendapat persetujuan Presiden Megawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal infrastruktur jalan juga menjadi pertimbangan. Saat ini sekitar 60 persen dari 1.655,3 kilometer jalan kabupaten dalam keadaan rusak dan 792,1 kilometer di antaranya masih merupakan jalan tanah. Pembenahan sarana jalan ini akan menentukan kelancaran jalur pemasaran produksi, selain juga sangat berarti bagi kegiatan pertanian dan pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkait dengan tahun investasi, pemerintah kabupaten optimistis mampu menarik investor asing maupun domestik. Tentunya dengan dukungan stabilitas politik dan keamanan. Kemudahan akan diberikan untuk menarik investor, misalnya mempersilakan perusahaan berjalan lebih dulu, izin usaha bisa dilakukan sambil jalan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-703281779677654631?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/703281779677654631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/703281779677654631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/03/samosir.html' title='Samosir'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ozzVFEFiA08/RgIvWaH_u2I/AAAAAAAAACM/bXWLtWJY8EA/s72-c/bend3.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-4920892574186677226</id><published>2007-03-14T02:39:00.000-07:00</published><updated>2007-03-14T02:54:05.179-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Dakwah Dan Pembangunan Masyarakat</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;28 Feb 07 05:02 WIB&lt;br /&gt;Dakwah, Tanggung Jawab Semua Dan Berkelanjutan&lt;br /&gt;WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh Hj Erma Sujianti Tarigan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan kepedulian terhadap apa yang terjadi di alam jagat raya. Kita ambil saja ajarannya di dalam ayat dan hadist yang menyebutkan tentang "Saling menasihatilah kamu dalam kebenaran," dan "Sampaikanlah walau hanya satu ayat," serta disebutkannya bahwa kita semua merupakan "khalifah (pemimpin) di bumi " ini, dan setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanggungjawaban yang dimintai dari kita adalah tentang apa yang kita lakukan di muka bumi sepanjang umur dan kelak di peradilan akhirat semua tampak nyata, di mana malaikat tidak bisa disuap untuk meringankan dosa-dosa sebab malaikat tidak punya nafsu untuk kemewahan dan kelezatan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah &lt;br /&gt;Sesuai judul, adakah kita pernah berdakwah? Dakwah sebagaimana disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Prof Dr H M Hatta, adalah mengajarkan orang untuk beramar ma'ruf nahi mungkar, mengajak orang kepada kebaikan dan menentang kemungkaran. Dakwah disampaikan dengan bahasa masyarakat setempat agar mudah dimengerti, dan nyambung. Perlu pula menanamkan sikap jihad dalam berdakwah, katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Hatta menyampaikan pendapat serta paparannya dalam acara peluncuran biografi Tuan Guru H Sulaiman Tarigan serta diikuti dengan Dialog Dakwah di Tanah Karo: Dulu, Kini dan Akan Datang, yang digelar di Emerald Garden Hotel, Sabtu (24/2) dengan makalahnya berjudul,"Relevansi Metode Dakwah Tuan Guru H Sulaiman Tarigan Ditinjau Dari Segi Metode Dakwah Modern," juga menghadirkan pembicara Prof Dr Hasyimsyah Nasution, MA., dari IAIN SU tentang "Islam, Adat Karo dan Dakwah Kultural," Drs Baharuddin Pardosi (Kakandepag Kabupaten Karo) tentang "Problematika Dakwah Islam di Tanah Karo-Dulu, Kini dan Nanti," dan Dr Hasan Bakti Nasution, MA., Pengurus MUI Sumut tentang "Peranan MUI dan Ormas Islam dalam Membangun Akselerasi Dakwah Islam di Tanah Karo." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara peluncuran biografi Tuan Guru H Sulaiman Tarigan (karya Drs Azhari Akmal Tarigan, MA/ustaz/dosen IAIN SU) dan diikuti dialog dakwah ini hemat penulis sangat berhasil dan mendapat sambutan yang sangat antusias dari ratusan peserta yang memenuhi ruang tempat acara berlangsung, semangat dan tertib hingga acara usai. Tampak hadir dan memberi sambutan Ketua MUI Sumut Prof Dr H Abdullah Syah, MA., Rektor IAIN SU Prof Dr HM Yasir Nasution, Kakanwil Depag SU Drs H Zainal A Nurdin, tokoh masyarakat Karo/pengusaha Ketua Umum Yayasan Sirajul Huda, H. KP Malik Tarigan, Letjen TNI (Purn) H Arifin Tarigan, SH., serta sejumlah tokoh agama, pendidik, dan kalangan Ormas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnyalah ketokohan seorang H Sulaiman Tarigan khususnya untuk wilayah Tanah Karo sebagai seorang pendakwah tidak bisa dipandang sebelah mata, dan bahkan untuk lingkup lebih luas yakni di jaman perang kemerdekaan beliau juga aktif dengan mendirikan Partai Masyumi di T Karo dan membentuk Lasykar Hizbullah dan Lasykar Sabilillah T Karo yang sebagai komandannya beliau tunjuk adalah Alm. H Abdul Razak Tarigan, yang sebelumnya di jaman pendudukan Jepang sudah terlatih sebagai tentara Heiho. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman yang serba sulit di masa hidupnya 100 tahun yang lalu, seorang pemuda bernama Sulaiman Tarigan putra dari Sibayak Juan Tarigan (pemeluk agama Islam pertama di Tanah Karo), dengan gigih belajar agama ke Kutacane, berguru pada orang Aceh bernama Tgk Muda dan kemudian berdakwah di lingkungannya dengan metode sederhana yakni adat budaya Karo yang dilandasi sistem kekerabatan 'Sangkep Si Telu,' mengajak kaum kerabatnya untuk memeluk Islam secara berbisik-bisik. Dakwah secara kultural yang dilakukannya cukup berhasil membentuk komunitas muslim Karo di kawasan Singalor Lau, Tanah Karo, hingga kini. Beliau juga membangun masjid dan madrasah/pesantren Sirajul Huda yang hingga kini tetap eksis. Terlebih pula beliau berpoligami (memiliki tiga orang istri) sehingga dari segi kuantitas semakin besar dan kekerabatannya semakin meluas. Ternyata poligami, salah satu cara yang sangat efektif dalam berdakwah, bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaderisasi dakwah &lt;br /&gt;Dengan kehidupannya yang sederhana sebagai petani dan guru agama yang kemudian menjadi Kandepag Kabupaten Karo yang pertama, Tuan Guru Sulaiman Tarigan mengirimkan tiga orang keponakannya yang cepat jadi yatim masing-masing Alm. H. Abdul Manaf Tarigan dan H Khairullah Tarigan belajar agama di Kesultanan Langkat, dan satunya lagi Alm. H Abdul Razak Tarigan dikirim ke Masjid Lama (Masjid Bengkok) di Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya merupakan kaderisasi yang beliau lakukan untuk melanjutkan dakwah Islam di Tanah Karo. Kelak di kemudian hari kadernya tersebut H Abdul Manaf Tarigan yang menetap di Jl PWS Medan, menjadi ustaz yang sangat dikenal utamanya di lingkungan masyarakat muslim Karo, H Khairullah Tarigan menetap di Tigabinanga, Kabupaten Karo menjadi ustaz/tuan kadhi dan mantan Ketua MUI Kabupaten Karo, sedang Alm H Abdul Razak Tarigan, sempat jadi guru agama di Kabanjahe, dan kelak aktif sebagai pejuang dan namanya sejajar dengan Jamin Ginting dan Selamat Ginting. Almarhum H Abdul Razak Tarigan beberapa kali menjadi kurir untuk bertemu pahlawan Aceh Daud Beureuh. Bedanya, perjuangannya hanya dengan niat "Lillahi Ta'ala." Kaderisasi da'i di keluarga besar ini terus berlanjut, tercatat seorang ustaz muda H Abdul Azis Tarigan, LC yang sedang mengambil S-2 di IAIN Sumatera Utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proaktif &lt;br /&gt;Dari ketiga hal di atas (alinea pertama) penulis berpendapat bahwa Islam sudah memerintahkan kita untuk selalu, dan setiap hari berdakwah. Berdakwah dalam artian bukanlah dakwah yang terorganisir dengan sistem dan metode tertentu di bawah lembaga tertentu dan dengan dana tertentu pula. Melainkan dilakukan oleh setiap individu muslim/muslimah secara ikhlas atas dasar adanya rasa tanggungjawab terhadap alam semesta ini, rasa tanggungjawab terhadap perubahan dan pergeseran nilai-nilai dari nilai ideal sebagaimana ajaran agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, Islam memiliki ajaran yang dapat membentuk umatnya menjadi manusia yang sangat proaktif dalam beramar ma'ruf nahi mungkar. Peduli terhadap masalah sosial, budaya, politik dan membela tanah air, peduli terhadap lingkungan, serta bersikap proaktif untuk menata alam semesta ini sesuai ajaran Islam. Maka dengan mengimplementasikan ajaran agama Islam itulah nantinya terbukti Islam merupakan rahmat bagi alam semesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Islam memang tidak bisa hanya didiskusikan, dibahas dan diperdebatkan, melainkan kata kuncinya adalah mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dari pengimplementasian Islam sebagai agama damai secara konsisten itulah Islam membawa nuansa kedamaian dan perdamaian. Barangkali masalahnya hari ini adalah betapa semakin jauhnya kita dari nilai-nilai Islam, sehingga jumlah pemeluk agama Islam mengalami penurunan baik di Indonesia, maupun di Tanah Karo sendiri. Di Tanah Karo dakwah sedang mengalami penurunan, seringkali para mualaf tidak mendapat pembinaan secara serius dan berkelanjutan, dengan kata lain setelah dikhitan, mereka ditinggalkan begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menggembirakan justru di Eropa dan Amerika umat Islam mengalami peningkatan setelah peristiwa 11 September. Karenanya seorang ulama Mesir meramalkan, kebangkitan Islam kemungkinan terjadi di Barat, bukan di negara Islam seperti Indonesia yang sedang dirundung musibah beruntun sebab bersifat sangat korup. Ramalan ulama Mesir tersebut memang masuk di akal, sebab ajaran Islam hanya bisa dipahami oleh orang yang cerdas dan berhati lurus sehingga mengimplementasikannya juga benar (tidak disusupi nilai adat istiadat dan nilai-nilai lain), melainkan sesuai Al Quran dan As-Sunnah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggungjawab &lt;br /&gt;Dakwah merupakan tanggungjawab kita semua. Dakwah dapat dilakukan melalui kegiatan atau profesi yang dilakoni setiap hari. Dakwah dapat dilakukan melalui diri sendiri, yakni dengan cara konsisten pada ajaran Islam, tidak bermuka dua, tidak berperilaku munafik (lain kata dengan perbuatan). Di sinilah terbukti Islam merupakan rahmat bagi alam semesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang akan lebih baik dakwah dilakukan secara terorganisir, sistematis dengan metode kultural dan modern, terus menerus berkelanjutan, tidak tergantung dana, namun keadaan keluarga para juru dakwah harus mendapat perhatian. Dakwah yang bertujuan membangun akhlakul karimah bukan kerja ringan, melainkan sangat berat terlebih kita berada di jaman yang kapitalistik dan hedonistik. Hanya iman yang tangguh mampu konsisten beragama dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah wartawati Waspada/moderator pada acara Dialog Dakwah Di T.Karo; Dulu, Kini dan Akan Datang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-4920892574186677226?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4920892574186677226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4920892574186677226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/03/dakwah-dan-pembangunan-masyarakat.html' title='Dakwah Dan Pembangunan Masyarakat'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-5186462613111899289</id><published>2007-03-14T02:27:00.000-07:00</published><updated>2007-03-14T02:37:08.496-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Napak Tilas Perjalanan Sufi Batak</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Parmalim, Tasawuf dan Penjajahan &lt;br /&gt;Parmalim, Tasawuf, Suluk dan Penjajahan Belanda&lt;br /&gt;By. Julkifli Marbun&lt;br /&gt;Dari: humbahas.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasawuf sebagai sebuah fenomena penghayatan agama Islam diperkirakan mulai masuk secara sistematis ke Tanah Batak sejak abad ke-10 M. Walau begitu, eksistensi masyarakat Islam di Tanah Batak telah dimulai sejak dua atau tiga abad sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya makam mahligai bertarikh abad ke-8 M di Barus yang menguatkan keberadaan komunitas Muslim yang mapan di wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa utusan dagang telah melakukan kunjungan ke Barus, Tanah Batak dalam masa Rasulullah SAW, termasuk beberapa personal sahabat dan tabi’in yang melaut. Komunitas-komunitas muslim mulai eksis dan berasimilasi dengan penduduk Batak di masa pemerintahan Khulafa al-Rasyidin (663-661 M). Hubungan dagang semakin mengalami kemapanan dan kemajuan di masa pemerintahan Dinasti Umayyah (661-750 M). Pada era ini diyakini orang-orang Batak Islam masih menganut agama yang benar-benar dipraktekkan oleh para sahabat dan tabiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau nilai-nilai sufisme sama umurnya dengan lahirnya agama Islam itu sendiri, diperkirakan sufisme dalam bentuk pengetahuan yang mandiri baru mulai dimasyarakatkan pada masa-masa Abu Mansyur al-Hallaj (w. 922 M), seorang sufi besar dari Baghdad, yang kemudian diikuti oleh sufi-sufi besar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka merintis pengembangan ajaran yang berisi tingkatan-tingkatan, maqamat, berikut metode-metode pencapaian spiritual sebagai upaya untuk menemukan hakikat ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui jaringan pedagang, pelaut, ilmuwan-ilmuwan dan para musafir yang lalu lalang antara Timur Tengah ke timur sampai Cina dan ke barat serta selatan menuju beberapa pusat perdagangan di Afrika, ajaran tasawuf mulai dikenal oleh masyarakat Islam di berbagai belahan dunia. Barus yang saat itu merupakan destinasi dan pusat perdagangan yang aktif, bersama Lamuri, Pidie dan Pasai serta kota-kota kerajaan penting di Nusantara di masa yang sama juga merasakan imbasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runtuhnya sistem kekhalifahan di Baghdad mendorong desentralisasi pengembangan ilmu pengatahuan di dunia Islam. Umat Islam terpecah dalam kotak-kotak kekhalifahan, kesultanan dan kerajaan yang beragam. Akibatnya, kemandirian dan kematangan tasawuf bersama dengan ilmu pengetahuan lainnya mengalami kemapanan di beberapa pusat kebudayaan Islam di dunia, tidak hanya bersumber dari Baghdad. Di beberapa kerajaan dan kesultanan baru Islam di belahan dunia, termasuk Nusantara, tasawuf sebagai bagian dari ilmu pengetahuan mengalami pengembangan yang sangat pesat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil beberapa pemahaman tasawuf mengalami percabangan yang sangat variatif jumlahnya. Di antarannya adalah Tarekat Qadiriyah di Baghdad yang didirikan oleh Syeikh Muhyiddin Abdul Qadir al-Jailani (w. 1166 M), Tarekat Rifa’iyah di Asia Barat yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Rifai (w. 1182 M), Tarekat Sadziliyah di Maroko yang didirikan oleh Syeikh Nuruddin Ahmad ibn Abdullah al-Syadzily (w.1228 M), Tarekat Badawiyah di Mesir yang erat hubungannya dengan Syeikh Ahmad Badawi (w.1276 M), dan Tarekat Naqhsabandiyah di Aria Tengah yang didirikan oleh Syeikh Muhammad Baha’uddin al-Naqhsabandiyah (w. 1317 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah Batak, tidak banyak informasi yang didapat mengenai siapa tokoh yang paling berperan dalam mengembangkan tasawuf atau sufisme secara sistematis. Namun beberapa tokoh Batak yang diperkirakan ikut serta dalam mensosialisasikannnya adalah Syeikh Rukunuddin yang makamnya berada di kompleks makam mahligai, Barus-arah barat dari Danau Toba, bertarikh abad ke-8 M dan Tongku Malim Lemleman di abad ke-10 di Portibi, sebuah kerajaan kuno Batak di arah selatan Danau Toba. Sumbangsih mereka dalam sufisme tidak dapat dirinci secara detail karena belum ada riset mengenai biografi kedua tokoh tersebut. Semua informasi hanya didapat dari memori kolektif masyarakat dalam bentuk legenda dan beberapa bukti arkeologi dalam bentuk makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu hal yang perlu dicatat di sini adalah adanya faktor ketidaksengajaan dalam penyebarannya di Tanah Batak. Pertama dibawa oleh para kaum pedagang, musafir dan pengelana ilmu dan yang kedua tasawuf mengalami pengembangan dan perkembangbiakan akibat krisis politik di Baghdad. Maju mundurnya pengamalan tasawuf di Tanah Batak juga sangat dipengaruhi oleh iklim politik regional saat itu. Islam sebagai sebuah ajaran mengalami tekanan dari kalangan Buddha yang diback-up oleh Cina di masa pemerintahan Dinasti Tang (730 M). Orang-orang Cina merasa terancam karena kerajaan-kerajaan Nusantara mulai menguasai jalur perdagangan dan memeluk agama Islam seperti Sri Maharaja Sri Indra Warman, Raja Sriwijaya di Jambi pada tahun 718 M dan Raja Kalingga di Jepara yang bernama Raja Jaya Sinna di zaman yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Batak Islam mulai bergelut dengan masalah sendiri untuk mengembangkan Islam dengan metode mereka sendiri. Mereka berusaha melawan keterisolasian akibat krisis politik internasional saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orang-orang Mesir dari Dinasti Fathimiyah (978-1168 M) mulai mengirim bantuan dan dukungan militer terhadap kesultanan-kesultanan pribumi di Sumatera barulah perkembangan ilmu pengetahuan di Tanah Batak mulai bernafas kembali. Pasukan angkatan laut dan marinir Mesir ini menguasai kembali jalur-jalur perdagangan ke Sumatera yang mencakup Gujarat sehingga para musafir dan haji-haji dari Tanah Batak dapat melakukan kunjungan-kunjungan ke pusat-pusat ilmu pengetahuan di Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh dari masuknya orang-orang Mesir ke Sumatera, yang juga mencakup Tanah Batak ini, adalah masuknya beberapa tarekat yang sama sekali baru dikenal di Sumatera. Salah satunya adalah Tarekat Badawiyah yang tidak diketahui pasti apakah tarekat ini mendapat anggota atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat krisis politik melanda Mesir dengan tumbangnya Dinasti Fathimiyah di tangan Dinasti Ayyubiah dengan pendiri Sultan Salahuddin pada tahun 1168 M, faham tasawuf diperkirakan semakin menancap dalam sistem adat, politik dan sosial pribumi di Sumatera. Orang-orang Mesir di Sumatera semakin leluasa untuk mengembangkan ajaran ini dan sekaligus mendirikan Kesultanan-kesultanan baru yang madiri dari kepemimpinan Mesir seperti Kesultanan Perlak pada tahun 1168 M. Para saudagar, musafir dan ilmuwan mesir ini dengan leluasa menguasai semua pusat-pusat perdagangan di Sumatera yang berakibat kepada makin banyaknya pribumi Sumatera mengenal ajaran tarekat mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1191 M, komunitas Muslim di Kampung Minangkabau, Jambi mulai mengalami tekanan politik dari Tentara Darmasyara yang Buddha. Mereka, dengan pimpinan Panglima Zulfiqar Al-Kamil, mantan panglima Dinasti Fathimiyah di Sumatera menyelamatkan para muslim dan mengungsikannya ke Kampar. Di zaman inilah, 1191 M, dikenal seorang ulama sufi terkenal yang bernama Syeikh Burhanuddin Ulakan yang murid-muridnya menyebar ke segala penjuru Nusantara dan menguasai peta pendidikan dan organisasi tasawuf di Sumatera. Pengaruhnya diyakini mendapat pengikut yang sangat antusias di kalangan masyarakat Batak di Tanah Batak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Burhanuddin Ulakan yang diperkirakan meninggal tahun 610 H ini secara turun temurun menjadi imam para sufi di Sumatera sampai kepada generasi Syeikh Burhanuddin Ulakan Pariaman yang wafat pada tahun 1691 M. Orang-orang Batak yang paling dipengaruhi oleh paham mereka ini adalah orang-orang Batak di pesisir Barat (Natal, Singkuang, Barus, Singkil dan Sibolga) dan Timur Sumatera, orang Mandailing dan Toba. Khusus di daerah Toba, istilah yang paling lazim yang diambil dan diadopsi menjadi kata Batak adalah kata malim dan parmalim yang telah lama digunakan oleh para pengikut Syeikh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, di tanah Batak pada zaman ini, tidak dikenal ada sebuah aliran yang yang sangat dominan. Diperkirakan hal itu terjadi karena perubahan konstelasi politik yang sangat konstan. Belum lagi sebuah faham tertanam kuat, sebuah aliran lain yang berwarna syafii mulai berkembang di Tanah Batak saat Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir pada tahun 1252 M. Hal itu diperparah dengan masuknya bentuk-bentuk lain dari pusat-pusat peradaban dan politik Islam seperti Persia, Maroko, Gujarat dan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paska hegemoni mazhab syiah dan sunni yang syafii, bersamaam pula muncul tokoh-tokoh Batak yang mempunyai faham yang berbeda seperti Abdul Rauf Fansuri dari Fansur Barus, Tanah Batak, yang disinyalir membawa ajaran Ibadiyah dan Abdulrauf Sungkily dari Singkel yang syafi’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah Fansuri yang kemudian dikenal sebagai pentolan wahdatul ujud di Tanah Batak mendapat banyak kritikan dari ulama-ulama Aceh seperti Nuruddin al-Raniry. Akibat dari pertentangan ini semua adalah bahwa ajaran Islam yang di dalamnya sufisme mengalami kemandekan yang berakibat kepada melambatnya pengajaran Islam kepada para kaum animisme di perbukitan yang terisolir. Komunitas-komunitas yang animis dan terisolir itu akhirnya hanya mendapat informasi mengenai sufisme dari mulut-ke mulut melalui para pedagang Batak yang mengitari setiap huta untuk berdagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufisme kemudian hanya dikenal sepenggal-penggal dan mengalami sinkretisasi di dalam adat dan budaya Batak. Pengaruh sufisme tersebut masih tercermin dalam ritual-ritual dan tabas-tabas yang berfungsi sebagai kekuatan-kekuatan magis yang sangat diminati masyarakat Batak saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufisme, tidak hanya di Tanah Batak tapi di seluruh dunia kemudian mengalami evolusi yang kemudian bersentuhan dengan politik praktis. Munculnya Dinasti Murabithun (1056-1147 M), Muwahhidun (1130-1269 M) di Spanyol dan Dinasti Safawiyah (1501-1732 M) di Persia merupakan realitas kehidupan sosial politik kaum sufi yang lebih nyata dalam membina, memelihara dan mengayomi masyarakat dan ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan selanjutnya di abad ke-15 M sampai 18 M, di Sumatera bermunculan tarekat baru yang semuanya bermula dari hubungan dagang yang intens antara pribumi dengan dunia luar. Di antaranta Bektasyiah dari Turki, Khalwatiyah dari Persia, Sanusiyah dari Libya, Syattariah dari India dan Tijaniyah dari Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dikatakan bahwa di tanah Batak, walau dimasuki oleh beberapa faham tarekat tasawuf, tidak ada tarekat yang dominan, namun sebuah tarekat yang mempunyai akar yang sangat kuat sampai sekarang adalah tarekat Syattariyah. Tarekat ini bahkan menancap kuat dan sampai abad ke-21 beberapa komunitas muslim Batak masih mempraktekkannya dengan atau tanpa tahu bahwa hal tersebut merupakan bagian dari ajaran syattariyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat-pusat pengembangan syattariah adalah Barus, Sibolga, Singkuang dan Natal. Di tempat-tempat inilah ajaran tersebut mengalami pribumiisasi sebelum akhirnya menyebar ke pelosok dan pedalaman Tanah Batak yang terisolir oleh tangan-tangan para paronan. Daerah Natal, di Tapanuli Selatan, dengan eksistensi ulama-ulama lokalnya bahkan melahirkan ‘mazhab’ baru dalam sufi yang kemudian di kenal dengan mazhab Natal yang berkembang di abad ke-18. Para ulama-ulama lokal di Tanah Batak kemudian mendirikan pusat-pusat pendidikan yang baru di berbagai wilayah Tanah Batak yang benar-benar diawaki oleh orang Batak seperti yang ada di Huta Pungkut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya Belanda dengan penjajahannya membawa kemelaratan dan kemunduran peradaban di Tanah Batak. Sufisme di Tanah Batak yang terwujud dalam organisasi-organisasi peribadatan suluk maupun dalam bentuk sinkretisme seperti parmalim, parhudamdam dan parsitekka yang dikenal dengan istilah mereka pitu hali malim pitu hali solam yang berarti tujuh kali suci dan tujuh kali keramat (Malim dari kata Muallim dan Solam dari kata Islam), sebuah istilah yang ditujukan kepada orang-orang Batak yang suci dan dianggap keramat, bangkit dan berada di garis depan dalam menentang para penjajah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda dengan politik devide et impera dan eksploitasi tanpa prikemanusiaan menerapkan beberapa ordonansi yang berakibat kepada primitivisasi orang-orang Batak. Perbudakan digalakkan dengan ordonansi tahun 1808 dan disamarkan oleh pemerintah penjajah Belanda pada tahun 1856 dengan istilah kerja paksa. Antara tahun 1830-1870-an, penjajah memberlakukan pajak tanaman dan pencabutan hak atas tanah petani yang tak sanggup membayar pajaknya. Semua orang menjadi budak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 1882, tiap-tiap kepala pribumi dikenakan pajak satu Gulden, apabila ia tidak sanggup bekerja di perkebunan-perkebunan para penjajah. Selain mengeksploitasi penduduk secara ekonomi, pihak penjajah juga menghancurkan sistem dan tatanan sosial orang-orang Batak. Orang Batak semakin melarat sementara Amsterdam dan Rotterdam semakin makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1849 Asisten Residen Mandailing Ankola, tangan penjajah di daerah, berusaha membasmi orang-orang Batak yang Islam, sesuai dengan misi Devide et Impera dengan menerapkan gagasan untuk memisahkan orang-orang Batak yang sudah Islam dengan mengkristenkan orang-orang Batak pelebegu. A.P. Godon yang sudah pensiun sejak tahun 1857 menyatakan dalam suatu diskusi: "Dalam laporan umum tahun 1849 selaku Asisten Residen Mandailing Angkola, saya menyatakan bahwa guru agama Kristen pada saat itu masih bisa bekerja dengan dengan baik. Saya sarankan agar antara suku Melayu-Batak Islam dan Batak harus dipisahkan dengan jelas. Metode yang paling baik adalah menyeru orang-orang Batak pelebegu agar masuk Kristen." (Lihat O.J.H. Graaf van Limburg Stirum, hal. 126).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penculikan dan pengusiran terhadap para tokoh masyarakat dan pengajar serta haji-haji orang Batak juga diterapkan melalui Beslit Rahasia Gubernur Jenderal No. 1,3 Juni 1889. Orang-orang marga Hutagalung dan Sitompul di Silindung merupakan kelompok masyarakat Batak Islam yang paling banyak diusir dari tanah leluhur mereka, di samping kelompok marga lain di beberapa wilayah Batak, karena mereka banyak yang sudah haji (lihat: Beslit Rahasia Gubernur Jenderal No. 1,3 Juni 1889).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi-organisasi suluk dan tasawuf Batak semakin meningkatkan perlawanan mereka terhadap penindasan para penjajah ini. Namun sayang kekuatan mereka tidak sebanding dengan hegemoni penjajah Belanda yang justru didukung oleh para pribumi Nusantara yang menjadi tentara bayaran. Para sultan-sultan Batak di Barus, Sibolga, Sorkam dan Singkil dikebiri dan hak-hak mereka sebagai sultan dihapuskan secara paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang residen penjajah di Tapanuli bernama Westenberg dan Barth merupakan sedikit contoh tokoh yang benar-benar mempraktekkan pembasmian orang-orang Batak yang Islam, bahkan Westenberg, secara politik, memberi contoh memecat kepala desa yang masuk Islam. Pemerintah penjajahan Belanda menyetujui hal itu karena sesuai dengan jiwa beslit rahasia 1889 tersebut. (M. C. Jongeling, Het Zendingconsulaat in Nederlands Indie, 1906-1942, (Arnheim, 1966) Hal. 112). Namun dukungan penjajah seperti ini tidak mampu menghentikan kekuatan pribumi yang anti-penjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1903, Kepala Kampung Janji Angkola, Aman Jahara Sitompul, yang telah menjadi Kepala Kampung selama 23 tahun, masuk Islam berkat anaknya Syeikh H. Ibrahim Sitompul. Akibatnya Aman Jahara Sitompul diberhentikan sebagai Kepala Kampung atas dasar beslit rahasia 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh H Ibrahim melakukan perlawanan dan melakukan aksi politik dengan menayakannya kepada Dr. Hazeu, Adviseur voor Islandsche zaken. Alih-alih mendapat tanggapan, laporannya baru resmi diterima enam tahun kemudian, yaitu pada tahun 1909. Dr. Hazeu berusaha melakukan himbauan kepada kekuatan penjajah yang ditolak mentah-mentah oleh Residen Westenberg dengan penegasan sekali lagi bahwa pegawainya telah melaksanakan kebijakan yang digariskan pada tahun 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Residen Westenberg kemudian dipertegas oleh rezim penjajah dengan pernyataan Frijling, Penasehat Urusan Luar Jawa, untuk menerapkan kebijakan rahasia tersebut apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak pada tahun 1903, Janji Angkola Pabea Sitompul, saudara Syeikh Ibrahim Sitompul, berusaha keras untuk mengembalikan kehormatan ayahnya. Namun kali ini tanggapan keras datang dari pihak penjajah. Dia terbentur tembok dengan adanya surat keputusan dari pimpinan tertinggi penjajah di Indonesia yakni keputusan Gubernur Jenderal Penjajah tanggal 5 Juni 1919 yang tidak mengabulkan pengaduan tersebut. (Lihat; "Christelijke Zending en Islam in Indonesia", dalam Koleksi GAJ. Hazeu, No. 42, KITLV, Leiden. Bandingkan dengan Lance Castles, The Political Life of Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940, disertasi, Yale University, 1972, Hal. 91-93.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pada bulan Maret 1919, di Janji Angkola diadakan pemilihan kepala kampung baru. Sekalipun jumlah warga Batak yang beragama Kristen sebanyak 400 orang, sedang warga Batak yang muslim hanya 60 orang, namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul yang menang dalam pemilihan tersebut. Tapi Kontrolir Silindung Heringa menyarankan agar residen mengangkat Aristarous, bukan Syeikh Ibrahim Sitompul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Residen Vorstman sadar dengan instruksi rahasia 1889, kemudian mengadakan pemilihan ulang, dengan harapan pihak Batak Islam akan tersudut. Namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul tetap keluar sebagai pemenang, dengan suara 218 lawan 204. Residen Vorstman tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kekuatan anti-penjajahan kali ini berhasil unjuk gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu hubungan perdagangan antara daerah Singkel dan Dairi juga diputus dengan alasan Devide et Impera. Dengan demikian orang-orang Batak di tanah Batak pusat akan terisolir dan mudah untuk ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asisten Residen Bataklanden dan Residen Tapanuli kemudian melakukan langkah dengan memisahkan orang-orang Batak di Singkel dengan Dairi. Hubungan lalu lintas antara Singkel dan Dairi pun diputus. Raja Batu-batu, seorang Raja Batak Singkel, yang kebetulan seorang muslim dilarang untuk mendatangi rakyatnya di Dairi. (Surat Residen Tapanuli Westenberg ke Gubernur Jenderal tanggal 9 Oktober 1909, dalam Koleksi G.A.J Hazeu). Bahkan sejak tahun 1910 para pedagang Batak Singkel dilarang tinggal di daerah Batak, maksudnya Keresidenan Tapanuli, lebih dari 24 jam. (Nota Lulofs 11 Juli 1915, dalam Lance Castle, Hal 94)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha penjajah Belanda untuk mengkotak-kotakkan orang Batak dalam agama dan teritori agar mudah dijajah juga dilakukan di Silindung. Pada tahun 1915, Lulofs memberikan instruksi sektarian kepada bawahannya agar dibuat batas baru di sebelah utara Janji Angkola, dan politik anti-Islam hanya boleh dilaksanakan di sebelah utara desa tersebut. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 16 Mei 1916, Lulofs menjelaskan bahwa dengan adanya garis pemisah, maka bisa diadakan tindakan tegas dalam daerah tertutup. Misalnya dengan menggunakan Ordonansi Guru 1905 untuk menghindari pendidikan Islam di daerah tersebut. Ordonansi Guru ini memungkinkan penjajah dapat memburu, mengusir dan mengasingkan guru-guru Batak Islam yang termasuk para haji-haji dari kalangan Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pihak zending menentang instruksi- yang dinilai terlalu menguntungkan Islam- ini. Dan menyatakan keheranannya mengapa sikap seorang pegawai demikian simpati kepada Islam. Karena menurut mereka di daerah ini terdapat 15.000 orang Kristen, 3000 orang Batak Islam dan masih banyak animis yang akan diserahkan kepada nabi palsu. (Lihat surat Lulofs kepada Direktur BB tanggal 16 Mei 1916).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap pemisahan daerah Islam-Kristen semacam ini Hazeu tidak setuju, karena dia tidak membenarkan terjadinya pengusiran seseorang dari daerah tertutup. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 29 Desember 1916, Hazeu menyatakan, "Saya memperingatkan dengan keras bahwa Ordonansi Guru tidak boleh digunakan untuk tujuan mengusir haji sebagaimana dibenarkan oleh tuan Lulofs" (Koleksi G.A.J.). Namun, pengusiran dan pemburuan tersebut tetap saja terjadi di tanah Batak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka menghalangi gerak pedagang Batak Islam yang sejak abad 15 telah eksis dan menjadi tulang punggung perekonomian tanah Batak, khususnya dari marga Hutagalung, Hasibuan, Pasaribu dan Marpaung serta marga-marga lainnya, Asisten Residen Fraser mengusulkan dibentuknya koperasi antar sesama orang Batak yang tidak menentang kehadiran penjajah saat itu, di samping menganjurkan agar peternakan babi digalakkan di sana. Saran semacam ini pernah dikemukakan pula oleh seorang tokoh Lembaga Bijbel pertengahan abad lalu, yang ditujukan kepada propagandis Kristen di tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah H.N. vander Tuuk yang pada tahun 1851 sampai tahun 1857 menetap di tanah Batak sebagai petugas dari Lembaga Bijbel. Ia memberikan beberapa saran, bagaimana seharusnya petugas Kristen bersikap di tanah Batak, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Harus disebut Guru, bukan pendeta atau paderi; karena istilah pendeta kurang disukai, baik orang Eropa maupun orang Batak.&lt;br /&gt;2. Harus kawin dengan wanita Eropa, karena pembicaraan antara wanita lebih intim dan seorang wanita lebih berpengaruh daripada pendeta biasa.&lt;br /&gt;3. Harus mendapat gaji yang baik, lebih tinggi dari gaji pegawai pemerintah.&lt;br /&gt;4. Harus berpakaian seperti biasa, tidak memakai jas hitam pendeta.&lt;br /&gt;5. Harus bisa menerima gaji dengan mudah, tanpa dipotong dua setengah persen.&lt;br /&gt;6. Langsung masuk daerah Batak, tidak perlu lama-lama menunggu di Padang agar cepat bisa berbahasa Batak.&lt;br /&gt;7. Harus tinggal jauh dari orang Eropa, karena mereka pada umumnya tidak akrab dengan pribumi.&lt;br /&gt;8. Dalam taraf permulaan hanya omong-omong, secepat mungkin mengajar agar bisa cepat belajar bahasa pribumi. Hanya mengajar kalau diminta oleh mereka.&lt;br /&gt;9. Bersama murid-murid sekolah, harus membaca cerita Batak, baru kemudian membacakan Bijbel. &lt;br /&gt;10. Harus bergaul akrab dengan orang Batak, tapi jangan meminjam uang.&lt;br /&gt;11. Hendaknya tidak menerima hadiah, karena dia harus memberikan hadiah.&lt;br /&gt;12. Hendaknya tidak menghina orang Islam, tapi harus menunjukkan orang kafir sama baiknya dengan orang Islam.&lt;br /&gt;13. Andaikata mengetahui ilmu teknik, harus mengajarkan ilmu tersebut hanya kepada orang bukan Islam.&lt;br /&gt;14. Sebagai peternak harus memelihara babi.&lt;br /&gt;15. Andaikata mempunyai anak, harus hati-hati agar mereka tidak menghina pribumi.&lt;br /&gt;16. Dalam pelaksanaan vaksinasi hendaknya jauh dari pengawasan pegawai, Karena semua pegawai yang beragama Islam, biasa mengucapkan: "Jangan makan babi lagi" setelah memberikan suatu suntikan.&lt;br /&gt;17. Hendaknya tidak menggunakan pemadat sebagai pembantu atau murid.&lt;br /&gt;18. Andaikata memiliki toko, dia tidak hanya akan mendapatkan banyak uang, tapi juga pengaruh yang cukup besar.&lt;br /&gt;Sumber Lihat: R. Nieuwenhuys, H.N. van Der Tuuk: De, Pen in Gal Gedoopt, (Amsterdam, 1962) hal: 81-84.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1919, pihak zending mengeluarkan brosur dalam dialek Angkola berjudul Ulang Hamu Lilu (jangan sesat), untuk memperkenalkan Islam secara negatif kepada orang Kristen Batak, berdasarkan buku-buku Gottfried Simons yang biasa menentang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gottfried Simons adalah seorang zendeling Jerman yang pernah bertugas di Sumatera dari tahun 1896 sampai tahun 1907, dikirim oleh RMG (Rheinische Mission Gesellschaft). Karyanya antara lain; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Islam und Christentum im kampf um die Eroberung der animimistischen Heidenwelt, beobachtungen aus der Mohammedaner-Mission in Biederlandisch-Indiesn, (Berlin 1910); (Islam dan Kristen dalam Perjuangan di dunia Animis; Tinjauan zending terhadap orang Islam di Hindia Belanda).&lt;br /&gt;2. Unter den Muhammedanern Sumatras, (Berlin, 1926).&lt;br /&gt;3. Reformbewegungen in Islam (Artikel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat brosur tersebut yang menurut Hazeu penuh dengan kebohongan dan kepalsuan tersebut, timbullah kehebohan, sehingga untuk mengatasinya brosur tersebut segera disita oleh kontrolir dari rumah zendeling Jerman, Ameler, di Bungabondar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asisten Residen bermaksud memanggil pihak zending ke pengadilan, tapi Jaksa Agung di Batavia melarangnya. Kemudian pusat Zending di Tarutung meminta agar brosur yang disita itu dikembalikan secara resmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 12 Juli 1919 brosur tersebut akan dikembalikan dan pihak zending mengumumkan hal itu sebelumnya, meskipun sudah diminta untuk merahasiakannya. Akibatnya timbul kehebohan sehingga zendeling Ameler meminta agar kontrolir tidak jadi datang, karena sudah memancing perhatian pelbagai organisasi beribadatan suluk di Tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brosur seharga f.0,15 per buah itu bisa laku f.2,-, (Lance Castle, Hal 110-112). Selama ini harapan demikian tinggi untuk bisa mengikis pengaruh Islam dari tanah Batak dengan jalan mempercepat kristenisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan semacam ini didasarkan atas kepercayaan berlebihan tentang superioritas Kristen atas Islam dan dugaan bahwa agama Islam yang sinkretis di negeri ini (seperti parmalim dan agama kepercayaan Batak lainnya yang mirip dengan Islam sedikit atau banyak) akan mudah dikristenkan. Banyak orang Belanda terutama pada abad ke-19 yang berpengharapan demikian (Lihat A. Retif, "Aspect Religiux de l'Indonesie", dalam Etudes, 1945, hal 371-381; Harry J. Benda, "The Crescent and the Rising Sun", op cit., hal. 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjuangan kemerdekaan dan pergumulan antara orang Batak dengan penjajah Belanda di tanah Batak ini nampaklah kesan bahwa di satu pihak agama Islam berkembang dengan segala kesederhanaannya, sedang di pihak lain agama Kristen dengan segala kelebihannya ditunjang oleh para pejabat dan pegawai kolonial pada umumnya. (Aqib Suminto; Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat berkembangnya Kristen di daerah ini jelas bukan semata-mata karena "gereja-gereja di sana memiliki semangat missioner yang besar" seperti pendapat Dr. F. Ukur yang menyatakan bahwa satu ciri gereja-gereja di Sumatera adalah memiliki semangat missioner yang besar, sehingga dapat berkembang cepat dalam waktu yang relatif singkat. Lihat: Walter Lempp, Benih Yang Tumbuh, XII (Jakarta, 1976), hal. 110.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan tahunannya 1906/1907, Konsul Zending mengakui bahwa pemerintah penjajahan Belanda sering mendukung aktivitas Kristen; bahkan kadang-kadang pemerintah meminta kepada zending agar mereka membuka cabangnya di suatu tempat, seperti di Simalungun tahun 1904 dan Pakpaklanden tahun 1906, dua daerah yang sudah banyak menganut agama Islam selain animisme. Lihat Laporan ke-25 Algemeene Nederlandse Zendingsconferentie, 1911, Hal. 80, tentang "De prediking des zendelings aan de Mohammedanen" atau lihat M.C.Jongeling, op cit., hal 110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya memang perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiosis yag paling menunjang. Lihat: H. Kraemer, "De Zending en Nederlands Indie", dalam H. Baudet, &amp; I.J. Brugmans, op.cit., hal 294.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu zending Kristen dianggap sebagai faktor penting dalam proses penjajahan, walaupun tujuan zending hanya rohani. Semua yang menguntungkan pihak Batak yang Islam di Hindia Belanda berarti merugikan bagi kekuasaan moril pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Lihat, Alb. C. Kruyt, "De Inlandsche Staat en de Zending", dalam Indisch Genootschap, 23 Oktober 1906, hal 98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbiosis ini nampak jelas di tanah Batak. Seorang haji Batak asal Pangaribuan dilaporkan datang ke Huta Lumban. Ketika enam orang Batak pelebegu berkomunikasi dengannya dan menyatakan keinginannya masuk Islam dan zending Muller tidak berhasil memurtadkannya kembali, Residen Tapanuli memanggil keenam orang tersebut, tetapi mereka tetap tidak mau keluar dari Islam meskipun diancam akan dibuang. Lihat Buku Harian zendeling Muller di Toba, Juni 1916. Catatan buku harian tersebut dikutip oleh Residen Tapanuli dalam suratnya kepada pimpinan tertinggi penjajah Gubernur Jenderal tanggal 22 Juli 1916 No. 246 (Koleksi G.A.J Hazeu, op cit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilaporkan pula, adanya lima orang Batak Islam, yang menerima kesaksian syahadat para Batak pelebegu, yang dihukum. Dikatakan, berdasarkan beslit rahasia 3 Juni 1889 tersebut hal ini memang tidak bisa dibenarkan. Sebuah beslit yang berusaha menghilangkan Islam sebagai elemen anti-penjajahan dari tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dituduh telah menyebarkan agama Islam dan dihukum dengan hukuman satu bulan, karena tidak menaati peraturan pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Lihat: Surat asisten Residen Bataklanden Fraser ke Residen Tapanuli, 16 Juli 1916. Gubernur Jenderal lebih keras dengan memerintahkan penghentian apa yang disebutnya propagandis Islam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani Batak di Sipakpaki Sibolga ada yang dikenakan kerja paksa sebulan, karena menerima syahadat Islamnya beberapa orang di Huta Husor. Penduduk Huta Husor bernama Hurlang dikenai hukuman tiga bulan, karena menyediakan rumahnya untuk acara tersebut. Lihat, Laporan penelitian anggota Desan Penasehat Hindia Belanda tahun 1917. (Lihat Lance Castle, op cit., hal 101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi masalah sosial yang timbul, sikap para pejabat penjajah Belanda nampak jelas memihak zending. Residen Tapanuli mengakui bahwa sikap netral di bidang agama akan berakibat gagal totalnya zending di daerah ini. Sebaliknya kemengangan kristen pasti terwujud, bila dibantu sepenuhnya oleh pemerintah Hindia Belanda. (Lihat: Surat Residen Tapanuli kepada Gubernur Jenderal Van Heutsz tanggal 31 Maret 1909. Ia menyatakan; Kita boleh memilih antara netral seratus persen terhadap agama dengan hasil pasti menurut matematika bahwa pekerjaan zending akan gagal total, dan lambat atau cepat seluruh daerah Batak akan masuk Islam. Atau membantu sepenuhnya kepada zending untuk menghindari propaganda Islam di daerah Batak. Dengan demikian kemenangan Kristen di daerah ini pasti terwujud. Andaikata pemerintah bersikap netral, akan berakibat seperti di daerah padang Sidempuan. Walaupun zending di sana cukup rajin di antara penduduk yang waktu itu masih pelebegu namun Islam ternyata menang di Mandailing, Angkola dan sebagian besar Sipirok. Justru pegawai-pegawai kita memegang politik nonintervensi (Koleksi G.A.J Hazeu, op. cit,. Hal 102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Jenderal kemudian memerintahkan agar pegawai pemerintah penjajah Belanda, kapanpun dan dimanapun tidak memihak penduduk muslim; sebaliknya secara moril harus membantu dan mendukung zending. Sementara itu, peraturan rahasia itu ditambah lagi dengan satu artikel yang berbunyi; "Orang Kristren (yakni pribumi sebagai objek yang dijajah) tidak harus melakukan kerja paksa pada hari Minggu." Lihat: M.C. Jongeling, op cit., hal 114-115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Sosial Politik Para Sufi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sufi Batak sangat berperan penting dalam membangunan sosial dan adat di Tanah Batak. Pengaruh mereka tidak hanya dapat dilihat dari geneologi parmalim dan tabas-tabas para tabib Batak tapi juga secara pembangunan ekonomi dan ilmu pengatahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sufi dan ahli suluk yang memakai tongkat atau tungko yang khas tersebut selalu mengadakan perjalanan dan musafir ritual dari sebuah pusat peribadatan suluk ke yang lain di Tanah Batak. Selama perjalanan yang melewati beberapa huta tersebut mereka berhenti dan mendirikan musholla-musholla kecil yang pada akhirnya banyak dimanfaatkan oleh para paronan untuk berteduh dan bertransaksi antar sesamanya dan oleh para pengelana-pengelana tradisional Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musholla-musholla tersebut akhirnya menjadi partungkoan dan pusat-pusat perdagangan baru yang ramai dikunjungi oleh penduduk setempat. Para sufi-sufi pengelana tersebut banyak juga berperan dalam membangun infrastruktur di beberapa huta. Untuk memenuhi kebutuhan berwudhu mereka akan mencarikan mata air dan membangunkan pancuran yang permanen yang memudahkan para sufi untuk mandi dan berwudhu. Fasilitas tersebut akhirnya malah lebih banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat saat budaya untuk mandi lama-kelamaan mulai dipraktekkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pancur Hauagong di Pakkat, misalnya masih terdapat sebuah batu yang sudah disemen yang fungsinya sebagai tempat persalinan para malim atau sufi dalam perjalanan. Tempat persalinan ini selain untuk tempat ganti pakaian saat mandi juga berfungsi untuk melakukan sholat-sholat sunnah karena ada sebuah garis kotak persegi panjang yang berfungsi untuk batas-batas suci sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persalinan ini sekarang masih digunakan tapi sudah tidak ada sufi yang mengunjungi termpat ini lagi. Diperkirakan di seluruh huta di Tanah Batak juga terdapat fasilitas serupa yang pada mulanya hanya untuk keperluan para sufi tapi para akhirnya banyak bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paska keroposnya kekuasaan para sultan-sultan di Tanah Batak, seperti kesultanan dinasti Pohan/Pardosi di Barus, kesultanan dari dinasti Pasaribu di Fansur, Sultan Tanjung di Sorkam dan kesultanan Sibolga serta dinasti Raja Batak Sinambela di Bakkara, kehadiran organisasi-organisasi tarekat membawa angin segar bagi rakyat jajahan yang ingin melepaskan diri dari belenggu penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran para sultan dan raja dapat diisi oleh organisasi yang memang sangat menentang kehadiran Belanda tersebut. Pada saat itu pula organisasi suluk dan tarekat tersebut memperoleh momentum dan pengikut yang luar biasa. Kondisi seperti ini memungkinkan terjalinnya ikatan antara kepentingan rakyat jajahan dengan lembaga tarekat; keduanya memberikan muatan yang saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Belanda tidak tinggal diam dengan situasi ini. Banyaknya aliran tarekat yang beroperasi di Tanah Batak membuat Belanda sangat mudah untuk melakukan politik pecah belah. Hal itu tampak saat krisis yang menimpa tarekat syattariah yang disebabkan oleh kritik para kaum revivalis ortodoks Makkah pada saat itu, karena praktik-praktiknya yang dianggap banyak menyimpang dari syariat. Perseteruan sesama Islam dapat pula dimanipulasi oleh pihak Belanda dan menjadi perang inter-etnis. Masuknya tarekat Qadiriyah dan Naqshabandiyah juga membuat perbendaharaan tarekat di tanah Batak semakin semerawut dan membuat Belanda dapat menguasai dengan mudah daerah jajahannya. Tarekat-tarekat di Tanah Batak menjadi sering terpecah dan tidak saling komunikasi satu sama lain. Antara tarekat syattariah yang sudah mengakar, tarekat made in Batak seperti mazhab Natal dan tarekat parmalim serta yang baru seperti Qadiriyah-Naqshanbandiyah dan lain-lain yang kecil-kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terlepas dari itu semua, hampir semua aliran tarekat tersebut mempunyai tujuan yang sama yakni mengusir penjajahan dan menghadirkan kemerdekaan bagi penduduk yang tersiksa. Lembaga-lembaga tarekat tersebut mengubah fungsi dan perannya dari “sistem sosial organik” ke sistem “religio-politik”, menggantikan peran-peran kesultanan dan raja-raja yang hilang kekuasaannya, sebagai aspirasi rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui wadah tarekat, mereka membangun kesadaran kolektif atas dasar-dasar “sinkretik”, antara potensi yang dimiliki tarekat dan kebutuhan psikologis dan sosiologis rakyat yang terjajah. Ia telah menjadi katalisator dalam menggerakkan massa, bukan hanya dalam arti psikologis tapi juga dalam pemikiran politik, baik melalui konsep-konsep perlawanan maupun dalam menentukan sasaran-sasaran pencapaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, akhirnya lembaga tarekat bukan lagi dipandang sebagai lembaga yang melangit tapi telah membumi sejalan dengan adanya kebutuhan duniawi para pengikutnya. Hal yang sama juga muncul di daerah-daerah yang terjajah selama ini di belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Afrika pada abad yang sama (abad ke-19), muncul gerakan-gerakan sufi yang cukup beragam yang menjawab kolonialisme. Abdul Qadir di Aljazair dari tarekat Qadiriyah, Mahmud Ahmad dari Tarekat Sammani di Sudan Timur, Mahdi di Nilotik Sudan, Sanusiyyah di Libya, Saleh Idrisi di Somalia dan Ahmad al-Hiba di Maroko. Belum lagi di Asia Tengah, kelompok Naqshabandiyah mengguncang Tiongkok, Turkistan dan Yunnan, juga Afghanistan dan India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah Batak muncul tokoh-tokoh lokal yang tidak sempat terdokumentasi di setiap huta-huta yang melakukan perlawanan ke pihak penjajah. Namun di antara yang besar dan sempat diingat oleh penduduk adalah, Syeikh Sulayman al-Kholidy Hutapungkut, Syeikh Basyir atau Tuan Basyir yang sangat terkenal di masyarakat Toba, Syeikh Ibrahim Sitompul, Abdul Fatah Pagaran Sigatal dari Natal, Syeikh Baleo Natal dan lain-lain dari tarekat-terekat yang sejalan dengan aliran di dunia. Beberapa tarekat buatan Batak sendiri, yang bersifat sinkretis, tokohnya adalah Guru Somalaing dari tarekat Parmalim dan beberap tokoh dari pecahan tarekat ini seperti ‘Tarekat Borkat Allah’ Parhudamdam dan Parsitekka serta lain sebagainya.&lt;br /&gt;Hampir bisa dikatakan bahwa imperialisme Eropa pada abad ke-19 selalu berhadapan dengan lembaga-lembaga Islam yang satu ini. Kenyataan-kenyataan historis seperti ini membuktikan bahwa kehidupan dunia sufi tidak selalu bergumul dengan kepasifan, kejumudan dan asketisme. Sayyed Hossein Nasr mengatakan, “Sufi is an active participant in a spiritula path and is intellectual in the real meaning of this word. Contemplation is sufism, the highest form activity, and in fact sufis has always integrated the active and contemplative lives. That is why many sufi have been teachers and scholars, artists and scientist, and even statesment and soldiers…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membangun ideologi perjuangan, lembaga tarekat memanfaatkan ideologi-ideologi perjuangan setempat yang sebelumnya telah memiliki akar-akar yang telah berkembang di kalangan jajahan, yang biasa mereka gunakan untuk menentang kolonialisme, seperti nativisme, millaniarisme dan ratu adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nativisme dan millaniarisme dapat dikukuhkan dalam doktrin wilayah harapan (the theater center, wilayah al-sufiyah), ratu adil yang banyak dianut di nusantara menempati konsep mahdiisme dalam tradisi tarekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbul tenggelamnya ideologi-ideologi gerakan tersebut biasanya berbarengan dengan tindakan kolonial yang makin massif dan ekspansif. Sehingga secara psikologis dan sosiologis, kehadiran dan kemunculannya merupakan suatu bentuk respon penolakan atau protes sosial dari kalangan rakyat jajahan. Pertumbuhan mahdiisme di kalangan Parmalim bahkan mengasosiasikannya dengan sosok Sisingamangaraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar-akar nativisme dan milleniarisme berasal dari pengalaman sejarah masyarakat yang sebelumnya merasakan kebebasan, kemerdekaan keharmonisan ketika berada di tengah-tengah penguasa pribumi (kerajaan atau kesultanan) Namun ketika kolonial berkuasa, keadaan dan kondisi kehidupan mereka secara total terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran etnik yang bertalian dengan sistem politik tradisional-yang defenisi-defenisi kebangsaannya berasal dari tradisi lokal, identitas religius dan tekanan politik kolonial ini-telah memancing kemarahan dan memberikan lahan subur bagi berbagai pemikiran untuk membangun wilayah otonom bagi prasyarat identitas pribumi atau yang dikenal dengan istilah nasionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh ideologi gerakan yang dijelaskan di atas, secara esensial dan formal memperoleh justifikasi dari doktrin perlawanan terhadap si bottar mata penjajah yang dalam praktiknya dilengkapi dengan kekuatan-kekuatan magico-mysticism atau tabas-tabas dalam hamalimon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi magis yang banyak dikembangkan lembaga sufi ini, secara antropologis dan psikologis, telah mengukuhkan para anggota gerakan, dan menumbuhkan perasaan bahwa gerakannya bersatu dengan kekuatan spiritual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mistik Karismatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita bertanya kepada orang-orang Batak sekarang mengenai pemahaman mereka terhadap kaum parsolam atau malim atau kaum sufi, maka didapatlah bahwa banyak legenda atau cerita suhut-suhutan mengenai kegaiban para sosok orang-orang Batak suci tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah mengenai Tuan Basyir misalnya bahkan disinggung dalam buku Pustaha Tumbaga Holing. Dikatakan dia dapat tetap berada di Tanah Batak namun setiap jum’at akan pergi ke Mekkah untuk menunaikan sholat jumat. Begitu keramatnya sosok sang sufi sehingga banyak orang yang menaruh hormat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi tabas-tabas, azimat, kemampuan bathin yang katanya membuat mereka kebal dan dapat mengatasi siatusi dengan cepat. Kondisi yang istimewa tersebut membuat para sufi mendapat tempat yang istimewa di kalangan masyarakat Batak seperti halnya para datu dan lain sebagainya yang parbetengan. Bandingkan misalnya ini dengan kisah Sisingamangaraja XII, dengan ilmu hikmatnya, yang katanya dapat menghilang dari kepungan belanda setelah melafalkan zikir lailahaillallah dan hu..hu..hu… secara wirid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tokoh di Pakkat yang datang secara berkala dari Manduamas dikabarkan dapat terbang dari Pakkat ke Barus lebih cepat dari mobil. Tokoh ini bernama Guru Jeto, seorang ulama yang sangat dihormati di kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi cerita mistis dan misteri di balik para sufi tersebut. Kemampuan magico-mystisism ini merupakan keistimewaan yang membuat banyak rakyat memihak para sufi dan malim dalam melawan kekuatan penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya dan al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal memperkirakan bahwa dunia mistis yang menggunakan kekuatan ruhani ini muncul dari orang-orang suci yang selalu mengolah kekuatan spiritualnya. Dunia sufi yang lekat dengan kontemplasi spiritual telah banyak menunjukkan hal ini. Memang, hanya orang-orang suci yang bisa memperoleh kekuatan ruhani semacam ini; mereka disebut ashhab al-ruhaniyah. Fenomena keterikatan tarekat dengan dunia magico-mystisism adalah suatu fenomena yang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kontemplasi spiritual, sufi-sufi besar menggali sabda-sabda ilahi-melalui riyadhah dan kasf-telah melahirkan beberapa rumusan kekuatan ruhaniyah (mistis) dari firman-firman Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama hikmah menjelaskan, kekuatan magico-mysticism terbagi dua: magico mysticism dalam bentuk doa yang selalu diwiridkan dan dalam tradisi animisme disebut sebagai mantra, ada juga yang ditulis pada benda-benda khusus. Kedua bentuk ini sangat dominan dalam dua tarekat dan sampai sekarang masih diwarisi orang-orang yang memiliki keistimewaan dan kekebalan dalam masyarakat Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra atau wirid ini sering disebut dengan istilah hizb. Di antaranya adalah hizb al-khairat, hizb rifai’yah, syadziliyah, hizb al-bahr dan lain sebagainya. Kembali ke situasi pada abad ke-20 mengapa magico-mysticism begitu dominan dalam menguatkan gerakan perlawanan terhadap kaum kolonialis, tentunya bukan hanya karena otoritas mistik ini lahir dari sufi-sufi besar, tetapi juga karena kepentingan-kepentingan psikologis masyarakat tradisional yang menyandarkan perlindungan pada kekuatan supernatural untuk menghadapi musuh yang sangat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjaun psikologis Michael Adas nampaknya bisa membantu menafsirkan hal tersebut, dia mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jimat-jimat yang digunakan oleh para pendukung kegiatan dalam studi ini dirancang untuk menetralkan keunggulan teknologi dan organisasi musuh Eropa mereka. Melalui jimat-jimat ini, para pemimpin kenabian (syeikh-syeikh tarekat) berusaha untuk memindahkan perlindungan magis kepada para pendukung mereka untuk meyakinkan mereka akan kekebalan dalam peperangan yang akan terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dibayangkan bagaimana masyarakat tradisional berhadapan dengan mesin-mesin pembunuh kolonial Belanda yang berteknologi tinggi, sementara mereka tidak memiliki atau belum memahami sama sekali. Tentunya hanya kekuatan mental dan luapan emosional yang selalu diibakar oleh para pemimpin anti-penjajahan yang bisa mengatasi keberanian untuk mengadakan revolusi fisik yang menuntut banyak pengorbanan ini. Di sinilah Islam mengajarkan bahwa keyakinan adalah induk segala tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori militer yang rasional menyatakan bahwa antara dua kekuatan yang sangat tidak seimbang, tidak memungkinkan bagi para pendukung revolusi berada di belakangnya. Tetapi di tangan para malim dan sufi Batak dan juga personalitas Sisingamangaraja XII, gagasan untuk mengusir penindas si bottar mata dan magico mysticism telah menjadi pucuk senjata yang paling ampuh dalam menentang Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara-upacara ritual yang sering diadakan oleh para syeikh tarekat dan raja-raja Batak, pemimpin anti-penjajahan menjelang penyerangan terhadap Belanda bukan hanya bermaksud untuk mengkoordinir pengikut dalam gerakan, tetapi juga bermaksud untuk mengukur kekuatan magis pengikut yang terlatih. Ritus magis ini secara formulatif verbal-yang di dalamnya diadakan sumpah magis dan pembagian azimat-azimat-telah menimbulkan efek psikologis yang mengerikan bagi penjajah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-5186462613111899289?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/5186462613111899289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/5186462613111899289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/03/napak-tilas-perjalanan-sufi-batak.html' title='Napak Tilas Perjalanan Sufi Batak'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-5983658553557597274</id><published>2007-01-31T20:37:00.000-08:00</published><updated>2007-01-31T20:39:04.804-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Orang Mongol Di Indonesia</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Penyebaran Islam di bawah orang Mongol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan mengapa Islam tidak melakukan serangan sehingga separuh masa kedua kurun yang ke-13, adalah perkara yang difahami dalam konteks yang lebih luas. Profesor Johns menyatakan, di dalam Encyclopedia of Religion artikel Islam: Islam in Southeast Asia, Bab 7 ms. 404-422, penjejakan Islam yang pertama: satu bumbungan di Phanrang di pesisiran pantai timur Vietnam yang ditulis dalam bahawa Arab dan bertarikh dari kurun yang ke-10, dan dia memetik Ravaisse sebagai dipertalikan dengan kewujudan masyarakat di sana sehingga kurun yang ke-11 dan dari nama ketuanya Shaik al Suq, atau tuan kepada pasar, ianya merupakan tempat perdagangan timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kubur anak perempuan pedagang Muslim di Leren di bahagian pantai Utara Jawa pada masa yang sama secara rambangnya, telah membentuk satu perdagangan di sana tetapi tidak ada aktiviti yang bear. Mengapa orang Muslim yang hadir di Asia Tenggara tiba-tiba sahaja bertambah sejak separuh masa kedua kurun yang ke-13 boleh dijelaskan dari sejarah orang Cina. Sementara Islam menjadi mundur sewaktu zamannya, ia tidak sedemikian dalam hubungannya dengan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1242 orang Mongol telah mengalahkan orang Seljuk dari Rum di Kuzadag dan menjelang 1258 mereka telah menawan Baghdad dan mengakhiri Khalifah Abbasid. Mereka hanya dihentikan oleh Mameluke dari Mesir di Ain Jalut di Filistin pada 1260. pada 1264 mereka memindahkan pusat dari Karakorun ke Beijing, membahagikan empayar itu kepada empat pusat pemerintahan yang berasingan. Pada 1253 orang Mongol telah memulakan kempen mereka menentang golongan Soong selatan di Cina, membentuk pengendalian sepenuhnya dari barat ke timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penawanan-penawanan di barat memberi efek kepada pembawaan Islam Timur ke dalam empayar Mongol, di bawah empayar Mongol II Khan dan di sebelah utara di bawah kekuasaan Gerombolan Emas. Sementara Islam ada pada golongan Soong, ia juga wujud dalam pada orang Mongol dan empayar yang berkembang memerlukan komunikasi yang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat itu, sekarang di Beijing, telah memudahkan laluan laut dan orang lalu lintas orang Muslim telah bertambah, tetapi pada masa ini dalam bentuk golongan pahlawan, yang mana mempunyai impak yang besar ke atas mentaliti orang Melayu/penduduk kepulauan rempah (sekarang disebut Indonesia) daripada indianisasinya. Pada 1287 orang Mongol menawan orang kafir di Burma dan pada 1292-3 ekspedisi orang Mongol ke Jawa memperlihatkan kerajaan Majapahit bertukar dari Kritanangara (1268-1292) ke Jayakatwang (1292-1293) dan ke Kritarajasa Jayarardhana (1293-1309). Tentera orang Muslim bersama dengan ekspedisi ini dan fakta bahawa kedutaan besar itu adalah Muslim memperlihatkan ketinggian mereka bertambah di mata golongan elit. Justru, dengan kaedah ketenteraan yang telah mengalahkan perbudakan atau tentera upahan di bawah orang Mongol, Islam telah berupaya untuk mencapai lebih daripada yang ia mampu dalam enam ratus tahun perdagangan dan penawanan sebelum ini, kerana mereka telah mencapai satu status atau wahyu yang tidak boleh di perolehi oleh saudagar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Sumatra adalah pusat perkembangan, ini berjalan terlalu perlahan, sementara Odoric dari Pordenone melawat di sana pada 1321 dan menguatkan ulasan Marco Polo dalam cara yang sama dengan kepelbagaian nama, yakni Tamiang bagi Dagroian. Bagi Lamori (atau Achin) dia menambah “bahawa semua wanita adalah serupa” sepada kanibalisme yang dinyatakan sebelumnya dan bahawa di Sumatra menandakan muka di 12 tempat di muka berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam masih belum menyerap di seluruh Sumatra Utara menjelang kurun yang ke-14. Ianya dalam kurun ini juga kita membentuk (dari imej di Rambohan (Coedes ms. 232) praktik upacara Tantric yang mana dipraktikkan di Bali sekarang dan yang mana Islam telah mengadaptasikannya dalam bentuk doa mereka terlebih lagi dalam upacara pengebumian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Johns telah membentuk perkembangan pengislaman dalam artikelnya dalam ms. 407 dengan peta bersama laluan pertumbuhan. Dia menunjukkan perluasan Islam pada 1500, yang mana terhad sepenuhnya kepada bahagian Utara dan pantai Timur Sumatra menuju ke hujung selatan di daerah kecil Jawa dan daerah pesisiran pantai semenanjung Malay.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-5983658553557597274?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/5983658553557597274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/5983658553557597274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/01/orang-mongol-di-indonesia.html' title='Orang Mongol Di Indonesia'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-4493405461712534262</id><published>2007-01-30T18:18:00.000-08:00</published><updated>2007-01-30T18:29:05.841-08:00</updated><title type='text'>KH Zainul Arifin Pohan: Anak Barus Mantan Wakil Perdana Menteri RI</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;&lt;br /&gt;Walaupun dikenal sebagai organisasi tradisional, bukan berarti dalam NU tidak ada pembaruan, justeru tampilnya NU sendiri sebuah gerakan pembaruan di lingkungan kaum santri. Organisasi sendiri adalah fenomena modern, karena itu di dalamnya secara otomatif akan mendorong terjadinya berbagai perubahan, dan motor gerakan pembaruan yang sangat menonjol di samping KH Wahid Hasyim adalah Kiai Muhammad Dahlan. Kalau Kiai Wahid  membolehkan hakim wanita, maka dalam NU Kiai Dahlan mempelopori berdirinya organisasi Wanita NU yakni Muslimat, bahkan dengan kegigihannya akhirnya bisa meyakinkan Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Hasbullah yang akhirnya didukung seluruh Nahdliyin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjabat Menteri Agama (1967-1971), Kiai Dahlan yang memelopori musyawarah antarumat beragama untuk menjaga kerukunan sesamanya. Ia pula yang berjasa mengangkat ribuan guru-guru agama melalui Ujian Guru Agama (UGA) paska peristiwa 1965 sebagai konsekuensi semakin disadarinya bahwa berkembangnya ajaran komunisme akibat kurangnya pelajaran agama di sekolah-sekolah.  Putera Pasuruan ini pula yang memprakarsai penyelenggaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat Nasional, sekaligus memelopori berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an atau PTIQ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian Kiai Dahlan dengan gigih menolak kehadiran organisasi GUPPI, yang diketahui sebagai siasat pemerintah ketika itu untuk menggerogoti kekuatan Nahdlatul Ulama dari pusat sampai daerah-daerah. Ketegasan sikapnya itu, yang membuat ia tanpa beban dan rela dicopot sebagai menteri agama.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal Usul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Dahlan adalah putera ketiga dari lima bersaudara, lahir pada tanggal 2 Juni 1909, bertepatan dengan 14 Jumadil Ula 1327 Hijriah di desa Mandaran Rejo, Kotamadya Pasuruan, Jawa Timur. Desa itu terletak di pesisir pantai, kurang lebih berjarak tiga kilometer dari kota Pasuruan. Mayoritas warga desa yang bermata pencarian sebagai nelayan penangkap ikan di lepas pantai dan petani tambak, menjadikan lahan yang terhampar di desa itu sebagian besar berupa petak-petak tambak udang dan ikan bandeng. Pengelolaan tambak dilakukan penduduk secara tradisional, sekedar memanfaatkan pasang-surutnya aliran sungai yang melintasi desa tersebut yang bermuara di selat Madura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sungai itulah Dahlan kecil bersama teman-teman sebayanya mengadu kemahiran berenang melawan arus sungai, atau adu cepat menemukan batu yang dilemparkan ke dalam sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi menginjak usia belasan tahun, Dahlan telah diberikan tanggung jawab menjaga beberapa petak tambak milik kakeknya. Biasanya sebulan menjelang tambak dipanen, Dahlan harus sering menunggui tambak di malam hari. Kala itu, kerap terjadi pencurian di malam hari pada tambak yang hendak dipanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah-ibu Dahlan bernama Abdul Hamid dan Chamsiyah, termasuk orangtua yang sangat disiplin dalam menanamkan kesadaran kepada putera-puterinya agar taat menjalankan ajaran-ajaran agama. Dari lima bersaudara hasil pernikahan pasangan Abdul Hamid dan Chamsiyah ini, dua diantaranya laki-laki, yaitu Muhammad Hasyim sebagai putera tertua dan Muhammad Dahlan sebagai putera ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping bimbingan dan arahan yag diterima dari kedua orangtuanya, dasar-dasar pendidikan yang di kemudian hari benyak mewarnai corak kepribadian Dahlan didapatnya dari Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo dan Pesantren Tebu Ireng di Jombang. Di kedua pesantren ini pula ia ketemu dengan tokoh besar NU lainnya seperti KH. A. Wahid Hasyim dan KH. Masykur. Ia  memanfaatkan sebagian masa kanak-kanak dan remajanya menekuni pengetahuan keagamaan dan menjalani praktek belajar bermasyarakat. Makanya ketika masih dalam usia belasan tahun, Dahlan telah  mengenyam pendidikan di Makkah, Saudi Arabia. Bersama kakak sulungnya, dengan rajin ia mengikuti kelompok-kelompok pengajian sebagaimana para ulama terdahulu yang mengukti pengajian di sekitar halaman Masjid Al-Harram Makkah. Di kota suci itu ia belajar berbagai ilmu keagamaan, dan mengenal dunia luar secara umum yang kelak menjadi bekal dalam membangun negerinya terutama ketika berkiprah di NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membentuk NU Bangil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilnya Dahlan di gelanggang pergerakan dimulai tahun 1930. Dialah tokoh yang merintis terbentuknya organisasi NU cabang Bangil, dan sekaligus menjadi ketuanya. Lima tahun kemudian ia terpilih menjadi ketua NU cabang Pasuruan. Berkat kepemimpinan dan integritas kepribadian yang dimilikinya, pada tahun 1936 ia sedah dipercayai untuk  menjadi Konsul NU Daerah (wilayah) Jawa Timur yang berkedudukan di Pasuruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corak kepemimpinan yang diperlihatkan Dahlan menunjukkan bahwa ia adalah seorang orgnisator yang ulet dan mahir berargumentasi, sehingga dapat meyakinkan lawan bicara. Salah satu contoh yang menunjukkan hal itu dibuktikan saat ia menghadiri kongres NU XIII di Menes, Banten pada tanggal 11-16 Juni 1938. Kala itu, salah satu cara yang ditempuh cabang NU dalam menghimpun dana bagi kepentingan jalannya roda organisasi adalah mengedarkan lis derma kepada beberapa perorangan, baik warga NU maupun simpatisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam majelis (sidang) IV kongres NU di Menes itu, Dahlan selaku Konsul NU Daerah  Jawa Timur mengajukan usul agar cabang-cabang yang menjalankan lis derma ke cabang lainnya itu juga menyertakan orangnya sebagai kurir yang membawa lis tersebut, dan langsung menemui orang-orang yang hendak dimintai dermanya. Bagi Dahlan, usul tersebut perlu ia ajukan mengingat banyak cabang yang mengirimkan lis dermanya tanpa disertai keterangan yang cukup. Di sisi lain, diantara cabang-cabang yang menerima lis tersebut banyak yang waktunya disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang tidak kalah penting. Maka tidak heranlah jika kebanyakan dari lis-lis tersebut tidak dapat diurus dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap usulan Dahlan ini, sejumlah cabang menolak dengan anggapan bila usulan itu dijalankan, nantinya akan mempersempit ruang gerak cabang. Tidak kurang dari KH. Zainul Arifin (tokoh NU yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri), sebagai pimpinan sidang kala itu mengatakan bahwa jika sekiranya usul itu diterima kongres, maka dikhawatirkan sifat tolong-menolong diantara cabang yang satu dengan lainnya akan rusak dan hilang. Namun Dahlan tetap berupaya mempertahankan pendapatnya. Dengan berbagai argumentasi yang dikemukakan, ia bersikeras agar usulannya bisa diterima. Saat dilakukan pemungutan suara, terbuktilah bahwa Dahlan berhasil meyakinkan peserta kongres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendorong Berdirinya Muslimat NU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat bahwa kongres NU di Menes tahun 1938 itu merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses katalisis terbentuknya organisasi Muslimat NU. Sejak kelahirannya di tahun 1926, NU adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka. Para ulama  NU saat itu masih berpendapat bahwa wanita belum masanya aktif di organisasi. Anggapan bahwa ruang gerak wanita cukuplah di rumah saja masih  kuat melekat pada umumnya warga NU saat itu. Hal itu terus berlangsung hingga terjadi polarisasi pendapat yang cukup hangat tentang perlu tidaknya wanita berkecimpung dalam organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kongres itu, untuk pertama kalinya tampil seorang muslimat NU di atas podium, berbicara tentang perlunya wanita NU mendapatkan hak yang sama dengan kaum lelaki dalam menerima didikan agama melalui organisasi NU. Verslag kongres NU XIII mencatat : “Pada hari Rebo ddo : 15 Juni ’38 sekira poekoel 3 habis dhohor telah dilangsoengkan openbare vergadering (dari kongres) bagi kaoem iboe, …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang tempat kaoem iboe dan kaoem bapak jang memegang pimpinan dan wakil-wakil pemerintah adalah terpisah satoe dengan lainnja dengan batas kain poetih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kongres NU di Menes, wanita telah secara resmi diterima menjadi anggota NU meskipun sifat keanggotannya hanya sebagai pendengar dan pengikut saja, tanpa diperbolehkan menduduki kursi kepengurusan. Hal seperti itu terus berlangsung hingga Kongres NU XV di Surabaya tahun 1940.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kongres tersebut terjadi pembahasan yang cukup sengit tentang usulan Muslimat yang hendak menjadi bagian tersendiri, mempunyai kepengurusan tersendiri dalam tubuh NU. Dahlan termasuk pihak-pihak yang secara gigih memperjuangkan agar usulan tersebut bisa diterima peserta kongres. Begitu tajamnya pro-kontra menyangkut penerimaan usulan tersebut, sehingga kongres sepakat menyerahkan perkara itu kepada PB Syuriah untuk diputuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum kongres ditutup, kata sepakat menyangkut penerimaan Muslimat belum lagi didapat. Dahlanlah yang berupaya keras membuat semacam pernyataan penerimaan Muslimat untuk ditandatangani Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahab Hasbullah. Dengan adanya secarik kertas sebagai tanda persetujuan kedua tokoh besar NU itu, proses penerimaan dapat berjalan dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama A. Aziz Dijar, Dahlan pulalah yang terlibat secara penuh dalam penyusunan peraturan khusus  yang menjadi cikal bakal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muslimat NU di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan hari penutupan kongres NU XVI, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggal 29 Maret 1946 / 26 Rabiul Akhir 1365. Sebagai ketuanya dipilih Chadidjah Dahlan asal Pasuruan, isteri Dahlan. Ia merupakan salah seorang wanita di lingkungan NU itu selama dua tahun. Pada Oktober 1948, Chadidjah Dahlan berpulang ke Rahmatullah mendahului suami tercinta dan meninggalkan Muslimat, tempat ia memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di lingkungan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijodohkan dengan Aisyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), suatu organisasi pemuda dalam lapangan politik di bawah Masyumi, mengadakan kongresnya yang ke empat pada tanggal 20-22 Maret 1950 di Semarang. Salah seorang pesertanya bernama Aisyah, gadis Padang Pariaman yang kala itu menjabat sebagai ketua GPII-Putri Sumatera Barat. Usai mengikuti kongres, Aisyah bersama beberapa temannya menyempatkan singgah di Jakarta, karena mendengar kabar bahwa Kementerian Agama sedang membutuhkan pegawai baru. Melalui H. Aboebakar (staf Kementerian Agama) didapat informasi bahwa Menteri Agama KH. A. Wahid Hasyim memerlukan penambahan staf yang akan ditempatkan di bagian kesekretariatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Aisyah, bekerja di Kementerian Agama sangatlah menarik hatinya. Di samping banyak teman-temannya yang telah lebih dahulu bekerja di sana, ia pun berharap dengan tinggal di kota besar, akan menambah pengalamannya berkecimpung di organisasi, mengabdi bagi kepentingan masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menjadi staf sekretariat KH. A. Wahid Hasyim, tidak jarang Aisyah mengikuti rapat-rapat yang diadakan PBNU di Jakarta. Minat dan kecintaannya berorganisasi seakan mendapatkan wadah penyaluran dan kian meningkat, manakala KH. A. Wahab Hasbullah menawarkan kepadanya agar bersedia terlibat aktif di Muslimat NU. Adalah KH. A. Wahab Hasbullah pula yang setelah mengamati kepribadian Aisyah dan menilai kepantasannya, memberanikan diri menjodohkannya dengan Dahlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Aisyah, kejujuran yang muncul dari kepribadian Dahlan telah membersitkan kekaguman tersendiri pada dirinya. Penampilannya yang meski sederhana, senantiasa necis dengan dengan setelan pentalon yang dikenakannya serta pecinya yang selalu miring ke kiri. Raut wajahnya yang memancarkan kecerahan, menambah sosok kehadiran fisiknya seakan jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Maka berkat “kegigihan” KH. A. WAhab Hasbullah dalam mempertemukan kedua hati milik Aisyah dan Dahlan, bersandinglah keduanya di pelaminan pada awal tahun 1951.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpilih Ketua Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah Dahlan di pentas nasional diawali tahun 1941 dengan menjadi anggota Dewan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang berkedudukan di Surabaya. Pada tahun 1945 ketika Masyumi didirikan, ia menjadi anggota Dewan Pimpinan Partai hingga tahun 1952, saat NU memisahkan diri dari Partai Masyumi. Dahlan juga sempat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat di Yogyakarta pada tahun 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kongres NU XX di Surabaya tahun 1954, ia terpilih sebagai Ketua Umum Tanfidziah Nahdlatul Ulama. Melalui partai yang dipimpinnya, ia juga duduk sebagai anggota konstituante hingga tahun 1959. Setahun kemudian, Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong dibentuk dan Dahlan diangkat menjadi anggotanya. Namun pengangkatan itu ditolaknya dengan alasan pembentukan lembaga tersebut tidak memberi kesempatan kepada golongan oposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Keputusan presiden nomor 171/1967 yang dikeluarkan pada 11 Oktober 1967, Dahlan diberi kepercayaan untuk memangku jabatan Menteri Agama dalam Kabinet Pembangunan I hingga tahin 1971. Selepas menjadi menteri, ia duduk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung sampai wafatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mulai menjabat sebagai Menteri Agama, kerukunan antar umat beragama tidak begitu baik keadaannya. Pembubaran PKI oleh pemerintah dinyatakan sebagai partai terlarang, serta penangkapan terhadap para pengikutnya, sedikit banyaknya telah menyebabkan banyak orang kian rajin mengunjungi rumah-rumah peribadatan, semata-mata agar tidak dituduh sebagai anggota PKI. Keadaan seperti itu mendorong masing-masing penganut agama (golongan Islam dan Kristen ) semakin gencar melakukan kegiatan-kegiatan penyebaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antar pemeluk agama itu berubah menjadi ketegangan, manakala golongan yang satu secara atraktif menyebarkan agamanya kepada golongan yang lain. Ketegangan itu tidak jarang berlanjut menjadi insiden bentrokan fisik. Di Ujungpandang, sebuah gereja dirusak oleh orang-orang Islam akibat adanya seorang pemuka Kristen di kota tersebut yang menghina Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Aceh, sebuah gereja yang baru dibangun tidak diizinkan dibuka oleh pemerintah setempat, sebab masyarakat Aceh tidak memperkenankannya. Kasus di Aceh ini sempat diangkat Fraksi Kristen Protestan dan Katholik dalam forum DPR-GR, sehingga melahirkan apa yang dikenal dengan “Interpelasi Simorangkir” pada tanggal 7 Juni 1967. Interpelasi tersebut dijawab pemerintah (kala itu disampaikan oleh KH. Saifuddin Zuhri selaku Menteri Agama) dan dapat diterima. Di Jakarta, Bukittinggi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Manado, Flores, terjadi usaha-usaha merubuhkan gereja oleh masyarakat setempat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam suasana seperti itu, Dahlan selaku Menteri Agama mengambil prakarsa mengadakan Musyawarah Antar Agama pada tanggal 30 November 1967, bertujuan mencari jalan keluar agar peristiwa-peristiwa intoleransi antar agama itu tidak terulang lagi, sehingga kerukunan antarumat beragama dapat dibina dengan baik. Musyawarah itu antara lain dihadiri oleh DR. T. B. Simatupang, Ben Mang Reng Say, Mr. A. M. Tambunan mewakili golongan Kristen dan KH. Masykur, M. Natsir, DR. H.M. Rasyidi mewakili golongan Islam.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Agama KH. M. Dahlan yang memimpn jalannya pertemuan mengajukan pokok-pokok pikiran rencana persetujuan, yang intinya adalah agar propaganda agama tidak dilakukan dengan tujuan meningkatkan jumlah pemeluk masing-masing agama, namun dilaksanakan untuk memperdalam pemahaman dan pengamalan tentang agamanya masing-masing. Penyebaran agama hendaknya tidak dilakukan pada suatu komunitas yang sudah jelas mayoritasnya telah menganut agama tertentu, tetapi dilakukan di daerah-daerah yang penduduknya belum memeluk suatu agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas rencana persetujuan tersebut, baik golongan Islam maupun golongan Hindu Bali dapat menerimanya. Namun dengan alasan bahwa Jesus Kristus telah memerintahkan agar menyebarluaskan ajaran Kristen ke seluruh penjuru dunia, golongan Kristen menolak rangcangan persetujuan tersebut, tetap saja pihak Kristen tidak dapat menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan Soal Hukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang keilmuan, Dahlan terlihat menonjol pada disiplin ilmu fiqih ini ditunjang dengan koleksi kitab-kitab yang dimilikinya, yang sebagian besar adalah kitab-kitab fiqih. Hal itu menyebabkan Dahlan sangat moderat dalam memandang perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan imam-imam madzhab. Ia nampak tidak kaku dengan pendapat madzhab tertentu dalam menentukan suatu hukum, sejauh pendapat itu dinilainya cukup argumentatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1969, Menteri Agama KHM Dahlan mendapat undangan pertemuan ilmiah Umat Islam di Kuala Lumpur-Malaysia, membahas tentang Ru’yah (untuk menentukan kapan awal bulan puasa, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha) dan minuman yang diharamkan. Dahlan lalu meminta stafnya, Prof. KH. Ibrahim Hosen (kala itu sebagai Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Hubungan Luar Negeri Departemen Agama RI). Dalam makalah itu dinyatakan bahwa hukum meminum bir  adalah khilafiyah, yakni terjadi perbedaan pendapat di kalangan imam mazhab dalam menetapkan hukum haram-halalnya. Dijelaskan dalam tersebut, kesimpulan yang biasa diambil dari pendapat imam-imam mazhab tentang minuman yang diharamkan itu adalah bahwa khamar, yaitu dibuat dari perasan anggur yang mempunyai sifat keras dan merangsang, hukum meminumnya adalah haram, terlepas memabukkan atau tidak, diminum banyak atau sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun muskir (dikenal dengan istilah nabidz) adalah minuman keras yang terbuat dari selain perasan anggur, mempunyai sifat keras dan merangsang, hukum meminumnya adalah haram jika sampai kadar yang memabukkan. Seluruh ulama imam mazhab sepakat akan kedua hal itu. Perbedaan pendapat timbul saat menentukkan hukum meminum nabidz pada kadar yang tidak memabukkan (tidak sampai mabuk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap masalah yang terakhir ini, Imam Malik berpendapat hukumnya dosa besar, peminumnya wajib dikenakan had (hukum cambuk), dan kesaksiannya ditolak. Menurut Imam Syafi’i dan sebagian kalangan Maliki berpendapat bahwa hukumnya dosa kecil. Peminumnya tidak dikenakan had dan kesaksiannya diterima. Adapun Imam Abu Hanifah menyatakan tidak berdosa. Sebagian ulama Hanafi berpendapat boleh meminum sedikit dan yang tidak memabukkan, manakala hal itu untuk tujuan menambah kekuatan dalam berjihad dan lain sebagainnya, bukan untuk foya – foya. Mengingat bir dibuat dari selain perasan anggur, dan boleh karenanya ia masuk kategori nabidz, maka hukum meminumnya pada kadar yang tidak memabukkan adalah khilafiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Dahlan menerima sepenuhnya atas makalah tersebut dan siap mempertanggungjawabkan atas nama dirinya sebagai Menteri Agama. Menurutnya, ulasan yang dikemukakan dalam makalah tersebut didasari oleh pendapat para ulama dalam kitab – kitab fiqih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Agama, Dahlan bersama Prof. KH. Ibrahim Hosen adalah pemrakarsa pertama penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional yang untuk pertama kalinya diadakan di Ujungpandang. Keduanya pula yang bersama – sama KH. Zaini Miftah, KH. Ali Masyhar dan Prof DR. H.A. Mukti Ali pada 23 Januari 1970 membentuk Yayasan Ihya Ulumuddin, yang setahun kemudian merintis berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), sebuah perguruan tinggi yang secara khusus mengajarkan seni baca dan menghafal Al-Qur’an serta mengkaji ilmu-ilmu yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengobati sakit gigi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda berusia 30 an tahun  sedang duduk tekun menelaah sejumlah kitab berbahasa Arab selepas shalat taraweh pada bulan Ramadhan di tahun 1939 . Hujan deras sejak maghrib tadi menyisakan udara yang cukup dingin, yang dihembuskan semilir angin pada tengah malam sekitar pukul 22.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba – tiba terdengar suara salam dibarengi dengan ketukan pintu tanda adanya seorang tamu. Usai membalas salam, pemuda itu mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah. Sambil mengingat-ingat siapa tamu yang baru pertama kali dijumpainya, pemuda itu mengamati sosok perawakan sang tamu. Setelah memperkenalkan diri, tahulah tuan rumah kini bahwa tamunya adalah kakak kandung sahabatnya ketika ia mengenyam pendidikan di Pesantren Siwalan Panji – Sidoarjo. Sang tamu menceritakan maksud kedatangannya bahwa sejak tiga hari yang lalu ia menderita sakit gigi, dan semenjak lepas maghrib tadi rasanya kian menjadi-jadi. Atas saran adiknya, ia bermaksud meminta kesediaan tuan rumah yang menyembuhkan sakit giginya itu. &lt;br /&gt;Dengan senang hati sahibul bait menyatakan kesediaannya memenuhi permohonan tamunya. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian ke luar sambil membawa sebuah paku disertai alat pemukulnya. Dari kamarnya, ia  berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih dari kendi yang tersedia di sana. Berjalan menghampiri sang tamu yang duduk di ruang depan. Tuan rumah itu menerangkan bahwa ia akan mencoba menghilangkan rasa sakit gigi yang diderita tamunya. Ditegaskan pada hakekatnya Allah Sang Penciptalah yang bisa menyembuhkan suatu penyakit, sedang ia hanya sebagai perantara yang berikhtiar dan memohon keridlaan-NYA meringankan derita  yang sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menghempaskan tubuhnya ke kursi yang berada di hadapan tamunya, pemuda Dachlan melafalkan beberapa kalimat doa  yang telah dihafalkannya di luar kepala. Usai berdoa, ia lalu mempersilahkan tamunya meminum habis segelas air putih yang tadi dibawanya. Lalu ia mengambil paku ……..dan mengusapkan berulang-ulang batang paku tersebut ke kedua pipi bagian bawah tamunya. Setelah dirasakan cukup, pemuda itu menuju salah satu tiang kayu yang ada di rumahnya, lalu memakukannya hingga tertancap di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, sang tamu kembali berkunjung ke rumah pemuda tersebut dan seraya tak henti – hentinya mengucapkan terima kasih atas pertolongan tuan rumah, ia mengabarkan bahwa sejak kejadian semalam, sakit giginya tidak dirasakan lagi. Ini menjadi kekhasan seorang kiai disamping bisa memberikan fatwa hukum, penjelasan keilmuan juga dituntut mampu memberikan pengobatan dan kalau perlu memiliki kesaktian dalam menghadapi penjahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh NU KHM Dahlan yang berasal dari Pasuruan Jawa Timur itu memiliki sikap ketelitian dan kecermatan dalam banyak hal. Di kalangan NU, sedikitnya ada tiga tokoh besar yang bernama Dahlan, yang telah berjasa menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam membangun dan mengembangkan organisasi NU khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan yang pertama adalah KH. Ahmad Dahlan yang berasal dari Kebon Dalem, Surabaya. Dialah tokoh yang menjadi Wakil Rois Akbar PBNU yang pertama mendampingi Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dahlan yang kedua adalah KH. Dahlan bin Abdul Qahar yang berasal dari Kertosono. Tokoh ini di samping memiliki kedalaman ilmu keagamaan, juga menguasai pengetahuan umum yang luas dan fasih berbahasa Belanda. Pada sekitar awal abad ke 20, di antara seluruh tokoh NU pada masa itu, hanya KH. Dahlan Kertosono dan KH. Muhammad Ilyas lah yang sempat bersekolah di HIS dan menamatkannya. Adapun Dahlan yang ketiga ialah KH. Muhammad Dahlan yang sebagian riwayat hidupnya sedang anda baca sekarang ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kebiasaan Kiai Dahlan yang tidak pernah ditinggalkannya semenjak menetap di Pasuruan hingga pindah ke Jakarta adalah membaca Kitab Dalail Khairat selepas shalat Subuh hingga menjelang Shalat dhuha atau sesudah Sholat maghrib sampai Shalat Isya, kecuali ada tamu atau acara lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 1 Februari 1977, selesai membaca kitab yang selalu dijalaninya itu, KH. Muhammad Dahlan berpulang ke rahmatullah untuk selamanya. Almaghfurullah  meninggalkan H. Aisyah Dahlan, isteri tercintanya dan Dr. Aida Sofiati, Hafidz Dahlan SE, Ir. Diah Fauziah, Ir. Hamdan Purnama MBA, keempatnya adalah putera puteri yang dikasihinya. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, wujud dari pengakuan pemerintah atas jasa – jasanya dalam turut serta membangun bangsa Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-4493405461712534262?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4493405461712534262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4493405461712534262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/01/kh-zainul-arifin-pohan-anak-barus.html' title='KH Zainul Arifin Pohan: Anak Barus Mantan Wakil Perdana Menteri RI'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-4473755071168436721</id><published>2007-01-30T18:00:00.000-08:00</published><updated>2007-01-30T18:17:43.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Tifatul Sembiring</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Si Anak Panah Ke-3 PKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia salah seorang ‘anak panah’ (kader) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang siap diluncurkan ke mana saja oleh pemegang busur (Majelis Surya) selaku lembaga tinggi partai. Dia menjadi anak panah ketiga yang menerima estafet kepemimpinan PKS. Tifatul Sembiring dipercaya menjabat Ketua Umum DPP PKS menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan Hidayat Nur Wahid yang mengundurkan diri setelah terpilih menjadi Ketua MPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tifatul yang sebelumnya menjabat Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah I (Sumatera) dipilih dan dilantik Majelis Surya menjadi Pjs Ketua Umum DPP PKS, Senin 11 Oktober 2004. Pria Batak Karo kelahiran Bukit Tinggi 28 September 1961, melanjutkan kepemimpinan PKS periode 2001-2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam Musyawarah Majelis Syuro I Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berlangsung 26-29 Mei di Jakarta, Tifatul terpilih sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) periode 2005-2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memilih Presiden Partai, Majelis Syuro juga memilih ketua lembaga- lembaga tinggi partai. KH Hilmi Aminuddin menjadi orang nomor satu di PKS sebagai Ketua Majelis Syuro, Surahman Hidayat dipilih sebagai Ketua Dewan Syariah Pusat, Suharna Surapranata sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Pusat, Tifatul Sembiring sebagai Presiden Partai, Muhammad Anis Matta sebagai Sekretaris Jenderal, dan Mahfudz Abdurrahman sebagai Bendahara Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidato pertamanya setelah terpilih secara definitif sebagai Presiden PKS,  Tifatul mengatakan, proses suksesi kepemimpinan di PKS bisa memberikan contoh bagi pembelajaran politik tentang cara berdemokrasi yang damai. Selain itu, proses suksesi kepemimpinan sebagai peristiwa penting di PKS ternyata bisa dilakukan dalam biaya yang lebih murah dibandingkan dengan pelaksanaan suksesi partai politik pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di PKS selalu seru sorong- sorongannya, saling menyilakan maju dan tidak ada kampanye untuk maju memimpin apalagi memakai politik uang," kata Tifatul menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan, bagi Tifatul, merupakan amanah yang pada akhirnya nanti harus dipertanggungjawabkan di padang mashar. "Dengan diamanahkannya beban jabatan ini, saya sendiri mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tifatul yakin PKS ke depan akan kembali melakukan lompatan besar. Untuk itu butuh kerja keras semua kader partai. Meskipun, tak akan membuat target khusus, tetapi PKS akan berusaha membuat peningkatan perolehan suara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai kader yang digandrungi anak muda pencinta hati dan moral bersih ini memberi teladan bahwa para kader partai tidak pantas merangkap jabatan di partai manakala telah dipercaya menjabat di lembaga kenegaraan dan pemerintah (publik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai terbuka yang membawa misi moral dan dakwah dalam waktu singkat berhasil melesatkan “anak panah” pertama Nur Mahmudi menjadi Menteri Kehutanan dan Perkebunan (Menhutbun) di era Presiden Abdurrahman Wahid, dan “anak panah” kedua Nur Wahid terpilih menjadi Ketua MPR RI periode tahun 2004-2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKS adalah partai yang mempunyai disiplin kuat membedakan mana hak-hak publik dan mana hak-hak partai. Konflik kepentingan dan perangkapan antara jabatan publik dan jabatan partai adalah tabu. Sikap itu pernah segera dibuktikan oleh Nur Mahmudi yang ketika ditunjuk menteri mundur sebagai Presiden PKS, demikian pula Nur Wahid usai terpilih 5 Oktober resmi mundur per 11 Oktober 2004. Untuk sementara Tifatul masih merupakan “anak panah” yang sedang disiapkan oleh sang pemegang “tali busur” untuk suatu ketika dilesatkan kemana saja sesuai kebutuhan partai dan demi kemaslahatan umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianggap berhasil&lt;br /&gt;Kemunculan Tifatul menjadi pengganti Nur Wahid mengejutkan banyak pihak. Namun bagi Majelis Surya PKS mengetahui track record Tifatul, hal ini bukan mengejutkan. Dia kader yang berhasil menggelontorkan 380 kursi parlemen se-Sumatera ke pada Pemilu Legislatif 5 April 2004 menjadi milik PKS. Dia pula kader yang dipercaya tampil dalam lobi politik sebelum partai ini menjatuhkan pilihan mendukung pasangan SBY-MJK dalam Pilpres putaran kedua, setelah pada Pilpres pertama 5 Juli 2004 mendukung pasangan Amin Rais-Siswono Yudohusodo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Ketua DPP Wilayah Dakwah (Wilda) I Sumatera membawahi 10 propinsi di Pulau Sumatera, dengan mengusung 52.000 kader PKS se-Sumatera Tifatul Sembiring dianggap berhasil meraih total 380 kursi parlemen. Diantaranya, sebanyak 17 kursi di DPR RI Senayan, 57 kursi di DPRD I seluruh propinsi Sumatera, dan sisanya di DPRD II Kabupaten/Kotamadya seluruh Sumatera. Jumlah ini adalah sepertiga dari total 1.112 kursi parlemen di semua tingkatan yang berhasil diraih PKS di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal lobi politiknya kepada pasangan SBY-MJK, Tifatul mengakui awalnya ia yang didampingi Sekjen PKS Anis Matta berhasil mengadakan komunikasi politik agar pada Pilpres pertama 5 Juli 2004 PKS ada di barisan SBY-MJK. Sayangnya, lobi itu belum bisa diterima segenap pimpinan partai. Sebab terbukti, berdasarkan mekanisme internal organisasi partai, di hari terakhir sebelum masa tenang PKS baru bisa memutuskan sikap politik untuk mendukung Amin Rais-Siswono Yudohusodo. Pasangan ini ternyata tak didukung efektif oleh rakyat kebanyakan sebab hanya menempati urutan keempat perolehan suara di bawah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri-KH Hasyim Muzadi, dan pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi politik kepada SBY-MJK kembali diteruskan Tifatul. Kali ini, menjelang Pilpres kedua 20 September 2004 yang hanya menyisakan dua pilihan pasangan ia disertai Irwan Prayitno. Hasil lobi lanjutan bisa diterima oleh Majelis Syuro dan pimpinan PKS. Sehingga jauh-jauh hari PKS sudah angkat bendera penuh mendukung pasangan SBY-MJK. Kendati sebagai “penumpang” terakhir kontrak politik yang dibuat Tifatul efektif menguntungkan sekali bagi kedua belah pihak. Dalam kontrak PKS memperoleh beberapa jatah kursi strategis di kabinet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan SBY-MJK berhasil meraih suara terbanyak sebagai pemenang Pemilu. Sebagai the ruling party “anak-anak panah” PKS siap dilesatkan ke mana saja dan kapan saja. Salah satu bukti awalnya adalah Hidayat Nur Wahid. Atas restu dan dukungan SBY-MJK bersama Partai Demokrat (PD), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Kebangsaan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), dan partai-partai lain yang tergabung dalam koalisi kerakyatan ditambah sejumlah anggota DPD, Hidayat Nur Wahid pada pemilihan 6 Oktober 2004 berhasil meraih kursi pimpinan MPR berbeda tipis dua suara saja dari Sutjipto dari Koalisi Kebangsaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau partai baru dalam waktu singkat PKS sudah tergolongkan ke dalam kelompok elit, atau sebagai the ruling party partai penguasa. Karena sebagai partai penguasa Tifatul berjanji dan menjamin tak akan melengserkan Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono di tengah jalan, seperti pernah dialami Gus Dur. Kendati “hanya” sebagai pimpinan sementara Tifatul pasti akan memberi banyak warna kepada partai dan peta perjalanan politik nasional, paling tidak hingga berlangsung Mukhtamar April 2005 untuk memilih pimpinan baru PKS yang definitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik sebagai ibadah&lt;br /&gt;Tifatul Sembiring adalah ayah dari tujuh orang anak hasil pernikahannya dengan Sri Rahayu, wanita asal Karanganyar. Tifatul bersama Nur Mahmudi Ismail dan Hidayat Nur Wahid adalah tiga dari antara 50 orang pendiri Partai Keadilan (PK), partai yang menjadi cikal bakal PKS. PK pada Pemilu 1999 tidak lolos electoral threshold batas dua persen sehingga untuk bisa maju kembali pada Pemilu 2004 PK harus bermetamorfosa menjadi partai baru. Lahirlah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tifatul mengaku menerima mandat memimpin PKS secara mendadak. Hanya tiga hari sebelum diserahterimakan, dilantik, dan diumumkan resmi ke masyarakat luas 11 Oktober, persisnya pada Jumat 8 Oktober 2004 malam hari. “Anak panah” Tifatul dilesatkan menjadi presiden partai oleh “tali busur” yang terdiri Majelis Pertimbangan Partai, Majelis Syura, Dewan Syariah Pusat, dan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid. “Saya dan istri saya baru tahu malam Sabtu. Keputusan itu sudah diambil dan dimandatkan kepada saya setelah shalat magrib,” kata Tifatul, kepada Azhar Azis dari Indo Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tifatul menanggapi pemberian mandat sebagai biasa-biasa saja sebab tidak ada yang istimewa dalam setiap proses peralihan kepemimpinan di PKS. Namun karena yang menerima mandat adalah dirinya sendiri maka disertai pula rasa takut. “Kalau di PKS, kita justru takut menerima jabatan. Karena itu, tidak ada kader yang mau melakukan kampanye positif untuk pencalonannya. Tetapi, kita seperti anak panah yang siap diluncurkan ke mana saja oleh sang pemegang tali busur, yaitu Majelis Syura dan lembaga tinggi partai,” jelas Tifatul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa takut muncul pada diri Tifatul sebab ia tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Dirinya kaget saat mengetahui telah ditunjuk sebab sepanjang memegang jabatan sementara hingga enam bulan ke depan ia menjadi harus berhati-hati dalam mengambil setiap tindakan dan kebijakan partai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain ia merasakan biasa-biasa saja sebab demikianlah halnya iklim demokrasi di PKS. Tidak ada yang istimewa dalam setiap proses peralihan pimpinan PKS. Bahkan, istri dan anak-anaknya sudah maklum akan pola kerja PKS yang sedemikian tangkas. Sejak pertama kali aktif, saat masih bernama PK Tifatul sudah sering berada di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Humas PK ia selalu harus berada disamping Sang Presiden Nur Mahmudi Ismail, diminta untuk mendampingi. Berada di luar rumah hingga 17 hari lamanya mudah dipahami alasannya oleh seluruh anggota keluarga, yang menganggap pekerjaan politik di PKS sebagai ibadah dan pengabdian kepada umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tifatul beribadah dan mengabdi kepada umat melalui karir politik PKS berjalan secara mulus. Urusan kebutuhan keluarga sudah ditopang oleh kelancaran usaha penerbitan milik Tifatul. Dia adalah direktur merangkap penulis pada perusahaan penerbitan Asahuddin Press, Jakarta, miliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula istrinya, Sri Rahayu tergolong aktif menulis tentang kewanitaan. Dua buah bukunya, “Bila Muslimah Berpolitik” dan “Ketika Aku Mencintaimu”, sudah diterbitkan oleh Gema Insani Press. Tifatul pertamakali mengenal Sri Rahayu, istrinya, itu di arena dakwah kampus. Tifatul awalnya adalah aktivis dakwah kampus yang menebarkan syiar Islam. Di forum mulia itulah untuk pertama kali Tifatul, pria Batak Karo kelahiran Bukittinggi dipertemukan sekaligus berkenalan dengan gadis asal Karanganyar, Sri Rahayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh putra-putri buah cinta pernikahan Tifatul-Sri Rahayu adalah si sulung Sabriana pelajar kelas 2 SMU, dan Fathan kelas 1 SMU. Selanjutnya adalah Ibrahim, Yusuf, Fatimah, Muhammad, dan si bungsu Abdurrahman yang masih berusia 2 tahun 8 bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesibuk apapun perjalanan karir politik berupa ibadah dan dakwah, Tifatul selalu berusaha menyediakan waktu khusus kepada seluruh anggota keluarga. Rapat keluarga seringkali digelar untuk mendengarkan masukan dan kritikan dari anak-anak. Hasilnya, kendati sering berada di luar rumah keseluruhan anaknya tak merasa terasing atau teralienasi dari kegiatan Tifatul yang rajin berdakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tifatul adalah insinyur komputer lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer (STI&amp;K) Jakarta, yang sejak tahun 1982 bekerja di PT PLN Pusat Pengaturan Beban Jawa, Bali, dan Madura. Tugasnya menggarap bidang telekomunikadi dan data processing. Tahun 1989 ia mengundurkan diri dari pekerjaan mapan itu hanya untuk berdakwah. Sejak aktif berdakwah di kampus jiwa mubaligh sudah tertanam dalam diri Tifatul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan di PLN begitu menyita waktu Tifatul sehingga tidak sempat berinteraksi dengan sesama untuk berdakwah. Berangkat kerja jam enam pagi lalu pulang jam enam sore sudah dalam kondisi kelelahan. Interaksi dengan masyarakat sekitar menjadi minim sekali, padahal, dalam Islam sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memberikan manfaat kepada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1990 aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) ini bergabung dengan Yayasan Pendidikan Nurul Fikri, serta dengan Korps Mubaligh Khairu Ummah, hingga sekarang. Tifatul juga menyempatkan diri berkunjung ke Pakistan selama enam bulan untuk mengasah wawasan berpikir politik di International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tifatul terus saja merangkai jaringan dakwah kampus. Begitu tiba era multi partai, bersama Nur Mahmudi dan Nur Wahid ia berada bersama 50 kader pendiri Partai Keadilan (PK), di tahun 1998. Sejak itu resmilah Tifatul menggeluti politik praktis sebagai salah satu model ibadah dan dakwah yang baru. Awalnya ia menjabat Humas partai yang mengharuskannya selalu mendampingi Presiden Nur Mahmudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Mukhtamar, Tifatul ditugaskan sebagai Wakil Sekjen PKS, dan pasca mukhtamar diangkat mendapat mandat sebagai Ketua DPP Wilayah Dakwah I Sumatera. Jabatan, mandat, dan amanah itu berhasil dipertanggungjawabkan Tifatul dengan menggelontorkan sepertiga total kursi palemen milik PKS berasal dari wilayah dakwah pimpinannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-4473755071168436721?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4473755071168436721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4473755071168436721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/01/tifatul-sembiring.html' title='Tifatul Sembiring'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-3322048353977998301</id><published>2007-01-30T17:50:00.000-08:00</published><updated>2007-01-30T17:53:50.580-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Bismar Siregar</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Pendekar Hukum Jalan Lurus&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bergelut di dunia hukum, cap hakim kontroversial selalu dialamatkan kepada Bismar, karena selalu tampil berbeda di garda terdepan jalan lurus untuk memperjuangkan tegaknya keadilan. Sikapnya yang tak mau kompromi di dalam menegakkan keadilan acapkali mendapat reaksi keras dari kalangan praktisi hukum. Bismar memegang prinsip: “Keadilan nilainya jauh lebih tinggi daripada hukum. Hukum hanyalah sarana untuk menegakkan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Bismar keadilan hanya bisa ditemukan dalam hati nurani hakim. Kalau seorang hakim memiliki nurani keadilan, maka dia akan mampu melahirkan keputusan yang adil. Bismar memberi contoh; ada seorang ayah, didakwa mencuri, tetapi dia melakukan itu untuk memberi makan anak-anaknya yang menangis kelaparan. “Apakah dia bersalah? Dia memang bersalah karena telah mencuri.” Tetapi kalau dilihat dari motifnya: “demi menghidupi anak-anaknya”, yang haram saja susah diperoleh apalagi yang halal. Kata Bismar, si ayah tersebut bisa dibebaskan dari hukuman. Tetapi kebanyakan hakim tidak melakukannya. Mereka memandang secara apriori, “mencuri adalah perbuatan melawan hukum, tidak peduli apapun alasannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bismar masih banyak putusan hakim yang belum melegakan masyarakat. Persoalannya, mereka tidak konsekuen dengan konsep keadilan. Karena itu, Bismar mengingatkan lagi, hukum hanyalah sarana. “Masa sarana kita pakai untuk menegakkan keadilan. Itu tidak bisa,” kata Bismar. &lt;br /&gt;Bismar pernah menjatuhkan hukuman yang menggemparkan, ramai diperdebatkan publik. Saat itu (1976), ketika menjabat Ketua PN Jakarta Timur, Bismar menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa Albert Togas. Dari situlah mencuat polemik tentang hukuman mati. Kasusnya, Albert Togas, karyawan PT Bogasari yang di PHK, membunuh Nurdin Kotto, staf ahli perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal selama menganggur, Albert ditolong oleh Nurdin. Namun Albert membunuh Nurdin secara keji. Mayatnya dipotong-potong, dagingnya dicincang, dicuci bersih, lantas dimasukkan ke dalam plastik. Setelah itu, potongan mayatnya dibuang ke sebuah kali di Tanjung Priok. Albert membalas air susu dengan air tuba, kebaikan dibalas dengan kejahatan. “Kekejaman itulah yang saya tidak ragu menjatuhkan hukuman mati,” kata Bismar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Bismar, atas putusannya, menerima serangan bertubi-tubi dari orang-orang yang menentang hukuman mati. Dia dicap tidak Pancasilais kare-na dituding menjatuhkan hukuman yang tidak patut dilakukan oleh seo-rang hakim, merampas nyawa orang. Sedangkan yang berhak melakukan itu hanya Tuhan. Bismar punya alasan sendiri, boleh saja berbeda pendapat. Tetapi, sebagai seorang muslim, “saya katakan, hukuman mati itu sah-sah saja. Sebab, ada ayat membenarkan hukuman mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga putusan kontroversi lainnya menyangkut kasus pemerkosaan yang menimpa keluarga Acan di Bekasi. Bismar mengusulkan agar hakim yang mengadili kasus itu menjatuhkan hukuman mati kepada pata pelakunya yang lebih keji dari binatang. Menurut Bismar ketentuan hukum positif yang maksimal menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara bagi terdakwa kasus pemerkosaan terlalu ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Bismar: “Kalau dalihnya tidak Pancasilais, Pancasila yang mana?” Pancasila sejatinya sesuai dengan iman Islam. Berbeda dengan umat Kristiani yang Kitab Perjanjian Baru-nya tidak membolehkan hukuman mati. Tapi dalam Kitab Perjanjian Lama hukuman mati dibolehkan. Jadi, sebetulnya tidak ada pertentangan di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan kontroversial lain, hukuman pidana bagi pengedar ganja ketika dia menjabat Ketua Pengadilan Tinggi di Medan. Seorang terdakwa yang dituntut jaksa 10 bulan penjara, Bismar melipatgandakan menjadi 10 tahun. Yang 15 bulan menjadi 15 tahun. Karena itu, dia sangat prihatin dengan keputusan hakim yang menjatuhkan hukuman hanya 4 tahun penjara kepada ratu ekstasi Zarima. Padahal, Zarima tertangkap membawa 29 ribu pil setan. Apakah hakim, itu tidak mengetahui dan merasakan akibat dari perbuatan Zarima. Jika Bismar yang jadi hakimnya, Zarima layak dihukum mati. Mestinya bikin shock therapy buat pengedar narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1974, Bismar juga membuat putusan yang menghebohkan tentang perkawinan yang tidak berdasarkan hukum perkawinan. Kasusnya menimpa pasangan yang beragama Katolik. Tapi, dilaksanakan secara agama (tidak melalui catatan sipil). Bagi Bismar, perkawinan itu sah. Mengapa? Sebab dia melihat sosok yang meresmikan perkawinan itu membawa nama Tuhan. Seorang pastur. Masa pastur mempermainkan nama Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini sempat membuat ribut kalangan praktisi hukum. Soalnya dia dinilai telah merusak kepastian hukum. Karena sudah ada ketentuan bahwa setiap perkawinan yang tidak dilaksanakan sesuai dengan undang-undang tidak sah. Namun Bismar merasa bahagia karena sebagai muslim bisa memberikan rasa keadilan kepada orang yang tidak seiman dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubah Manusianya&lt;br /&gt;Sebenarnya, menurut Bismar, mate-ri dan sistem hukum yang berlaku sekarang tidak perlu diubah. Sudah bagus. Yang perlu diubah adalah manusianya. Dalam peradilan di Indonesia telah dengan tegas disebut-kan bahwa dasar seorang hakim dalam mengambil keputusan: “Demi Keadilan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” Indonesia sudah mempunyai irah-irah (baca: sumpah) yang sesuai dengan sila pertama Pancasila. Baginya, irah-irah harus dihayati dan dipahami. Bukan Cuma di bibir (lips service), kenyataan tidak.&lt;br /&gt;Bismar merujuk pada firman Tuhan (dalam Al Quran): “Jangan perjualbelikan ayat-Ku dengan harga yang murah.” Dan, irah-irah atas nama Tuhan sekarang sudah diperjualbelikan. Bismar menangis kalau ada penyimpangan keadilan dengan mengatasnamakan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismar prihatin dengan merosotnya wibawa penegak hukum di mata masyarakat saat ini. Kalau mencari bukti-buktinya mudah saja. Contoh-nya, banyak kasus pelanggaran hu-kum yang masuk dark number. Tapi dia merasa risih dengan akronim-akronim yang berkembang di masyara-kat berkaitan dengan jabatan penegak hukum. Misalnya, “Polisi” (baca: main amplop), “Jaksa” (Tukang Injak dan Tukang Paksa), “Hakim” (Hak si Kim, baca : kepentingan orang Cina, atau Hubungi Aku Kalau Ingin Menang). Mestinya ungkapan-ungkapan itu membuat aparat penegak hukum mawas diri. Bismar mengajak para penegak hukum, kalau itu benar, beristighfarlah, jangan diteruskan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-3322048353977998301?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/3322048353977998301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/3322048353977998301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/01/bismar-siregar.html' title='Bismar Siregar'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-4619108942876664751</id><published>2007-01-30T17:44:00.001-08:00</published><updated>2007-01-30T17:50:27.167-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Abdul Haris Nasution (1918-2000)</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Jujur Pada Sejarah dan Nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi. Namun Tuhan memberkatinya umur panjang, 82 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat beribadat. Ia tak pernah tergiur terjun ke bisnis yang bisa memberinya kekayaan materi. Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya, Pak Nas orangnya. Tangan-tangan terselubung memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah Pak Nas pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga Pak Nas terpaksa membuat sumur di belakang rumah. Sumur itu masih ada sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tragis. Pak Nas pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal Pak Nas sendiri menjadi tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak yang dipimpin Kolonel Latief. Pak Nas-lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Nas, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi awal Oktober 1965. Kedua, ketika menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi ABRI, Pak Nas ikut merasa bersalah, konsepnya dihujat karena peran ganda militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran tentara menyimpang dari konsep dasar, lebih menjadi pembela penguasa ketimbang rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Nas memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Pak Nas menjelang akhir hayatnya. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Pak Nas tidak menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Nas dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya&lt;br /&gt;melawan kolonialisme Belanda. Tentang berbagai gagasan dan konsep perang gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, jadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Dan, Pak Nas tak pernah mengelak sebagai konseptor Dwi Fungsi ABRI yang dikutuk di era reformasi. Soalnya, praktik Dwi Fungsi ABRI menyimpang jauh dari konsep dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenderal Besar Nasution menghembuskan nafas terakhir di RS Gatot Subroto, pukul 07.30 WIB (9/9-2000), pada bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ia nyaris tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma, ketika pemberontakan PKI (G-30-S) meletus kembali tahun 1965. Tahun 1948, Pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya anggota pergerakan Sarekat Islam di kampung halaman mereka di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Pak Nas senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini melahap buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas AMS-B (SMA Paspal) 1938, Pak Nas sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Tetapi kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer, terhenti karena invasi Jepang, 1942. Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Mtode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (948-1949). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Nas muda jatuh cinta pada Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo, aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Pak Nas gemar bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung) sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri (seorang terbunuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengagum Bung Karno di masa muda, setelah masuk di jajaran TNI, Pak Nas acapkali akur dan tidak akur dengan presiden pertama itu. Pak Nas menganggap Bung Karno campur tangan dan memihak ketika terjadi pergolakan di internal Angkatan Darat tahun 1952. Ia berada di balik ''Peristiwa 17 Oktober'', yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Bung Karno memberhentikannya sebagai KSAD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno akur lagi dengan Pak Nas, lantas mengangkatnya kembali sebagai KSAD tahun 1955. Ia diangkat setelah meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta. Pak Nas dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja. Keduanya tidak akur lagi usai pembebasan Irian Barat lantaran sikap politik Bung Karno yang memberi angin kepada PKI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam situasi seperti itu Pak Nas tetap berusaha jujur kepada sejarah dan hati nuraninya. Bung Karno tetap diakuinya sebagai pemimpin besar. Suatu hari tahun 1960, Pak Nas menjawab pertanyaan seorang wartawan Amerika, ''Bung Karno sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya faham perjuangan kemerdekaan.''&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-4619108942876664751?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4619108942876664751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/4619108942876664751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/01/abdul-haris-nasution-1918-2000.html' title='Abdul Haris Nasution (1918-2000)'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-1627555233938558688</id><published>2007-01-30T17:44:00.000-08:00</published><updated>2007-01-30T17:45:06.582-08:00</updated><title type='text'>Aulia Pohan</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Aulia Pohan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deputi Gubernur Bank Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aulia Pohan, Deputi Gubernur Bank Indonesia dilahirkan di Palembang, 11 September 1945. Menyelesaikan pendidikan MA dalam Ekonomi Studi Pembangunan dari Boston University, USA. Mengikuti berbagai program pendidikan di luar negeri diantaranya; Financial Programming Policy Course IMF, Washington; ADB Training on Monetary and Fiscal Policies, Tokyo; Workshop in Harvard University dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengawali karirnya sebagai pegawai Bank Indonesia di Urusan Pengawasan dan Pembinaan Bank-bank pada tahun 1971, menjadi staf Gubernur Bank Indonesia pada tahun 1979, Urusan Ekonomi dan Statistik, dan sebagai Associate Representative di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tokyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan terakhir adalah sebagai Kepala Urusan Penelitian dan Pengembangan Intern. Beliau juga aktif sebagai pengajar di berbagai lembaga dan Universitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan disahkannya UU No 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, maka berdasarkan Keppres Nomor 151/M tahun 1999 tanggal 17 Mei 1999, beliau diangkat menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-1627555233938558688?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/1627555233938558688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/1627555233938558688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/01/aulia-pohan.html' title='Aulia Pohan'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-116831864709110906</id><published>2007-01-08T20:44:00.000-08:00</published><updated>2007-01-08T20:57:27.360-08:00</updated><title type='text'>Rumah Suluk Sitorus</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Ratusan Jamaah Hadiri HUL II &lt;br /&gt;Rumah Suluk Naqsabandiyah&lt;br /&gt;Kisaran, WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ratusan jamaah Tarekat Naqsabandiyah dari berbagai kabupaten di Sumatera Utara menghadiri HUL ke II Rumah Suluk Naqsabandiyah Baitul Hijrah, Dusun Sarimatua, Desa Tanjung Sigoni, Kec. Medang Deras, Kab. Asahan, Senin (1/1).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain itu hadir Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Ka-bupaten Asahan, H Usman Effendy Lc, Pemimpin Rumah Suluk Baitul Hijrah Khalifah H. Effendy Sitorus, tuan-tuan guru (Mursyd), Camat Medang De-ras, Drs. Sori Muda Siregar, Kepala Desa, tokoh agama dan masyarakat undangan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua MUI Asahan, H. Usman Effendy, LC dalam sam-butannya mengatakan, di negeri-negeri yang berkembang ajaran tarekat merupakan negeri yang makmur dan kaya. Hampir di seluruh penjuru du-nia, negara yang berkembang ajaran sufisme Islam, memiliki sumber tambang minyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan dimana ada wali Allah, mursyid-mursyid dan khalifah-khalifah tarekat pasti dinegeri itu terdapat tam-bang Minyak, karena setiap tengah malam ada hamba Allah yang berzikir ribuan kali menye-but nama-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang khalifah katanya, adalah pemimpin dunia yang bertugas untuk memakmurkan bumi. Karena itu tugas Khalifah sangat berat untuk meluruskan moral manusia yang telah rusak. Namun dia menilai, telah terjadi kesalahan persepsi masyarakat terhadap kehidupan para sufisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat beranggapan seorang mursyid atau khalifah hidupnya jauh dari dunia. Islam adalah agama yang maju dan tidak kaku. Seperti contoh di Mesir saja, seorang Mursyid naik Mercedes Benz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi Islam tidak mengajar-kan manusia untuk hidup jauh dari dunia,” ujarnya sembari mengatakan anggapan-anggapan keliru ini berkem-bang akibat penjajahan Belan-da, yang menyuruh umat Islam hanya untuk memikirkan uru-san akhirat, dan melupakan dunia, agar Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim tetap di-jajah untuk disedot kekayaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suluk &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Pemimpin Ru-mah Suluk Baitul Hijrah Khali-fah H. Effendy Sitorus menga-takan, suluk merupakan meto-de Tarekat Naqsabandiyah seba-gai metode untuk mendekatkan diri kepada Allah yang bertujuan untuk melatih hati mengingat zat Allah secara terus menerus, terutama saat sakratul maut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, setiap muslim dalam menghadapi sakratul maut tidak ingat dan menyebut nama Allah, maka neraka ja-hannam bagiannya. Karena itu, zikrullah atau ingat kepada Allah hanya dapat berlangsung jika hati selalu dilatih untuk mengingatNya. “Ini makanya, hati perlu dilatih untuk berzikir, supaya ingat kepada Allah,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun diakuinya bahwa sebagian anggota masyarakat masih kurang menerima keha-diran metode suluk sebab be-ranggapan tidak memiliki dalil-dalil yang jelas. ”Padahal dalam Al Quran dan Hadist telah me-ngajarkan kepada kita untuk selalu berzikir kepada Allah,” tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cikal bakal rumah Suluk Baitul Hijrah adalah tempat sholat almarhum orang tua kan-dungnya, Lobe Saleh Sitorus, seorang Salik Naqsabandiyah. Rumah Suluk ini didirikan Tahun 1996 untuk meneruskan cita-cita orang tuanya. Dan kini telah menjadi pusat kegiatan Islam di Desa Tanjung Sigoni Kecamatan Medang Deras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camat Medang Deras, Sori Muda Siregar, atas nama peme-rintahan mengatakan, mayo-ritas penduduk Desa Tanjung Sigoni merupakan penganut Nasrani. Namun rumah Suluk ini bisa hadir di tengah nuansa yang berbeda dan sebagai tem-pat kegiatan dakwah Islam. ”Kita merasa bangga kehadiran rumah suluk ini bisa sebagai tempat kegiatan dakwah Islam dengan membangun sikap toleransi beragama,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyanyangkan kalau rumah Suluk ini tidak diman-faatkan oleh masyarakat Asahan sebagai tempat penggemble-ngan jiwa seorang muslim serta berharap, Rumah Suluk Baitul Hijrah mampu melahirkan kader-kader Islam, sebagai corong agama untuk membe-sarkan Syiar Islam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-116831864709110906?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116831864709110906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116831864709110906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2007/01/rumah-suluk-sitorus.html' title='Rumah Suluk Sitorus'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-116687544641821734</id><published>2006-12-23T04:02:00.000-08:00</published><updated>2006-12-23T04:04:06.660-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Cendikiawan Batak</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;SEJARAH CENDIKIAWAN BATAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH ISMAIL BIN ABDUL WAHAB HARAHAP: MATI DIEKSEKUSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya, Assyahid Fi Sabilillah Syeikh Ismail bin Abdul Wahab Tanjung Balai. Dia dilahirkan di Kom Bilik, Bagan Asahan, pada tahun 1897 daeri seorang ayah bernama H. Abdul Wahab Harahap dan ibu bernama Sariaman. Ayahnya berasal dari Huta Imbaru, Padang Lawas, Tapanuli Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan sekolah dasar dia melanjutkan pendidikan, khususnya, agama ke salah seorang ulama di Tanjung Balai, kepada al-Marhum Syeikh Hasyim Tua serta beberapa ulama lainnya. Tanjung Balai, selain kota pelabuhan yang sangat ramai, juga merupakan pusat pendidikan agama Islam di Kesultanan Asahan. Para mahasiswa dari berbagai negeri menjadikan Tanjung Balai sebagai tujuan pendidikan, seperti, Kerajaan Kotapinang, Kerajaan Pane dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1925, untuk melengkapi ilmu pengetahuan yang dimilikinya, dia berangkat ke Mekkah, yang menjadi pusat pertemuan intelektual-intelektual Islam sedunia. Di sana dia mengembangkan kemampuannya selama lima tahun sambil menunaikan ibadah haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak puas dengan standarisasi ilmu di Mekkah, dia melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar di Kairo, Pada tahun 1930. Dia menamatkan berbagai jenjang di antaranya, Aliyah, Alimiyah, Syahadah Kulliah Syar'iyah dan Takhassus selama dua tahun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahadah Aliyah saat itu setingkat dengan sarjana. Alimiyah setingkat dengan master. Syahadah Kulliah Syar'iyah merupakan pendidikan spesialisasi. Takhassus merupakan pendidikan tingkat Doktor sesuai dengan kurikulum Islam saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang sangat lama itu tidak memjadi halangan baginya, walau dengan pengorbanan meninggalkan putrinya yang masih kecil, bernama Hindun, yang lahir sesaat sebelum dia berangkat di Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktvitasnya tidak saja dicurahkan untuk penguasaan ilmu, dia juga aktif dalam politik untuk menentang kolonialisme. Berbagai kegiatan tersebut mengantarnya menjadi Ketua 'Jamiatul Khoiriyah', sebuah organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan melawan kolonialisme tersebut diperluas ke segenap puak Melayu yang berada dalam terkaman bangsa kolonial. Diapun terpilih menjadi Ketua Persatuan Indonesia Malaya selama tiga tahun. Selama kepemimpinannya dia berhasil membangun solidaritas dan nasionalisme di jiwa para pemuda Indonesia dan Malaysia yang belajar di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah Air, gaung nasionalisme tersebut semakin menjalar di kedua negara, sehingga nama Parpindom, akromin organisasi mereka tersebut, memberi harapan yang sangat jelas mengenai nasib bangsa yang terjajah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran politik di Indonesia dan Malaysia semakin berkembang pesat, saat beberapa tulisannya terbit di majalah-majalah di kedua negara. Majalah Dewan Islam, Medan Islam dan lain-lain, merupakan corong politik baginya yang menimbulkan kepercayaan diri bagi bangsa pribumu dengan nama samaran di koran; "Tampiras".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan selama tiga belas tahun di luar negeri, membuatnya terkenal saat pulang meninggalkan Port Said, Mesir ke Indonesia via Singapura, sebuah provinsi Malaya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 28 November 1936, dia kembali ke tanah air melalui Pelabuhan Teluk Nibung tepat pukul 15.45, dengan menumpang Kapal Kampar dari Bengkalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangannya, tanpa diduga-duga telah diketahui oleh masyarakat Tanjung Balai. Sehingga, secara spontan, masyarakat yang rindu dengan jiwa perjuangan tersebut menyambutnya di pelabuhan dengan lagu-lagu perjuangan, Tala'ah Badru Alaina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diapit oleh adiknya Zakaria Abdul Wahab Harahap yang menjemputnya di Bengkalis, dia mendekati satu persatu masyarakat yang menyambutnya dengan sebuah kehangatan akan harapan untuk membela harga diri bangsa dari kezaliman penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dipahami kedatangannya ke Tanah Air kemudian dipersulit oleh penjajah Belanda, sehingga beberapa persoalan dan kesulitan juga menyambutkan bersama sambutan hangat dan menggebu-gebu dari masyarakat untuk tokoh pergerakan nasional ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kewibaan dan kesabaran yang ditunjukkannya membuatnya dapat bertaham dan kemudian mendirikan sebuah institusi pendidikan dengan nama "Gubahan Islam". Yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Tanjung Balai. Beberapa tokoh setempat berlomba-lomba menbantunya seperti H. Abdur Rahman Palahan dan H. Abdul Samad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali insiden yang mengarah kepada kekacauan sosial diciptakan oleh intel-intel penjajah untuk membuat gap antara masyarakat dengan lembaga pendidikan tersebut. Namun setiap kali itu pula si Harahap ini berhasil mengatasinya dengan karisma yang terletak di pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang diterapkannya di perguruan tersebut semakin lama semakin meningkat. Beberapa tahap dan level pendidikan didirikan untuk memenuhi permintaan masyarakat. Level pendidikan umum, dewasa, dan juga pendidikan politik bagi aktivis-aktivis kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagai seorang pemikir dan intelektual, kegiatannya tidak terpaku pada kegiatan ajar-mengajar. Dia juga terlibat dalam riset dan penelitian demi memajukan sistem sosial masyarakat di Tanjung Balai. Beberapa hasil riset dan pemikirannya tersebut tertuang dalam beberapa buku, antara lain "Burhan al-Makrifah". Artikel-artikelnya dimuat di hampir semua koran-koran di berbagai kerajaan dan kesultanan, yang sekarang menyatu menjadi Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Belanda mengeluarkan perintah rahasia untuk membungkamnya. Beberapa peraturan baginya dibuat khusus termasuk larangan untuk mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paska kemerdekaan RI, nasionalisme di Tanjung Balai mencapai puncaknya. Dia diangkat menjadi Ketua Nasional Kabupaten Tanjung Balai, untuk menegaskan kemerdekaan RI dari belenggu kolonialisme Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tebing Tinggi, dia menggalang solidaritas sesama ulama se Sumatera Timur pada tahun 1946 dan merumuskan beberapa fatwa untuk membantu ummat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ibadah yang mereka hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak heran, rakyat di Sumater Timur sangat merindukan kehadirannya saat dengan lantang menunjukkan keberaniannya untuk menurunkan bendera Jepang di Kantor Gun Sei Bu di Tanjung Balai. Sesuatu yang menurut orang banyak sebagai tindakan yang sangat nekat untuk ukuran zaman penjajahan Jepang yang otoriter tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela tanggung jawab sosial yang diembannya, dia masih bersedia untuk diangkat menjadi Penanggung Jawab sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Nasional "Islam Merdeka" yang kemudian diubahnya menjadi Majalah "Jiwa Merdeka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengisi kekosongan birokrasi dari kurangnya SDM Sumatera Timur saat itu, Gubernur Sumatera, Mr. T. M Hasan memintanya untuk menjadi Kepala Baitul Mal Jawatan Agama pada tahun 1946, yang berkedudukan di Pematang Siantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paska kemerdekaan Indonesia, Belanda kembali lagi dalam sebuah agresi militer yang dikenal Agresi Belanda I pada tahun 1947. Dia yang menjadi target operasi Belanda akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke Pulau Simardan. Enam hari setelah agresi tersebut dia menungunjungi rumahnya di Jalan Tapanuli, Lorong Sipirok, Tanjung Balai untuk mengambil perbekalan. Jam 10.00 pagi dia ditangkap oleh Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dakwan telah memprovokasi pemuda Indonesia untuk merdeka dia ditembak mati oleh Belanda pada hari Minggu 24 Agustus 1947 pukul 11.00. Dia tewas dalam umur 50 tahun dan dikuburkan di penjara Simardan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUAN GURU SYEIKH ABDUL WAHAB BESILAM: SANG IMAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir 10 Rabiul Akhir 1242 H atau 1817, di Kampung Runda, Rantau Benuang Sakti. Di merupakan salah satu tokoh dari berbagai tokoh Islam yang menjadi pembuka sebuah wilayah untuk kemudian menciptakan sebuah masyarakat Islam dengan peraturan dan perundang-undangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama kota madani tersebut adalah Babussalam yang dikenal dengan Besilam di Kesultanan Langkat. Kesultanan Langkat merupakan Kesultanan Islam, yang penduduknya kebanyakan Muslim Karo dan tunduk kepada kedaulatan Kesultanan Aceh sebelum akhirnya dijajah Belanda. Kesultanan tersebut sejak dulu merupakan pusat pengembangan Islam. Beberapa peninggalan arsitektur Islam di daerah ini masih tersisa sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Guru, dari Besilam, menjadi pusat organisasi tarekat Naqsabandiyah yang meliputi Asia Tenggara. Beberpa buku dan ajarannya menjadi acuan jutaan ummat manusia yang menjadi pengikutnya. Tuan Guru menjadi sebuah 'Imam' bagi ajaran tarekat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH SULAYMAN AL-KHOLIDY HUTAPUNGKUT: PENGASAS ORGANISASI SULUK TANAH BATAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Hutapungkut, Kotanopan pad atahun 1842. Ayahnya bernama Japagar, seorang tokoh pemuda yang mempunyai bebraap seni beladiri dan menetap di Sipirok sebagai insinyur yang menguasasi pengolahan logam, khusunya besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merupakan mahasiswa Abdul Wahab Rokan serta beberapa ulama lainnya. Dia natara kolega mahasiswanya yang setingkat adalah Syeikh Ibrahim dari Kumpulan Lubuk Sikaping dan Syeikh Ismail dari Padang Sibusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setamat pendidikanya di menjadi tokoh pembaharu sosial di Padang Lawas dengan ajaran-ajaran tarekat yang dibawanya. Di Padang Lawas dia menjadi intelektual yang menjadi pusat tujuan belajar para pemudan dan tokoh setempat. Salah satu tokoh Padang Lawas yang berguru kepadanya adalah Syeikh Abdul Qadir yang sampa sekarang masih dikenal sebagai pahlawan dalam mengentaskan pendidikan di Padang Lawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat kelahirannya Hutapungkut menjadi ramai dengan kunjungan para musafir yang ingin belajar dengannya. Rumahnya menjadi pusat studi dan riset yang menyangkut semua maslahat ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian dia mendirikan mensjid di samping rumahnya yang membuat lembaga studi itu semacam perguruan yang menjadi pusat tarekat Naqsabandiyah di Tapanuli Selatan. Pendirian mesjid dan bangunan-bangunan tersebut dilakukan sendiri oleh Syeikh dengan para mahasiswanya dengan bahan baku dari huta-hutan sekita 15 kilometer dari rumahnya. Sehingga, berubahnya Hutapungkut menjadi kota mandiri dan pusat pendidikan di Tapanuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alumni dari perguruan ini adalah Syeikh Basir dari Pekantan yang dikenal dengan Tuan Basir (Lihat; Pustaha Tumbaga Holing, Tampubolon) di kalangan masyarakat Batak Toba karena Syeikh Basir ini merupakan tokoh yang menjadi penyebar Islam, terutama tarekat atau suluk di seluruh pelosok dan pedalaman Tanah Batak Toba. Organisasi-organisasi suluk di huta-huta di Toba tersebut menjadi kekuatan penting dalam pengusiran penjajah Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumni lainnya adalah Syeikh Husein dari Hutagadang yang menjadi penerus kepemimpinan Naqsabandiyah di Tapanuli Selatan. Alumni lainnya diantaranya; Syeikh Hasyim Ranjau Batu, Syeikh Abdul Majid Tanjung Larangan Muara Sipongi, Syeikh Ismail Muara Sipngi, Syeikh Muhammad Saman Bukit Tinggi dan puteranya sendiri Syeikh Muhammad Baqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang alumni Hutapungkut, Syeikh Abdul Hamid, menjadi imam dan pengajar di Mesjidilharam Mekkah, sebelum kembali ke Hutapungkut sebagai pemangku Khalifah Naqsabandiyah untuk daerah Tapanuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Sulayman al-Kholidy sebagai peletak pondasi intelektualisme Tapanuli di Hutapungkut, meninggal 12 Oktober 1917.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH ABDUL HALIM HASIBUAN GELAR SYEIKH BOSAR: SANG EDUKASIONIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Hasibuan dilahirkan di Sihijuk, Sipirok dari seorang ayah yang menjadi Qadhi, dengan nama Maulana Kadi Hasibuan dengan gelar H.M. Nurhakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Tanah Air, dalam umur 12 tahun dia berangkat ke Mekkah untuk meneruskan pendidikannya. Di Mekkah dia belajar dan mengeluti intelektualisme Mekkah selama tiga puluh tahun antara 1870-1900.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-gurunya antara lain, Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Asy'ari Bawian, Syeikh Kendi dan Syeikh M. Daud Fathoni. Spesialisasi yang dikuasasinya dalah Jusrisprudensi (Fiqih), Hadits dan Tasawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya ke Tanah Air, dia diangkat menjadi  Syeikh di mesjid raya lama Padang Sidempuan selama dua puluh tahun. Saat itu, fungsi mesjid selain tempat ibadah juga menjadi lembaga pendidikan, konseling, ifta (atau penetapan fatwa untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat) dan pusat riset dan pengembangan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain terlibat di pusat kegiatan sosial, dia juga mendirikan perguruannya di Hutaimbaru, Angkola Julu. Perguruan tersebut makin lama makin sering dikunjungi para mahasiswa-mahasiswa di seantera negeri. Beberapa almuninya antara lain: Syeikh Kadir Aek Pining Batang Toru, Syeikh Harus adik Syeikh Bosar, H. Hasan Mompang Julu, Dja Mulia Simarpinggan, Syeikh Abrurrahman Sialogo, H. Daud Momang Julu dan tokoh intelektual masyarakat Batak Toba, Abdul Halim Perdede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1920, dia meninggal di Mesjid Lama Padang Sidempuan. Sebelum meninggal, dia dikenal sangat aktif berpolitik khususnya dalam pengembangan politik di Tapanuli Selatan, khsusunya sebagai Ketua Syarikat Islam Tapanuli Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH ABDUL HAMID HUTAPUNGKUT: SANG REFORMIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir pada tahun 1865 M, dan merupakan tokoh pembaharu. Sebagai intelektual dia banyak terlibat dalam pengembangn kultur dan budaya di Tapanuli Selatan. Dia merupakan tokoh yang berdiri untuk semua golongan dan tidak mau terlibat dalam ajaran tarekat Naqsabandiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1918, dia mengembangkan Islam di Pematang Siantar dan menjadi Qadhi di Timbang Galung. Selama dua tahun dia mengabdikan diri di tengah-tengah masyarakat Batak Simalungun, dia kembali ke tanah kelahirannya pada tahun 1920.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana dia mendirikan perguruannya di sebuah mesjid yang dibangunnya dan memperkaya Hutapungkut sebagai kota dengan seribu perguran Islam. Slah satu alumninya adalah Lebay Kodis. Sambil menjadi cendikiawan di perguruan tersebut dia juga terlibat dalam kegiatan politik mengusri Belanda sampai akhirnya dia bergabung dengan Permi dan PSII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat pembaharuan yang dibawanya membuat beberapa generasi muda di Hutapungkut mendirikan beberapa perguran diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Maktab Ihsaniyah, didirikan pda tahun 1927 dengan guru besar Muhammad Ali bin Syeikh Basir yang berasal dari Deli Tua, Kesultanan Deli.&lt;br /&gt;2. Diniyah School pada tahun 1928 dengan guru besar H. Fakhruddin Arif dengan nama Arjun.&lt;br /&gt;3. Di Manmbin berdiri Madrasah Islamiyah dengan guru besar Hasanuddin dari Kesultanan Langkat.&lt;br /&gt;4. Tahun 1929 di Sayur Meincat Kotanopan dengan nama isntitusi Subulus Salam dengan guru besar H. Ilyas dari Kesultanan Deli.&lt;br /&gt;5. Tahun 1929 di Singengu Kotanopan dengan guru besar H. Nurdin Umar dari Kesultanan Langkat dengan nama perguruan Syariful Majlis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renaissance Hutapungkut yang digagas oleh Syeikh akhirnya diteruskan oleh beberapa generasi penerusnya setelah wafatnya pada tahun 1928.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH JA'FAR HASAN TANJUNG: SANG ORGANISATOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Remburan, Mandailing pada tahun 1880, anak kedua dari dua belas putera-puteri Syeikh Hasan Tanjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil dia merantau ke Kesultanan Deli, tepatnya Medan dan tinggal bersama pamannya yang menjadi pengusaha sukses yang bernama H. Hamid Panjang Mise dan mempunyai banyak gerai batik salah satu diantaranya di Kesawan No. 34 Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1904, dia diutus oleh pamannya tersebut untuk belajar ke Mekkah. Setelah beberapa tahun di sana dia melanjutkan studinya ke Bait al-Maqdis, Jerusalem, Palestina. Dari sana dia melanjutkan kelana pendidikannya ke Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1912, dia kembali ke tanah air dan mengembangkan Islam dan pendidikan di Kesultanan Deli, tepatnya di Jalan Padang Bulan 190 Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalamannya tersebut dia diangkat menjadi Pemimpin di Maktab Islamiyah  Tapanuli, Medan yang berdiri pada 9 Syakban 1336 H. Pimpinan setelah itu adalah H. Yahya, Syeikh Ahmad dan Syeikh M. Yunus berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarahnya, rumahnya yang di Padang Bulan tersebut, diserahkannya kepada al-Jam'iyah al-Washliyah yang menjadi organisasi masyarakat muslim di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tokoh masyarakat, dia menunjukkan sebauh kebiasaan baru yang tidak lazim saat itu, bahwa dia tidak mau menerima zakat yang menurutnya ada beberapa ashnaf yang lebih berhak menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangsihnya dalam perjalanan karir politik adalah pendirian organisasi seperti al-Jam'iyah al-Washliyah di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KADHI H. ILYAS PENYABUNGAN: SANG KADHI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilahirkan di Sabajior, Penyabungan pada 10 Rabiul Awal 1302 H. Ayahnya bernama H Sulayman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia aktif mengembangkan Makbat Subulussalam sampai akhirnya penguasa Sukapiring memintanya menjadi Kadhi di Sukapiring, Kesultanan Deli. Masa hidupnya dihabiskan untuk membesarkan organisasi al-Jam'iyah al-Washliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH JUNEID THOLA RANGKUTI: PENGASAS PHILANTROPHY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Huta Dolok, Huta Na Male, Negeri Maga, Kotanopan. Pada saat itu Huta Dolok masih bernama Pagaran Singkam suatu wilayah yang terletak di kaki Gunung Sorik Marapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kecil ayahnya Thola Rangkuti memberinya nama Si Manonga karena lahir dengan kondisi yang sangat sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah dasar di Maga dan dilanjutkan di Tanobatu yang selesai pada tahun 1906. Semangatnya untuk melanjutkan pendidikannya terinspirasi oleh H, Abdul Malik Lubis, seorang tokoh intelektual lokal di Maga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Juneid merupakan pelopor legiatan wakaf atau filantrofi di Tapanuli. Melalui serangkaian kegiatan dia berhasil mengumpulkan dana untuk mendirikan perguruan pendidikan di Huta Na Male. Di samping itu dia juga mendirikan beberapa lembaga sosial ekonomi dari hasil wakaf yang dikumpulkannya. Di antaranya adalah pasar wakaf di Huta Na Male.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gerakan wakaf ini, Huta Na Male dan Maga menjadi sebuah negeri dengan perputaran eknomi yang cukup mapan. Beberapa pengusaha lokal pun akhirnya muncul dan menyebar menguasasi ekonomi Tapanuli di berbagai tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Juneid dikhabarkan berhasil membangun industri lokal untuk memproduksi peralatan dan barang-barang sandang pangan buatan lokal. Dia sendiri banyak terlobat dalam produksi minyak nabati seperti minyak nilam dan produksi sepatu yang bahan bakunya diambil dari kebun wakaf yang menjadi  modal ekonomi masyarakat di Tapanuli. Pembangunan sosial yang madani ini akhirnya diteruskan oleh para generasi penerusnya setelah dia meninggal pada 30 Maret 1948.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH MUHAMMAD YUNUS TAPANULI: SANG POLITIKUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir 1889, merupakan pendiri 'Debating Club'; yang sangat terkenal. Kehidupannya banyak dibahas dalam biografi tokoh-tokoh yang menjadi pentolan melawan penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. MUHAMMAD MUKHTAR HARAHAP: PEMBAHARU SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Padang Bolak pada tahun 1900. Dia merupakan pendiri sebuah lembaga pendidikan yang prestisius Pondok Pesantren al-Mukhtariyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa di Mekkah dia belajar dengan beberapa tokoh di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syeikh Mukhtar Bogor&lt;br /&gt;2. Syeikh Abdul Kadir Mandily&lt;br /&gt;3. Syeikh Ali Maliki Mekkah&lt;br /&gt;4. Syeikh Umar Bajuri Hadramy&lt;br /&gt;5. Syeikh Abdurrahman Makky&lt;br /&gt;6. Syeikh Umat Satha Makky&lt;br /&gt;7. Syeikh Muhammad Amin Madinah&lt;br /&gt;8. Syeikh Muhammad Fathani Malaya&lt;br /&gt;9. Ustadz Nila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Harahap ini merupakan tokoh modernisasi pendidikan di Padang Lawas. Organisasi yang didirikannya, al-Mukhtariyah, menerapkan sistem organisasi pendidikan di wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang moderen, beberapa cabang perguruan lain berdiri di tanah Batak di antaraya di Kerajaan Portibi pada tahun 1935. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cabang lain antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kerajaan Portibi (Julu) yang dipimpin oleh guru besar Syeikh Abdul Halim Hasibuan&lt;br /&gt;2. Simaninggir dengan pimpinan guru besar Syeikh Guru Uteh&lt;br /&gt;3. Rondaman Dolok dipimpin oleh guru besar Syeikh H. Mursal&lt;br /&gt;4. Hotang Sosa dengan pimpinan guru besar Syeikh Guru Jidin&lt;br /&gt;5. Alonan dipimpin oleh Syeikh Zakaria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan lain dari Syeikh Harahap adalah modernisasi sistem ekonomi dan sosial masyarakat. Dia merupakan tokoh yang mengasas terbetuknya koperasi di beberapa tempat masyarakat muslim Tapanuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koperasi tersebut berhasil mengentaskan kemiskinan di wilayah tersebut dan menjadi arena pendidikan untuk pengusaha-pengusaha lokal. Namun sayang, penjajahan Jepang sempat mematikan koperasi-koperasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alumni perguruan tersebut telah menjadi pendiri beberapa perguruan lainnya dan banyak menjadi tokoh pendidikan di Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH H. ADNAN LUBIS: AHLI TATA NEGARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkap al-Fadhil Haji Adnan Lubis. Lahir  Mei 1910 di kampung Arab, Medan, Kesultanan Deli. Ayahnya H. Hasan Kontas, seorang saudagar kain di Panjang/Kesawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merupakan alumni Maktab Islamiyah Tapanuli di Jalan Hindu. Pada tahun 1926, dia berangkat ke Mekkah bersama Syeikh Nawawi yang menjadi Syeikh Jama'ah di Mekkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1934, dia melanjutkan pendidikannya ke India, tepatnya Nadwa College (Darul Uloom Nadwatul Ulama), sebuah universitas yang banyak melahirkan cendikiawan dari mahasiswa di seluruh dunia, khususnya negara-negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampus tersebut, kemampuan bahasanya bertambah dengan penguasaan bahasa Urdu yang serupa dengan bahasa Sansekerta. Selama studi di India, dia berhasil menulis beberapa buku yang di antaranya dicetak di Medan seperti: Kisah Perjalanan Imam Syafii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun dihasbiskan di Lucknow untuk mempelajari ilmu Ekonomi, Politik dan ilmu-ulmu lainnya dan luluh dengan predikat al-Fadhil. Al-Fadhil merupakan gelar untuk master sementara Alimiyat adalah gelar untuk sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tokoh ulama di India tercatat sebagai dosennya di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syeikh Mas'ud Alam&lt;br /&gt;2. Syeikh Sibli Nu'mani yang merupakan tokoh India&lt;br /&gt;3. Syeikh Sulayman al-Nadwi&lt;br /&gt;4. Syeikh Tarmizi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1939, dia kembali ke Indonesia dan menikah dengan boru Nasution bernama Rachmah binti Abdul Malik Nasution dengan dua puteri dan lima orang putera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia aktif berorganisasi dalam al-Jam'iyatul al-Washliyah dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung pengusiran Belanda dari Tanah Air. Kegiatan utamanya dalam pendidikan tidak pernah ditinggalkannya. Misalnya sebagai Guru Besar di Universitas Islam Sumatera Utara untuk mata kuliah Hukum Islam pada tahun 1952.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1956-1959 dia diangkat menjadi Aggota Konstituante dan pada tahun 1958 menjadi rektor sebuah universitas prestisius UNIVA sebuah universitas paling bermutu di jamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tulisannya mengani Hukum Islam, Pengantar Hukum Islam dan Perbandingan Islam. Di bidang sastra dia juga menulis 'Gubahan Perjuangan Rasul'. Menerjemahkan Kitab 'Falsafah Timur' karangan Prof. Ghallib dari Mesir. Selain buku-buku agama dia juga menulis buku-buku politik seperti Hukum Tata Negara Islam. Buku tersebut ditulis selama dia menjadi anggota Konstituante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABDUL FATAH PAGARAN SIGATAL: MODERNIS SULUK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama kecilnya Abdul Fatah berasal dari Porlak Tele di Batahan yang masuk dalam wilayah Natal, Tanah Batak Selatan. Menurut riwayatnya beliau wafat pada tahun 1900 dalam usia 91 tahun. Oleh sebab itu tahun kelahirannya diperkirakan pada tahun 1809.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Lamri dan Barus, Natal merupakan pelabuhan kuno yang telah mendapat sentuhan peradaban Islam dengan nuansa budaya Batak. Selama hidupnya dia berkecimpung dalam mengembangkan organisasi-organisasi suluk yang banyak tumbuh di tanah Batak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIK MUHAMMAD YUNUS HURABA: TOKOH PEMBANGUNAN SOSIAL SIPIROK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir pada tahun 1894 di Huraba, Mandailing. Setelah kuliah di Mekkah dia membangun Sipirok pada tahun 1865 melalui permintaan Namora Natoras setempat. Pembangunan masyarakat Islam di Sipirok dimulai dengan mendirikan mesjid raya serta beberapa bangunan lembaga pendidikan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hadirnya Syeikh di Sipirok, dapat dipastikan bahwa struktur masyarakat Sipirok akhirnya dapat berkembang sesuai dengan masyarakat modern untuk level saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sipirok menjadi pusat pendidikan Islam dan banyak ulama yang lahir dari tangannya. Diantaranya adalah Syeikh Syukur Labuo dari Parau Sorat dan anaknya sendiri yang bernama Tuan Syeikh Ahmad Disipirok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh meninggal pada tahun 1909. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUAN GURU AHMAD ZEIN BARUMUN: SAUDAGAR YANG INTELEKTUAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merupakan anak dari aristokrat Kerajaan Aru Barumun dari Tanjung Kenegerian Paringgonan, Barumun. Dia dilahirkan di lembah Gunung Malea tepatnya di Pintu Padang Julu pada tahun 1846.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak seorang aristokrat, dia menjadi saudagar yang berkeliling dari satu onan ke onan yang lain di sepanjang Bukit Barisan. Di sela-sela kegiatan ekonominya tersebut, dia meyempatkan diri untuk mempelajari buku-buku ilmu pengetahuan secara otodidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan kemampuannya dia merantau ke Tanjung Balai sebuah kota pelabuhan yang banyak ditempati ulama-ulama terkenal saat itu. Di sana dia bermukim dan belajar kepada tokoh-tokh intelektual sampai usia 23 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Tanjung Balai, dia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan sekaligus menimba ilmu seperti halnya tokoh-tokoh Batak lainnya pada tahun 1869. Dengan kapal layar dia menuju pelabuhan Jeddah dan berguru di beberapa ulama terkenal di Mekkah di antaranya; seorang ulama Batak Syeikh Abdul Kadir bin Syabir yang keturunan Penyabungan, Syeikh Abdul Jabbar keturunan Mompang Mandailing dan Syeikh Abu Bakar Tambusai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ulama keturunan Batak tersebut, dia juga menimba ilmu dari ulama-ulama Nusantara yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Mukhtar Bogor, Syeikh Umar Sumbawa dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua belas tahun di Mekkah di kembali ke Tanah Air dengan mendirikan sebuah institusi pendidikan di Pintu Padang Julu pada tahun 1901. Dengan sistematisasi pendidikan yang digagasnya, dia dapat menelurkan berbagai sarjana dengan metode pendidikan Arab yang modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pendidikan tersebut dia juga mengajarkat Tarekat Tahqin al-Zikri ala al-Naqsabandiyah. Dia kemudian meninggalkan Tarekat ini setelah membaca buku 'Izhar al-Kazibin' karya Ahmad Khatib Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 23 tahun di Pintu Padang dan menjadikannya pusat pendidikan intelektual dan cendikiawan Batak, dia kemudian kembali ke desa nenek moyangnya di Tanjung pada tahun 1924. Di Tanjung dia mendirikan pondok pesantren. Dengan kharisma yang dimilikinya dia berhasil mengembangkan Tanjung, Paringgonan, menjadi pusat studi Islam yang didatangi para mahasiswa dari seluruh penjuru Tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hidupnya, dia terlibat dalam aktivitas-aktivitas perlawanan kepada kekuatan penjajah Belanda. Puncak kegembiraan dalam hidupnya nampak saat kemerdekaan Indonesia. Dia meninggal pada tanggal 10 Oktober 1950.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. MUHAMMAD DAHLAN HASIBUAN: ORGANISATORIS DARI SIBUHUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Hasahatan Jae, Sibuhuan pada tahun 1904 M. Dia wafat pada tahun 1973. Orang tuanya, H. Abdur al-Rahman, seorang saudagar kaya dan sangat terkenal di Kesultanan Barumun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, bakat dagang ayahnya tidak diwarisi oleh Syeikh Hasibuan namun demi meneruskan tradisi ekonomi dan perdagangan keluarga dia memberikan tanggung jawab regenerasi kepada H. Baginda Soaduon Hasibuan yang menguasai perputaran ekonomi di Kesultanan Barumun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merupakan alumni dari Pondok Pesantren Galanggang Sibuhuan dengan guru besar H. Muhammad Shaleh Mukhtar. Setelah menamatkan studinya di sana, dia melanjutkan studinya di Kesultanan Langkat, tepatnya di Madrasah Aziziyah Tanjung Pura dengan kekhususan pada sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1920-1926, dia melanjutkan studinya di Mekkah dan kembali Indonesia dan mulai mengembangkan ilmunya di Maktab Syariful Majalis di Galanggang Sibuhuan. Pada tahun 1937 dia mengajar di Kampung Keling, Pematang Siantar. Namun, atas desakan masyarakat di Kesultanan Barumun, dia diminta kembali untuk membangun masyarakat di Barumun dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana dia Membangun sebuah institusi pendidikan yang sangat spektakuler dengan nama Jam'iyah al-Muta'allimin. Dari namanya bisa diartikan sebagai Universitas Mahasiswa. Namun paska kemerdekaan Indonesia, institusi ini menjadi mengerdil dengan sekedar setingkat pondok pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok tersebut yang dikenal dengan Pondok Aek Hayuara, menjadi center of excelent yang sangat terkenal di kesultanan tersebut karena menyediakan sistem pendidikan di berbagai level. Salah satu level adalah pondok dalam yang mahasiswanya terdiri dari orang dewasa yang sudah menikah, janda maupun duda. Pendidikan untuk semua umur digagas melalui pondok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemasyhuran pondok ini tidak saja di Kesultanan Barumun, tapi juga ke seantero Tanah Batak dan bahkan Sumatera. Mahasiswa-mahasiswa dari berbagai bahasa di Sumatera berduyun-duyun berdatangan di setiap pembukaan tahun ajaran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada zaman Jepang pondok ini mengalami kemunduran secara ekonomi akibat 'malaise' yang mengundang simpati dari pemimpin-pemimpin negeri. Tercatat Sultan Deli dari Kesultanan Deli kemudian berinisiatif untuk mensubsidi pondok ini. Inisiatif ini juga diikuti oleh Sultan dari Kesultanan Asahan dan Raja dari Kesultanan Kotapinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman kemerdekaan, dia kemudian melakukan pembaharuan di pondok tersebut dengan memasukkan kurikulum yang up to date sehingga pondok tersebut diakui 'hanya' setingkat PGA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi tokoh pendidikan di Kesultanan Barumun, dia juga aktif membangun UNUSU atau Universitas NU Sumatera Utara di Tapanuli. Melalui sentuhannya bebeapa anak muridnya menjadi tokoh pendidikan di mana-mana. Di antaranya Tuan Mukhtar Muda dan Tuan Ridho di UNUSU, H. Ja'far dengan membuka lembaga pendidikan baru yang bernama Pondok Lubuk Soripada di Tangga Bosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi H. Malik yang mendirikan Perguruan di Ubar Padang Bolak, H Ahmadsyah dengan perguruan di Langga Payung, Lobe Baharuddin dan Lobe Harun yang mempunyai perguruan masing-masing di Sibuhuan yang juga menjadi pusat pengembangan masyarakat Sibuhuan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paska kemerdekaan pula, dia aktif dalam organisasi-organisasi kemasyarakat dan politik seperti Masyumi. Selain itu dia juga akrif di berbagai dewan kenegerinya di Barumun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH ABDUL MUTHALIB LUBIS: TOKOH SPIRITUAL DARI MANYABAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Manyabar pada tahun 1847 dan wafat pada tahun 1937. Dia berasal dari keluarga miskin yang menggantungkan kehidupan dari pertanian dan beternak kerbau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umur 12 tahun dia merantau ke Kesultanan Deli. Dan pada tahun 1864 dia berangkat ke Mekkah setelah mendapat bekal yang cukup dari hasil usaha di Medan pada umur 17 tahun bersama abangnya Abdul Latif Lubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengahabiskan waktunya untuk studi di Mekkah sampai tahun 1874. Setelah itu dia musafir dan belajar di Baitul Maqdis, Jerusalem, Palestina dan kembali ke Mekkah, tepatnya Jabal Qubeis untuk belajar Tarekat Naqsabandiyah sampai tingkat Alim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padda tahun 1923 dia kembali ke Tanah Air setelah sebelumnya tinggal di Kelang Malaysia dan pulang pergi ke Mekkah. Di Manyabar, dia menggeluti kegiatan sosial dengan membangun kehidupan sosial masyarakat di berbagai tempat di antaranta; Barbaran, Hutabargot, Mompang Jae, Laru, Tambangan, Simangambat, Bangkudu, Rao-rao sampai ke Siladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan sosial ini sangat menyentuh langsung kepada permasalahan hidup sehari-hari masyarakat di berbagai tempat tersebut. Berbagai persoalan ditujuan kepadanya, mulai dari permasalaha rumah tangga, pekerjaan, kesulitan ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kegiatan tersebut, dia berhasil membentuk masyarakat-masyarakat tersebut untuk berswadaya dalam pembangunan fasilitas uumum dan sosial serta agama sepeti mesjid, fasiltas suluk dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kemarau yang sangat panjang, dia berinisiatif untuk mencari mata air dengan melakukan penggalian yang kemudian sangat berguna bagi warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keistimewaan beliau adalah hibinya melakukan long march yakni ritual berjalan kaki dari sebuah tempat ke tempat lain. Perjalanan itu pernah dilakukan ke Medan, kembali ke Petumbukan, Galang bahkan Pematang Siantar. Dalam perjalanan, mereka aktif menyapa masyarakat dan mencoba memecahkan dan meringankan masalah-masalah keseharian yang dialami penduduk yang dilaluinya. Berkat usahanya tersebut, berbagai masyarakat animisme di pedalaman-pedalamn tanah Batak banyak yang mengungkapkan niat mereka untuk memeluk Islam tanpa ajakan dan paksaan dari siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir hidupnya dia membuka sebuah forum diskusi dan pengajian di rumahnya yang selalu dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat dan mantan mahasiswanya dari berbagai penjuru antara lain Barbaran, Longat, Gunung Barani, Bunung Manaon, Adian Jior, Penyabungan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. MAHMUD FAUZI SIDEMPUAN: MENGISLAMKAN RIBUAN BATAK TOBA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Padang Sidempuan pada tahun 1896 dari ayah bernama H. Muhammad Nuh dan Ibunya Hajjah Aisyah. Ibunya Hajjah Aisyah merupakan salah satu intelektual perempuan Batak yang mempunyai jama'at perempuan. Eksistensi Aisyah membuat orang-orang Batak mengenalnya dengan gelar Ompung Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilahirkan dengan didikan sang ibu dengan nuansa agama membuatnya cenderung untuk menghayati pendidikan agama. Hal itu dilakukannya dengan berguru kepada Syeikh Abdul Hamid Hutapungkut yang menjadi satu-satunya tokoh Islam di sekitar kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kehendaknya sendiri, dia berangkat ke Hutapungkut, center of excelent, dan belajar langsung dengan Syeikh Hutapungkut selama tiga tahun. Pada tahun 1910 dia berangkat ke Mekkah atas dorongan gurunya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya, merupakan pendukung utama pendidikannya di Mekkah. Pada perang dunia pertama dia dikirimi uang sebesar dua puluh lima rupiah untuk biaya kehidupan sehari-hari di Mekkah. Namuan setelah PD I tersebut dia kembali ke Tanah Air pada tahun 1919.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Tanah Air dia menjadikan Batang Toru sebagai pusat pengembangan pendidikannya. Pada tahun 1926, atas kharisma dan kewibawaannya banyak warga Batak Toba dari pedalaman Tanah Batak yang datang mendengarkan ceramah agama yang diberikannya. Bahkan banyak diantaranya, khususnya dari Porsea dan Balige yang menetap dan mendirikan pemukiman di Batang Toru agar dapat menjadi bagian dari lembaga pendidikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Fauzi juga terlibat dalam mengislamkan orang-orang Toba yang berduyun-duyun mendatangi rumah kediamannya untuk menyampaikan keinginan mereka memeluk agama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para muallaf Toba yang datang dalam jumlah besar ini, Muhammad Fauzi menyediakan asrama sebagai tempat tinggal sementara sebelum mereka kembali ke kampung halaman masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Muallaf Toba tersebut, di zaman kemerdekaan banyak yang menjadi pegawai di kementrian agama di Republik Indonesia yang baru berdiri. Selain kegiatan dakwah dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan, Muhammad Fauzi juga banyak menulis buku namun sekarang ini sudah banyak yang hilang. Di antaranya yang dapat dicatat adalah Buku 'Menuju Mekkah-Madinah-Baitul Maqdis'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan organisasi yang diembannya terakhir sebelum meninggal dunia adalah Rois Suriyah NU di Batang Toru. Selain itu dia juga banyak mewakafkan hartanya untuk jalan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYEIKH BALEO NATAL: MENGINSAFKAN PARA RAJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Abdul Malik ayahnya bernama Abdullah dari Muara Mais. Dia dilahirnya pada tahun 1825. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kembali dari Mekkah, Yang Dipertuan Huta Siantar, Penyabungan meminta Syeikh Abdul Fattah  untuk menjadi guru agama di kerajaannya. Namun Syeikh Abdul Fattah tidak dapat memenuhinya karena berbagai kesibukannya dan kemudian menunjuk Syeikh Abdul Malik yang baru kembali dari Mekkah untuk mengisi jabatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abdul Malik berusaha membangun masyakat di Huta Siantar. Karismanya membuantnya banyak di datangi para mahasiswa dari Huta Siantar dan Penyabungan. Dengan usahanya yang pelan tapi pasti beberapa keluarga raja-raja di wilayah tersebut akhirnya diajaknya untuk menghidupkan aktivitas dan kegiatan mesjid. Mula-mula hal tersebut ditentang dan akhirnya mendapat sambutan baik dari elit aristokrat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas jasa-jasanya tersebut, Syeikh Abdul Malik yang masih sangat belia, dinikahkan dengan puteri Huta Siantar dan diapun menetap di sana. Untuk kedua kalinya, dia berangkat ke Mekkah kali ini beserta keluarganya melalui pelabuhan Natal yang saat itu merupakan pelabuhan internasional yang sangat ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya ke Tanah Air, kharismanya semakin meluas sehingga namanya semakin dikenal dan menjadi acuan dalam argumentasi agama mulai dari Padang Sidempuan, Sipirok, Padang Lawas dan Dalu-dalu. Dengan pengalaman tersebut dia kemudian digelar Baleo Natal sebagai bagian dari usahanya mengajarkan Islam secara tadrij alias berangsur-angsur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan mesra dengan penguasa atau raja-raja Huta Siantar bukan tanpa masalah. Berbagai masalah terjadi antara Umara dan Ulama tersebut. Namun hal itu dapat diatasinya dengan langkah-langkah yng tidak merusak kedua kelompok elit tersebut. Para raja semakin kagum dan takjub terhadapnya karena Syeikh juga mempunyai kemampuan dalam pengobatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By. Julkifli Marbun&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-116687544641821734?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116687544641821734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116687544641821734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2006/12/sejarah-cendikiawan-batak.html' title='Sejarah Cendikiawan Batak'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-116589913641889809</id><published>2006-12-11T20:50:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T20:52:16.620-08:00</updated><title type='text'>Buku Haji Batak</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Berjudul ”Orang Batak Pergi Haji”&lt;br /&gt;Baharudin Aritonang Luncurkan Buku Haji&lt;br /&gt;JAKARTA, (PR).-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Baharudin Aritonang meluncurkan buku Orang Batak Naik Haji. Buku yang ditulis dengan mengambil inspirasi dari karya sastrawan Danarto dengan judul ”Orang Jawa Naik Haji” ini menceritakan perjalanan serta renungannya ketika menunaikan ibadah haji tahun 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang diluncurkan di Press Room Gedung DPR/MPR Jakarta ini melukiskan pengalaman penulis yang disertai analisis dan fakta. Buku tersebut terkesan banyak analisisnya. Ini tidak terlepas dari profesi sebagai seorang politisi bahwa Baharuddin Aritonang adalah anggota DPR dari FPG. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asnawi Latif yang membedah buku ini juga menyebut bahwa dalam uraian-uraian secara analisis juga disertai guyonan-guyonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini Aritonang sempat berkelakar, asal nama ”onta”, misalnya. Satu ketika ada warga kampung Silalas Medan yang pergi haji. Ketika pulang ditanya orang kampungnya. ”Apa tandanya kalau Saudara sudah ke tanah suci?” tanya warga kampung. ”Saya bertemu binatang besar, bisa ditunggangi dan banyak sekali minum air,” jawabnya. ”Apa nama binatang itu”, dia menjawab, ”Ontahlah”, maksudnya entahlah, tidak tahu nama binatang itu. Akhirnya orang kampung tersebut menyebut binatang besar itu ”onta”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku setebal 216 halaman itu, Aritonang yang juga anggota Komisi IX DPR dan Badan Pekerja MPR itu menceritakan secara detail semua hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji yang dilaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengakui bahwa gagasan menulis buku tersebut terinspirasi dari buku serupa yang ditulis oleh Danarto dengan judul Orang Jawa Naik Haji. ”Sejak kuliah di UGM dulu, saya memang terkesan oleh karya Danarto itu. Dalam hati saya berdoa semoga suatu saat saya bisa ibadah haji dan akan menulis buku dengan judul Orang Batak Naik Haji,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aritonang menambahkan, haji bukanlah sekadar ibadah semata, tetapi banyak aspek yang melingkupi kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, menanggapi buku karya Baharudin Aritonang itu, anggota DPR K.H. Asnawi Latif meminta pemerintah terus meningkatkan kualitas para calon/jemaah haji Indonesia yang akan melaksanakan ibadah haji dan menggunakan segala fasilitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Para jemaah yang berasal dari pedesaan umumnya banyak yang tidak bisa menggunakan sejumlah fasilitas, terutama ketika berada dalam pesat terbang,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taraf pendidikan para calon jemaah haji masih rendah atau bahkan masih ada yang tidak sekolah. Oleh karena itu, jemaah bersangkutan seringkali mengalami kesulitan dalam menggunakan fasilitas yang berkualitas teknologi canggih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pengalaman naik pesawat terbang, ‘buang air’ bukan di kloset. Hal itu terjadi karena ketidaktahuan. Ini menyangkut tingkat pendidikan,” tutur Asnawi Latif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pengalaman yang aneh lagi, kata Asnawi Latif. Adik iparnya naik haji dengan biro peralanan swasta menggunakan paspor hijau dan dia cuma membawa tas. Rupanya dia tidak paham cara menggunakan fasilitas yang ada di pesawat dan di pelabuhan udara King Abdul Aziz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada temannya yang masih menunggu barang (koper), kata Asnawi. Di situ ada ban berjalan. Dia mengira semua tas ditaruh di ban berjalan tersebut sehingga tas yang ditenteng juga ditaruh di ban berjalan. Berputarlah tas itu mengikuti ban berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Banyak hal-hal seperti itu yang parlu dibenahi. Kita akan mengalami kesulitan baik ketika di tanah air maupun ketika sampai di tanah suci. Ini kritik pada calon jemaah karena banyak jemaah kita yang belum berkualitas,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal paspor haji, menurut Asnawi Latif, dulunya dia pernah mengusulkan kepada Menteri Agama agar diperbaiki. Alasannya, satu-satunya di dunia orang yang naik haji yang memakai paspor khusus haji hanyalah Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sudah pernah usul ketika masuk dalam Tim UU Keimigrasian, yang perlu diubah. Tetapi, saya dimarahi oleh Menag pada waktu itu, Munawir Sjadzali,” jelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, adanya paspor haji sudah dimulai sejak zaman Belanda, yang disebut pas haji. Ini dimaksudkan agar para pemuda Islam itu tidak bisa ke mana-mana. Itu ada unsur proteksi bepergiannya pemuda Islam Indonesia. Paspor hijau itu hanya dipakai sekali jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini ditiru lagi dan kita malah melanjutkan peninggalan zaman penjajah. Itu perlu dibenahi, apa lagi pemberangkatan haji supaya diswastakan. Jangan lagi Departemen Agama menjadi travel biro, perjalanan haji,” tuturnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-116589913641889809?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116589913641889809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116589913641889809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2006/12/buku-haji-batak.html' title='Buku Haji Batak'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-116589879612930837</id><published>2006-12-11T20:43:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T20:46:36.420-08:00</updated><title type='text'>Haji Sibarani</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Anggaran 2007, Umat Muslim Dapat Bantuan Rp40 Juta untuk 2 Calon Jemaah Haji &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nov 28, 2006 at 08:14 AM &lt;br /&gt;Tobasa (SIB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Tobasa Drs Monang Sitorus SH MBA melepas Kloter I jemaah haji asal Kecamatan Balige dan Kecamatan Porsea,Kabupaten Tobasa, berjumlah 8 orang disaksikan Ketua MUI Tobasa Drs Mansur Nasution SH MH dan Ketua IPHI Tobasa HMT Sibarani serta seluruh umat muslim Tobasa di Mesjid Al Hadhonah Balige, Minggu (26/11) pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati dalam sambutannya mengharapkan calon haji dan hajjah yang akan berangkat ke tanah suci Mekkah dapat menjadi haji dan hajjah yang mabrur serta menjadi tauladan bagi masyarakat. Dengan demikian hubungan antar umat beragama semakin terjalin dan terpelihara dengan baik di Kabupaten Tobasa. “Mari kita saling menghargai, saling merangkul tanpa saling menghujat sehingga Tobasa semakin religius, yang lebih mengandalkan Tuhan dalam hidupnya,” ujarnya seraya menambahkan dampak dari semua itu Kabupaten Tobasa beserta Kabupaten Nabire telah menerima penghargaan Prakarsa Pembangunan Manusia Indonesia (PPMI) 2006 tingkat nasional dari Presiden RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, bupati menghimbau agar masyarakat tidak saling menyenggol tetapi saling mengasihi seperti halnya seorang bupati tidak pernah balas menyenggol ketika disenggol. Bupati menaggapi dengan penuh cinta kasih dan sekaligus menyetujui permintaan tokoh agama Islam Tobasa, HR Hasibuan, agar diberikan bantuan biaya bagi satu orang calon jemaah haji. Bahkan Bupati Tobasa menegaskan untuk anggaran tahun 2007, Pemkab Tobasa akan menganggarkan bantuan biaya ke Mekkah masing-masing Rp 20 juta bagi 2 orang calon haji dan hajjah. “Tahun depan Pemkab Tobasa sumbangkan Rp 40 juta untuk 2 calon jemaah haji. Kita juga akan berikan hadiah kepada saudara Hafiz Taufik yang menjadi juara tingkat nasional baca Alquran,” ujar Monang Sitorus yang disambut gembira masyarakat muslim yang hadir pada acara pelepasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Ketua Kesatuan Haji Tobasa, HR Hasibuan, di awal sambutannya mengucapkan rasa syukur dan bangga atas kehadiran Bupati Tobasa untuk melepas keberangkatan jemaah haji. Pada kesempatan itu HR Hasibuan berpesan agar para calon haji dan hajjah dapat berperilaku bersih seputih kain yang dikenakan sehingga nama bangsa di mata dunia terpelihara dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ketua MUI Tobasa Drs Mansur Nasution mengimbau agar para calon haji dan hajjah berniat suci dalam menunaikan ibadah haji. “Jangan mencaci dan berbantah-bantahan. Harus berniat suci dalam menunaikan ibadah haji. Dengan demikian kiranya para calon haji dan hajjah yang akan berangkat ke Mekkah menjadi haji dan hajjah yang mabrur,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Seksi Urusan Agama Islam dan Penyelenggara Haji Kandepag Tobasa Mukti Ali Harahap SAg MSi usai mengikuti acara pelepasan jemaah haji kepada SIB mengatakan selalu berupaya mengajak umat Muslim Tobasa menunaikan ibadah haji. Dikatakannya, saat ini pihaknya telah melakukan kerjasama dengan Bank Sumut, BRI, BNI dan Bank Muamalat Tobasa dalam memberikan kemudahan bagi calon haji. “Saat ini calon haji dan hajjah tidak lagi menyetor uang melalui Kandepag tetapi melalui keempat bank tersebut. Untuk memperingan beban ongkos, kepada calon haji disarankan agar menabung di bank dengan uang muka minimal Rp 50 ribu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pelepasan Kloter I Jemaah Haji Kabupaten Tobasa diwarnai dengan pembacaan Alquran oleh Qori Hafiz Taufik SPd, juara lomba baca Alquran tingkat nasional di Kendari beberapa waktu lalu, dan Saritilawah Sri Rostina SAg. Acara itu juga diwarnai dengan penyerahan buku cek atau buku berobat gratis yang diserahkan secara langsung oleh Kadis Kesehatan Tobasa dr FLP Sitorus MKes kepada kedelapan calon haji dan hajjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GERAK JALAN SANTAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, 3000-an masyarakat Tobasa bersama Bupati Monang Sitorus beserta jajarannya melakukan gerak jalan santai dalam rangka memperingati hari Korpri dan PGRI Kabupaten Tobasa, Minggu pagi (26/11) sekira Pukul 06.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan masyarakat Tobasa yang memadati lapangan Sisingamangaraja XII Balige melakukan gerak jalan santai menuju kantor Pemkab Tobasa. Bagi pemenang gerak jalan juga diberikan hadiah utama dan hadiah hiburan sumbangan dari Bank Sumut cabang Tobasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-116589879612930837?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116589879612930837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116589879612930837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2006/12/haji-sibarani.html' title='Haji Sibarani'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-116426628843851150</id><published>2006-11-22T23:17:00.000-08:00</published><updated>2007-09-26T12:05:17.917-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tobasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tapanuli'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='batak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='toba'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Politik Agama Penjajah Belanda</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt;Pada tahun 1849 Asisten Residen Mandailing Ankola berusaha memecah belah masyarakat Batak dalam kotak-kotak agama, sesuai dengan misi Devide et Impera dengan menerapkan gagasan untuk memisahkan orang-orang Batak yang sudah Islam dengan mengkristenkan orang-orang Batak pelebegu. A.P. Godon yang sudah pensiun sejak tahun 1857 menyatakan dalam suatu diskusi: "Dalam laporan umum tahun 1849 selaku Asisten Residen Mandailing Angkola, saya menyatakan bahwa guru agama Kristen pada saat itu masih bisa bekerja dengan dengan baik. Saya sarankan agar antara suku Melayu-Batak Islam dan Batak harus dipisahkan dengan jelas. Metode yang paling baik adalah menyeru orang-orang Batak pelebegu agar masuk Kristen." (Lihat O.J.H. Graaf van Limburg Stirum, hal. 126).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1889, Gubernur Jenderal pemerintah penjajah Belanda mengeluarkan surat keputusan rahasia yang menentukan antara lain bahwa di daerah yang penduduknya tidak memeluk agama Islam, tidak boleh diangkat kepala desa atau pegawai muslim. Peraturan atau kebiasaan yang mendukung Islam pun tidak dibenarkan. (lihat: Beslit Rahasia Gubernur Jenderal No. 1,3 Juni 1889).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang residen Tapanuli bernama Westenberg dan Barth kemudian membuktikan bahwa pemerintah kolonial tidak senang melihat perubahan kepada Islam, bahkan Westenberg memberi contoh memecat kepala desa yang masuk Islam. Pemerintah penjajahan Belanda menyetujui hal itu karena sesuai dengan jiwa beslit rahasia 1889 tersebut. (M. C. Jongeling, Het Zendingconsulaat in Nederlands Indie, 1906-1942, (Arnheim , 1966) Hal. 112). Namun dukungan penjajah seperti ini tidak mampu menghentikan kekuatan pribumi yang anti-penjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1903, Kepala Kampung Janji Angkola, Aman Jahara Sitompul, yang telah menjadi Kepala Kampung selama 23 tahun, masuk Islam berkat anaknya Syeikh H. Ibrahim Sitompul. Akibatnya Aman Jahara Sitompul diberhentikan sebagai Kepala Kampung atas dasar beslit rahasia 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh H Ibrahim melakukan perlawanan dan melakukan aksi politik dengan menayakannya kepada Dr. Hazeu, Adviseur voor Islandsche zaken. Alih-alih mendapat tanggapan, laporannya baru resmi diterima enam tahun kemudian, yaitu pada tahun 1909.  Dr. Hazeu berusaha melakukan himbauan kepada kekuatan penjajah yang ditolak mentah-mentah oleh Residen Westenberg dengan penegasan sekali lagi bahwa pegawainya telah melaksanakan kebijakan yang digariskan pada tahun 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Residen Westenberg kemudian dipertegas oleh rezim penjajah dengan pernyataan Frijling, Penasehat Urusan Luar Jawa, untuk menerapkan kebijakan rahasia tersebut apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak pada tahun 1903, Janji Angkola Pabea Sitompul, saudara Syeikh Ibrahim Sitompul, berusaha keras untuk mengembalikan kehormatan ayahnya. Namun kali ini tanggapan keras datang dari pihak penjajah. Dia terbentur tembok dengan adanya surat keputusan dari pimpinan tertinggi penjajah di Indonesia yakni keputusan Gubernur Jenderal Penjajah tanggal 5 Juni 1919 yang tidak mengabulkan pengaduan tersebut. (Lihat; "Christelijke Zending en Islam in Indonesia", dalam Koleksi GAJ. Hazeu, No. 42, KITLV, Leiden. Bandingkan dengan Lance Castles, The Political Life of Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940, disertasi, Yale University, 1972, Hal. 91-93.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pada bulan Maret 1919, di Janji Angkola diadakan pemilihan kepala kampung baru. Sekalipun jumlah warga Batak yang beragama Kristen sebanyak 400 orang, sedang warga Batak yang muslim hanya 60 orang, namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul yang menang dalam pemilihan tersebut. Tapi Kontrolir Silindung Heringa menyarankan agar residen mengangkat Aristarous, bukan Syeikh Ibrahim Sitompul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Residen Vorstman sadar dengan instruksi rahasia 1889, kemudian mengadakan pemilihan ulang, dengan harapan pihak Batak Islam akan tersudut. Namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul tetap keluar sebagai pemenang, dengan suara 218 lawan 204. Residen Vorstman tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kekuatan anti-penjajahan kali ini berhasil unjuk gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu hubungan perdagangan antara daerah Singkel dan Dairi juga diputus dengan alasan Devide et Impera. Dengan demikian orang-orang Batak di tanah Batak pusat akan terisolir dan mudah untuk ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asisten Residen Bataklanden dan Residen Tapanuli kemudian melakukan langkah dengan memisahkan orang-orang Batak di Singkel dengan Dairi. Hubungan lalu lintas antara Singkel dan Dairi pun diputus. Raja Batu-batu, seorang Raja Batak Singkel, yang kebetulan seorang muslim dilarang untuk mendatangi rakyatnya di Dairi.  (Surat Residen Tapanuli Westenberg ke Gubernur Jenderal tanggal 9 Oktober 1909, dalam Koleksi G.A.J Hazeu). Bahkan sejak tahun 1910 para pedagang Batak Singkel dilarang tinggal di daerah Batak, maksudnya Keresidenan Tapanuli, lebih dari 24 jam. (Nota Lulofs 11 Juli 1915, dalam Lance Castle, Hal 94)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha penjajah Belanda untuk mengkotak-kotakkan orang Batak dalam agama dan teritori agar mudah dijajah juga dilakukan di Silindung. Pada tahun 1915, Lulofs memberikan instruksi sektarian kepada bawahannya agar dibuat batas baru di sebelah utara Janji Angkola, dan politik anti-Islam hanya boleh dilaksanakan di sebelah utara desa tersebut. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 16 Mei 1916, Lulofs menjelaskan bahwa dengan adanya garis pemisah, maka bisa diadakan tindakan tegas dalam daerah tertutup. Misalnya dengan menggunakan Ordonansi Guru 1905 untuk menghindari pendidikan Islam di daerah tersebut. Ordonansi Guru ini memungkinkan penjajah dapat memburu, mengusir dan mengasingkan guru-guru Batak Islam yang termasuk para haji-haji dari kalangan Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pihak zending menentang instruksi- yang dinilai terlalu menguntungkan Islam- ini. Dan menyatakan keheranannya mengapa sikap seorang pegawai demikian simpati kepada Islam. Karena menurut mereka di daerah ini terdapat 15.000 orang Kristen, 3000 orang Batak Islam dan masih banyak animis yang akan diserahkan kepada nabi palsu. (Lihat surat Lulofs kepada Direktur BB tanggal 16 Mei 1916).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap pemisahan daerah Islam-Kristen semacam ini Hazeu tidak setuju, karena dia tidak membenarkan terjadinya pengusiran seseorang dari daerah tertutup. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 29 Desember 1916, Hazeu menyatakan, "Saya memperingatkan dengan keras bahwa Ordonansi Guru tidak boleh digunakan untuk tujuan mengusir haji sebagaimana dibenarkan oleh tuan Lulofs" (Koleksi G.A.J.). Namun, pengusiran dan pemburuan tersebut tetap saja terjadi di tanah Batak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka menghalangi gerak pedagang Batak Islam yang sejak abad 15 telah eksis dan menjadi tulang punggung perekonomian tanah Batak, khususnya dari marga Hutagalung, Hasibuan, Pasaribu dan Marpaung serta marga-marga lainnya, Asisten Residen Fraser mengusulkan dibentuknya koperasi antar sesama orang Batak yang tidak menentang kehadiran penjajah saat itu, di samping menganjurkan agar peternakan babi digalakkan di sana. Saran semacam ini pernah dikemukakan pula oleh seorang tokoh Lembaga Bijbel pertengahan abad lalu, yang ditujukan kepada propagandis Kristen di tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah H.N. vander Tuuk yang pada tahun 1851 sampai tahun 1857 menetap di tanah Batak sebagai petugas dari Lembaga Bijbel. Ia memberikan beberapa saran, bagaimana seharusnya petugas Kristen bersikap di tanah Batak, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Harus disebut Guru, bukan pendeta atau paderi; karena istilah pendeta kurang disukai, baik orang Eropa maupun orang Batak.&lt;br /&gt;2. Harus kawin dengan wanita Eropa, karena pembicaraan antara wanita lebih intim dan seorang wanita lebih berpengaruh daripada pendeta biasa.&lt;br /&gt;3. Harus mendapat gaji yang baik, lebih tinggi dari gaji pegawai pemerintah.&lt;br /&gt;4. Harus berpakaian seperti biasa, tidak memakai jas hitam pendeta.&lt;br /&gt;5. Harus bisa menerima gaji dengan mudah, tanpa dipotong dua setengah persen.&lt;br /&gt;6. Langsung masuk daerah Batak, tidak perlu lama-lama menunggu di Padang agar cepat bisa berbahasa Batak.&lt;br /&gt;7. Harus tinggal jauh dari orang Eropa, karena mereka pada umumnya tidak akrab dengan pribumi.&lt;br /&gt;8. Dalam taraf permulaan hanya omong-omong, secepat mungkin mengajar agar bisa cepat belajar bahasa pribumi. Hanya mengajar kalau diminta oleh mereka.&lt;br /&gt;9. Bersama murid-murid sekolah, harus membaca cerita Batak, baru kemudian membacakan Bijbel. &lt;br /&gt;10. Harus bergaul akrab dengan orang Batak, tapi jangan meminjam uang.&lt;br /&gt;11. Hendaknya tidak menerima hadiah, karena dia harus memberikan hadiah.&lt;br /&gt;12. Hendaknya tidak menghina orang Islam, tapi harus menunjukkan orang kafir sama baiknya dengan orang Islam.&lt;br /&gt;13. Andaikata mengetahui ilmu teknik, harus mengajarkan ilmu tersebut hanya kepada orang bukan Islam.&lt;br /&gt;14. Sebagai peternak harus memelihara babi.&lt;br /&gt;15. Andaikata mempunyai anak, harus hati-hati agar mereka tidak menghina pribumi.&lt;br /&gt;16. Dalam pelaksanaan vaksinasi hendaknya jauh dari pengawasan pegawai, Karena semua pegawai yang beragama Islam, biasa mengucapkan: "Jangan makan babi lagi" setelah memberikan suatu suntikan.&lt;br /&gt;17. Hendaknya tidak menggunakan pemadat sebagai pembantu atau murid.&lt;br /&gt;18. Andaikata memiliki toko, dia tidak hanya akan mendapatkan banyak uang, tapi juga pengaruh yang cukup besar.&lt;br /&gt;Sumber Lihat: R. Nieuwenhuys, H.N. van Der Tuuk: De, Pen in Gal Gedoopt, (Amsterdam, 1962) hal: 81-84.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1919, pihak zending mengeluarkan brosur dalam dialek Angkola berjudul Ulang Hamu Lilu (jangan sesat), untuk memperkenalkan Islam secara negatif kepada orang Kristen Batak, berdasarkan buku-buku Gottfried Simons yang biasa menentang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gottfried Simons adalah seorang zendeling Jerman yang pernah bertugas di Sumatera dari tahun 1896 sampai tahun 1907, dikirim oleh RMG (Rheinische Mission Gesellschaft). Karyanya antara lain; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Islam und Christentum im kampf um die Eroberung der animimistischen Heidenwelt, beobachtungen aus der Mohammedaner-Mission in Biederlandisch-Indiesn, (Berlin 1910); (Islam dan Kristen dalam Perjuangan di dunia Animis; Tinjauan zending terhadap orang Islam di Hindia Belanda).&lt;br /&gt;2. Unter den Muhammedanern Sumatras, (Berlin, 1926).&lt;br /&gt;3. Reformbewegungen in Islam (Artikel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat brosur tersebut yang menurut Hazeu penuh dengan kebohongan dan kepalsuan tersebut, timbullah kehebohan, sehingga untuk mengatasinya brosur tersebut segera disita oleh kontrolir dari rumah zendeling Jerman, Ameler, di Bungabondar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asisten Residen bermaksud memanggil pihak zending ke pengadilan, tapi Jaksa Agung di Batavia melarangnya. Kemudian pusat Zending di Tarutung meminta agar brosur yang disita itu dikembalikan secara resmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 12 Juli 1919 brosur tersebut akan dikembalikan dan pihak zending mengumumkan hal itu sebelumnya, meskipun sudah diminta untuk merahasiakannya. Akibatnya timbul kehebohan sehingga zendeling Ameler meminta agar kontrolir tidak jadi datang, karena sudah memancing perhatian pelbagai organisasi beribadatan suluk di tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brosur seharga f.0,15 per buah itu bisa laku f.2,-, (Lance Castle, Hal 110-112). Selama ini harapan demikian tinggi untuk bisa mengikis pengaruh Islam dari tanah Batak dengan jalan mempercepat kristenisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan semacam ini didasarkan atas kepercayaan berlebihan tentang superioritas Kristen atas Islam dan dugaan bahwa agama Islam yang sinkretis di negeri ini (seperti parmalim dan agama kepercayaan Batak lainnya yang mirip dengan Islam sedikit atau banyak) akan mudah dikristenkan. Banyak orang Belanda terutama pada abad ke-19 yang berpengharapan demikian (Lihat A. Retif, "Aspect Religiux de l'Indonesie", dalam Etudes, 1945, hal 371-381; Harry J. Benda, "The Crescent and the Rising Sun", op cit., hal. 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjuangan kemerdekaan dan pergumulan antara orang Batak dengan penjajah Belanda di tanah Batak ini nampaklah kesan bahwa di satu pihak agama Islam berkembang dengan segala kesederhanaannya, sedang di pihak lain agama Kristen dengan segala kelebihannya ditunjang oleh para pejabat dan pegawai kolonial pada umumnya. (Aqib Suminto; Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat berkembangnya Kristen di daerah ini jelas bukan semata-mata karena "gereja-gereja di sana memiliki semangat missioner yang besar" seperti pendapat Dr. F. Ukur yang menyatakan bahwa satu ciri gereja-gereja di Sumatera adalah memiliki semangat missioner yang besar, sehingga dapat berkembang cepat dalam waktu yang relatif singkat. Lihat: Walter Lempp, Benih Yang Tumbuh, XII (Jakarta, 1976), hal. 110.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan tahunannya 1906/1907, Konsul Zending mengakui bahwa pemerintah penjajahan Belanda sering mendukung aktivitas Kristen; bahkan kadang-kadang pemerintah meminta kepada zending agar mereka membuka cabangnya di suatu tempat, seperti di Simalungun tahun 1904 dan Pakpaklanden tahun 1906, dua daerah yang sudah banyak menganut agama Islam selain animisme. Lihat Laporan ke-25 Algemeene Nederlandse Zendingsconferentie, 1911, Hal. 80, tentang "De prediking des zendelings aan de Mohammedanen" atau lihat M.C.Jongeling, op cit., hal 110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya memang perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiosis yag paling menunjang. Lihat: H. Kraemer, "De Zending en Nederlands Indie", dalam H. Baudet, &amp; I.J. Brugmans, op.cit., hal 294.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu zending Kristen dianggap sebagai faktor penting dalam proses penjajahan, walaupun tujuan zending hanya rohani. Semua yang menguntungkan pihak Batak yang Islam di Hindia Belanda berarti merugikan bagi kekuasaan moril pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Lihat, Alb. C. Kruyt, "De Inlandsche Staat en de Zending", dalam Indisch Genootschap, 23 Oktober 1906, hal 98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbiosis ini nampak jelas di tanah Batak. Seorang haji Batak asal Pangaribuan dilaporkan datang ke Huta Lumban. Ketika enam orang Batak pelebegu berkomunikasi dengannya dan menyatakan keinginannya masuk Islam dan zending Muller tidak berhasil memurtadkannya kembali, Residen Tapanuli memanggil keenam orang tersebut, tetapi mereka tetap tidak mau keluar dari Islam meskipun diancam akan dibuang. Lihat Buku Harian zendeling Muller di Toba, Juni 1916. Catatan buku harian tersebut dikutip oleh Residen Tapanuli dalam suratnya kepada pimpinan tertinggi penjajah Gubernur Jenderal tanggal 22 Juli 1916 No. 246 (Koleksi G.A.J Hazeu, op cit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilaporkan pula, adanya lima orang Batak Islam, yang menerima kesaksian syahadat para Batak pelebegu, yang dihukum.  Dikatakan, berdasarkan beslit rahasia 3 Juni 1889 tersebut hal ini memang tidak bisa dibenarkan. Sebuah beslit yang berusaha menghilangkan Islam sebagai elemen anti-penjajahan dari tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dituduh telah menyebarkan agama Islam dan dihukum dengan hukuman satu bulan, karena tidak menaati peraturan pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Lihat: Surat asisten Residen Bataklanden Fraser ke Residen Tapanuli, 16 Juli 1916.  Gubernur Jenderal lebih keras dengan memerintahkan penghentian apa yang disebutnya propagandis Islam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani Batak di Sipakpaki Sibolga ada yang dikenakan kerja paksa sebulan, karena menerima syahadat Islamnya beberapa orang di Huta Husor. Penduduk Huta Husor bernama Hurlang dikenai hukuman tiga bulan, karena menyediakan rumahnya untuk acara tersebut. Lihat, Laporan penelitian anggota Desan Penasehat Hindia Belanda tahun 1917. (Lihat Lance Castle, op cit., hal 101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi masalah sosial yang timbul,  sikap para pejabat penjajah Belanda nampak jelas memihak zending. Residen Tapanuli mengakui bahwa sikap netral di bidang agama akan berakibat gagal totalnya zending di daerah ini. Sebaliknya kemengangan kristen pasti terwujud, bila dibantu sepenuhnya oleh pemerintah Hindia Belanda. (Lihat: Surat Residen Tapanuli kepada Gubernur Jenderal Van Heutsz tanggal 31 Maret 1909. Ia menyatakan; Kita boleh memilih antara netral seratus persen terhadap agama dengan hasil pasti menurut matematika bahwa pekerjaan zending akan gagal total, dan lambat atau cepat seluruh daerah Batak akan masuk Islam. Atau membantu sepenuhnya kepada zending untuk menghindari propaganda Islam di daerah Batak. Dengan demikian kemenangan Kristen di daerah ini pasti terwujud. Andaikata pemerintah bersikap netral, akan berakibat seperti di daerah padang Sidempuan. Walaupun zending di sana cukup rajin di antara penduduk yang waktu itu masih pelebegu namun Islam ternyata menang di Mandailing, Angkola dan sebagian besar Sipirok. Justru pegawai-pegawai kita memegang politik nonintervensi (Koleksi G.A.J Hazeu, op. cit,. Hal 102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Jenderal kemudian memerintahkan agar pegawai pemerintah penjajah Belanda, kapanpun dan dimanapun tidak memihak penduduk muslim; sebaliknya secara moril harus membantu dan mendukung zending. Sementara itu, peraturan rahasia itu ditambah lagi dengan satu artikel yang berbunyi; "Orang Kristren (yakni pribumi sebagai objek yang dijajah) tidak harus melakukan kerja paksa pada hari Minggu." Lihat: M.C. Jongeling, op cit., hal 114-115.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-116426628843851150?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116426628843851150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116426628843851150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2006/11/politik-agama-penjajah-belanda.html' title='Politik Agama Penjajah Belanda'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-116426602333373687</id><published>2006-11-22T23:10:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T21:42:56.946-08:00</updated><title type='text'>Mazhab-mazhab di Tn Batak</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt; Mazhab-Mazhab Islam di Tanah Batak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;715 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya Islam, yang belum terpecah dalam mazhab, ke Nusantara. Salah satunya adalah ke Jambi, melalui kerajaan Sriwijaya, yang semula beragama Buddha Hinayana. Masuknya agama tersebut atas dukungan Khulafa al-Rasyidin dan pada era Dinasti Umayyah (661-750).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mulai diperkenalkan di daerah-daerah Asia seperti, tanah Batak pesisir Barus di Sumatera, Canton di Cina, Kalingga di Jepara, Sriwijaya di Jambi. Dalam periode 720-730 M, mendapat hambatan dari Dinasti Tang (618-906) yang berkuasa di Cina. Hambatan ini membuat Islam struktural tidak berkembang, berlainan dengan ajaran Islam yang banyak diserap oleh penduduk setempat melalui kontak dengan pedagang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah penggalian arkeologi, ditemuka Makam Mahligai sebuah perkuburan bersejarah Syeh Rukunuddin dan Syeh Usuluddin yang menandakan masuknya agama Islam pertama ke Indonesia pada Abad ke VII Masehi di Kecamatan Barus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuburan ini panjangnya kira-kira 7 meter dihiasi oleh beberapa batu nisan yang khas dan unik dengan bertulisan bahasa Arab, Tarikh 48 H dan Makam Mahligai merupakan Objek Wisata Religius bagi umat Islam se-Dunia yang Letaknya 75 Km dari Sibolga dan 359 Km dari Kota Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1128 M &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai era masuknya Islam yang bermazhab syiah ke wilayah sekitar sungai Pasai, Aceh sekarang. Usaha tersebut berhasl atas dukungan Kesultanan Mesir di bawah pemerintahan Dinasti Fathimiyah. 9976-1168). Hubungan dagang antara Mesir dan Aceh, Kesultanan Daya, mulai dijalin antar pemerintah. Paham syiah juga mulai berkembang dengan pesat di Barus akibat hubungan dagang tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya Islam ke Barus, tanah Batak sebelah Barat, adalah karena Barus terkenal berkat hasil hutannya yang bernilai tinggi dan sangat terbatas daerah penghasilnya. Dalam sebuah inventaris harta karun abad ke-11 M, Kalifah Dinasti Fatimiyah dari Mesir, terdaftar banyak wadah dari 'porselin' Cina yang berisi kafur fansuri yaitu kapur dari Barus. Lihat Kahle, 1941: Ahli sejarah al-Makrizi yang hidup pada bad ke-15 M, mencatat sebuah inventaris harta karun Dinati Fatimiyah dari Mesir yang dilakukan oleh seorang pegawai kalifah pada abad ke-11 M. Istilah porselin bisa diartikan barang buatan Cina. Bahan keramik mungkin batuan, batuan porselin atau porselin., sangat berbeda dengan bahan tembikar buatan timur dekat. Kamper yang mungkin diekspor dari Barus dalam tempayan atau dalam wadah lain. Setelah sampai di tempat tujuan dijual secara ketengan dan kemudian disimpan dalam wadah khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1285 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai masuk ajaran Islam syafii di Sumatera khususnya wilayah sekitar Pasai. Hal ini diakibatkan suksesi kepemimpinan di Mesir, dari Dinasti Fathimiyah lalu Ayyubiyah dan Dinasti Mamluk. Dinasti Mamluk mulai mengirim utusan dagang mereka ke wilayah ini yang mengakibatkan penyebaran ajaran syafii. Di Barus, tanah Batak pesisir, mazhab syafii banyak dianut oleh orang-orang Batak di Singkel, yang sekarang masuk dalam provinsi Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1411 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazhab hanafi mulai dikenal penduduk akibat interaksi dengan pedagang-pedagang Cina dengan orang-orang Batak di Singkuang, Perdagangan dan sepanjang sungai Bah Bolon.&lt;br /&gt;1412 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah Natal, tanah Batak Selatan, ajaran mazhab Maliki mulai dikembangkan oleh seorang tokoh intelektual dan pedagang dari Maroko yang dikenal oleh penduduk setempat dengan Tuan Syeikh Magribi. Dalam perkembangan berikutnya, dia berdakwah ke Gresik dan meninggal di sana pada tahun 1419 dan dikenang dengan nama Maulana Malik Ibrahim salah satu sunan dalam walisongo yang dihormati di pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Batak Siopat Pusoran khususnya Hutagalung dan lain sebagainya; Pasaribu, Daulay, Hasibuan, Marpaung, Tanjung, Pulungan, Nasution, Pohan, Pardosi, Parna merupakan komunitas-komunitas pertama yang menjalankan Islam secara kaffah. Mesjidp-mesjid di Bangun di tanah Batak lengkap dengan partungkoan pengkajian Islam.  Orang-orang Batak yang muslim di Tanah Batak umumnya berprofesi sebagai pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa penjajahan Belanda, orang-orang Batak yang Islam diburu, diasingkan dan dibunuh untuk menekan dan menghilangkannya sebagai elemen anti-penjajahan. Mesjid dan prasarana ibadah lainnya dihancurkan berdasarkan peraturan-peraturan sektarian seperti Ordonansi Guru, Beslit Rahasia Gubernur Jenderal Pemerintahan Penjajah Belanda dan lain sebagainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1593 M&lt;br /&gt;Perkembangan Islam di tanah Batak tidak saja mencakup mazhab-mazhan besar dalam Islam. Di Fansur, sebuah wilayah di Kesultanan Barus, tanah Batak pesisir, golongan teolog khawarij dengan mazhab fiqih ibadiyah mulai berkembang. Faham ini dikembangkan dari Zanzibar, Afrika oleh intelektual lokal Abdulrauf Fansuri. Pada tahun 1601 dalam rangka monopoli ekonomi dan pensucian agama, pihak Kesultanan Aceh menginvasi Kesultanan Barus dan melarang berkembangnya ajaran ini. Abdulrauf merupakan tokoh intelektual saat itu yang mempunyai pemikiran politik khususnya dalam tata negara; Sultan Amir al-Mukminin harus dipilih dan dapat diturunkan oleh rakyat. Pendapat ini ditentang oleh Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tokoh intelektual Batak saat itu adalah Abdulrauf Fansuri yang bermazhab khawarij dengan fiqih ibadiyah. Yang kedua adalah Abdulrauf Singkily yang bermazhab syafii dan Hamzah Fansuri yang bermazhab syiah al-muntazar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1803 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazhab hambali mulai diperkenalkan oleh orang-orang Minang di tanah Batak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-116426602333373687?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116426602333373687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116426602333373687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2006/11/mazhab-mazhab-di-tn-batak.html' title='Mazhab-mazhab di Tn Batak'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-116160093653083757</id><published>2006-10-23T03:41:00.000-07:00</published><updated>2006-10-23T03:55:36.833-07:00</updated><title type='text'>Arung Jeram Asahan</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt; Wakil Bupati Asahan Hendak Membuka Arung Jeram 2006 Via Porsea        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;09 September 2006 jam 08:59 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kisaran (SIB)&lt;br /&gt;Akibat jalan propinsi dari Lobu Rappa-Parhitean Desa Tangga, Kecamatan Bandar&lt;br /&gt;Pulau, Kab Asahan sepanjang 10 Km rusak total, membuat Wakil Bupati Asahan Drs H Taufan Gama Simatupang bersama tim hendak membuka Kejurnas arung jeram memperebutkan trophy bergilir Gubsu Drs Rudolf Pardede, Kamis (7/9 ) terpaksa via Porsea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa membuka arung jeram yang sudah masuk kalender nasional itu, Kamis sore Taufan Gama Simatupang bergerak dari Kisaran menuju Parapat. Taufan bersama tim dari Asahan menginap di Parapat dan Jumat pagi berangkat menuju Parhitean untuk selanjutnya membuka Kejurnas arung jeram itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup melelahkan kendati sudah menginap 1 malam sebab jarak tempuhnya jauh dan waktu tempuh dari Kisaran mencapai 6 jam baru sampai ke lokasi. Kalau dari Kisaran Via Simpang Es menuju Parhitean dengan kondisi jalan baik hanya dengan waktu 3 jam, ujar salah seorang tim yang ikut dengan wakil Bupati kepada SIB, Jumat (8/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Jalinsum yang menghubungkan Asahan dengan Kabupaten Tobasa dari Desa Marjanji Aceh menuju Lobu Rappa juga jelek tapi masih bisa dilewati akan tetapi dari Lobu Rappa – Parhitean Desa Tangga kondisi jalan rusak total. Selain berlobang dengan kedalaman mencapai 50 Cm semua permukaan jalan tidak lagi didapati beraspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkutan bus penumpang yang selama ini membawa penumpang dari Porsea tujuan Rantau Prapat dan sebaliknya meraung raung saat melewati jalan itu. Diperkirakan bila jalan itu tidak secepatnya mendapat perbaikan,  jalur itu akan terputus sehingga membuat kegiatan perekonomian dan pemerintahan bisa terkendala, ujar salah seorang yang ikut mendampingi Taufan Gama Simatupang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun hubungan masyarakat di dua Kabupaten itu bisa terputus. Karena itu diharapkan Pemprovsu segera mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki jalan yang rusak itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-116160093653083757?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116160093653083757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116160093653083757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2006/10/arung-jeram-asahan.html' title='Arung Jeram Asahan'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-116107046547936042</id><published>2006-10-17T00:33:00.000-07:00</published><updated>2006-10-17T00:34:25.746-07:00</updated><title type='text'>Polisi Balige Jadi Perampok</title><content type='html'>&lt;img src="http://users.telerama.com/~jdehullu/islam/images/cordoba_2.gif" align= "left" border=3 width="300" height="450" HSPACE=5 &gt; Medan ( Berita ) : Pihak Polda Sumut berhasil menangkap seorang polisi Balige, "HM" yang diduga terlibat dalam komplotan sindikat perampok antar provinsi yang beroperasi di Riau dan Sumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Aspan Nainggolan ketika dihubungi Antara Medan Rabu (13/09)mengatakan, pelaku perampokan yang juga oknum aparat beserta dua warga lainnya diamankan di Balige.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan yang mereka lakukan, yakni merampok satu unit mobil boxs yang mengangkut rokok gudang garam senilai Rp385 juta di Provinsi Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu mereka juga merampok satu mobil yang mengangkut 28 ton getah di Riau, dan merampok muatan mobil colt diesel dengan kerugian sekitar Rp15 juta di Bukit Golok Cikampak, Kabupaten Labuhan Batu, Sumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perampokan juga mereka lakukan di Jalan Mansur Kisaran, Sumut sehingga korban mengalami kerugian senilai Rp15 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nainggolan menambahkan, tertangkapnya anggota Polri, HM dan teman lainnya, yakni M br N (50) danDS (31) adalah berkat informasi dari tersangka SH alias Vijay (26) yang sebelumnya berhasil diamankan petugas di Kisaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pengembangan pemeriksaan pada tersangka, SH, petugas berhasil melacak tempat tinggal mereka di Balige dan selanjutnya mengamankan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, saat ini petugas masih terus memburu oknum SS yang masih berada di Riau yang selama ini dikenal sebagai "gembong"perampokan di wilayah Riau dan Sumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangani kasus yang meresahkan masyarakat, khususnya mereka yang melintas di jalan raya Sumut-Riau pihak Polda Sumut terusbekerjasama dengan Polda Riau sehingga jaringan perampok itu bisa dibongkar sampai tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebutkan, dalam membongkar kejahatan perampokan antar provinsi itu, pihak Polres Rokan Hilir, Riau juga telah berhasil menangkap pelaku lainnya yakni tersangka A dan R. (Ant)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-116107046547936042?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116107046547936042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116107046547936042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2006/10/polisi-balige-jadi-perampok.html' title='Polisi Balige Jadi Perampok'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36047615.post-116088848048550887</id><published>2006-10-14T21:58:00.000-07:00</published><updated>2006-10-14T22:01:20.543-07:00</updated><title type='text'>Mesjid Pertama Porsea (1450 M)</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.pbs.org/treasuresoftheworld/taj_mahal/images/taj_page_pix/humayun_tomb_arch.jpg" align= "left" border=3 width="200" height="250" HSPACE=5 &gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah dalam kitab-kitab suci bangsa Timur Tengah bahwa Adam, yang dianggap sebagai manusia pertama dan Nabi pertama, mulai mengembangkan generasinya bersama Siti Hawa, Nenek Moyang Manusia yang ditemukan kembali setelah didamparkan di daerah India dari Surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi berikutnya mulai melahirkan beberapa kelompok Bangsa. Bangsa Semetik kemudian menurunkan Bangsa Arab dan Israel yang selalu berperang. Khabarnya perpecahan kedua bangsa ini dimulai sejak Nabi Ibrahim. Bangsa Syam yang kemudian dikenal sebagai ras Aryan, menurunkan Bangsa Yunani dan Roma yang menjadi cikal bakal Eropa (Hitler merupakan tokoh ras ini yang ingin memurnikan bangsa Aryan di samping Bangsa Braminik yang chauvinistik dan menjadi penguasa kasta tinggi di agama Hindu), Nordik, Patan, Kaukasian, Slavia, Persia (Iran) dan India Utara (semisal Punjabi, Kashmir dan Gujarat) berkulit putih serta bule-bule lain sebangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Negroid menurunkan bangsa Afrika dan beberapa bangsa berkulit hitam lainnya di dunia seperti Bangsa Dravidian (India berkulit Hitam), Papua, Samoa, Aborigin di Autralia, Asmat dan bangsa lain yang hidup di kepulauan Polinesia, Samudera Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Tatar menurunkan Ras Mongoloid yang terdiri dari bangsa Mongol; Cina, Korea, Uzbek, Tazik, Kazakh, Kazan di Rusia, bangsa Nomad penghuni Kutub Utara dan Selatan bermata cipit, Hokkian yang menjadi Konglomerat dan Mafia di Indonesia serta Bangsa Maya, Suku Indian dan lain sebagainya yang menjadi penduduk asli benua Amerika dan yang kedua; Ras Austronesia, yang menyebar di Madagaskar, Afrika, Batak; Proto Malayan dan Neo Malayan; Melayu, Jawa dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran populasi manusia terjadi paska “Tsunami” pertama atau dikenal sebagai Banjir Bah di jaman Nabi Nuh AS. Di jaman ini pula ada sebuah komunitas manusia yang konon mempunyai tinggi badan 15-30 meter punah ditelan banjir karena kesombongannya. Peneliti antropologi Amerika di awal abad 20 menemukan kembali bangsa ini di pedalaman Afrika, namun lokasinya dirahasiakan oleh pihak militer yang tertarik untuk mengambil sampel komunitas ini untuk rekayasa gen tentara AS. Penelitian juga diarahkan untuk menghidupkan kembali Bangsa Dinosaurus, sejenis binatang purba, yang juga mati tenggelam karena tidak sempat dan tidak ‘muat’ dimasukkan di kapal Nabi Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;73.000-30.000&lt;br /&gt;Penduduk nomaden mendiami sekitar pegunungan Batak, yang meledak membentuk danau Toba, keberadaan mereka berdasarkan penggalian sejarah (Uli Kozok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3000-1000 SM (Sebelum masehi)&lt;br /&gt;Bangsa Batak yang merupakan bagian dari Ras Proto Malayan hidup damai bermukim di perbatasan Burma/Myanmar dengan India. Beberapa komunitas tersebut yang kemudian menjadi cikal-bakal bangsa adalah kelompok Bangsa Karen, Toradja, Tayal, Ranau, Bontoc, Meo serta trio Naga, Manipur, Mizoram. Tiga yang terakhir ini sekarang berwarga negara India. Adat istiadat mereka dan aksesoris pakaian yang dimiliki sampai sekarang masih mirp dengan pakaian Batak, misalnya pernik dan warna ulos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat dominan dari ras ini adalah kebiasaan hidup dalam splendid isolation di lembah lembah sungai dan di puncak-puncak pegunungan. Mereka sangat jarang membuat kontak bersifat permanen dengan pendatang yang berasal dari komunitas lainnya misalnya komunitas yang berada di tepi pantai, pesisir, yang saat itu banyak dipengaruhi oleh ideologi yang berbeda dengan mereka, misalnya Hinduisme (Yang disinyalir sebagai ajaran turunan dari agama Nabi Nuh AS), Zoroaster, Animisme gaya Yunani dan Romawi dan juga paham-paham baru seperti Buddha, Tao dan Shintoisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat tersebut masih membekas dan terus dipertahankan oleh orang-orang Batak hingga abad 19. Sampai saat ini, diperkirakan suku bangsa yang berasal dari ras ini masih mempertahankan kebiasaan ini, terutama Bangsa Tayal, bangsa pribumi di Taiwan, Orang-orang Bontoc dan batak Palawan penghuni pertama daerah Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1000 SM&lt;br /&gt;Bangsa Mongol yang dikenal bengis dan mempunyai kemajuan teknologi yang lebih tinggi berkat hubungan mereka yang konsisten dengan berbagai bangsa mulai bergerak ke arah selatan. Di sana, keturunan mereka menyebut dirinya Bangsa Syan dan kemudian menciptakan komunitas Burma, Siam (Thai) dan Kamboja yang kemudian menjadi cikal-bakal negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ras Proto Malayan mulai terdesak. Ketertutupan mereka menjadi bumerang karena teknologi mereka tidak up to date. Sebagian dari mereka kemudian mulai meninggalkan daerah-daerah tersebut, menempuh perjalanan untuk mencari daerah baru bahkan ke seberang lautan, di mana mereka akan menikmati hidup dalam ‘splendid isolation’ kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Bontoc bergerak ke daerah Filipina, Bangsa Toraja ke selatannya, Sulawesi. Di Filipina, Batak Palawan merupakan sebuah suku yang sampai sekarang menggunaka istilah Batak. Saudara mereka bangsa Tayal membuka daerah di kepulauan Formosa, yang kemudian, beberapa abad setelah itu, daerah mereka diserobot dan kedamaian hidup mereka terusak oleh orang-orang Cina nasionalis yang kemudian menamakannya Taiwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain, Bangsa Ranau terdampar di Lampung. Bangsa Karen tidak sempat mempersiapkan diri untuk migrasi, mereka tertinggal di hutan belantara Burma/Myanmar dan sampai sekarang masih melakukan pemberontakan atas dominasi Suku Burma atau Myamar yang memerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, Bangsa Meo berhasil mempertahankan eksistensinya di Thailand. Bangsa Naga, Manipur, Mizo, Assamese mendirikan negara-negara bagian di India dan setiap tahun mereka harus berjuang dan berperang untuk mempertahankan identitas mereka dari supremasi bangsa Arya-Dravidian, yakni Bangsa India, yang mulai menduduki daerah tersebut karena over populasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Batak sendiri, selain terdampar di Filipina, sebagian terdampat di kepulauan Andaman (sekarang merupakan bagian dari India) dan Andalas dalam tiga gelombang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama mendarat di Nias, Mentawai, Siberut dan sampai ke Pulau Enggano. Gelombang kedua terdampar di muara Sungai Simpang. Mereka kemudian bergerak memasuki pedalaman Pulau Andalas menyusuri sungai Simpang Kiri dan mulai mendirikan tempat di Kotacane. Komunitas ini berkembang dan membuat identitas sendiri yang bernama Batak Gayo. Mereka yang menyusuri Sungai Simpang Kanan membentuk Komunitas Batak Alas dan Pakpak. Batak Gayo dan Alas kemudian dimasukkan Belanda ke peta Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mainstream dari Suku bangsa Batak mendarat di Muara Sungai Sorkam. Mereka kemudian bergerak ke pedalaman, perbukitan. Melewati Pakkat, Dolok Sanggul, dan dataran tinggi Tele mencapai Pantai Barat Danau Toba. Mereka kemudian mendirikan perkampungan pertama di Pusuk Buhit di Sianjur Sagala Limbong Mulana di seberang kota Pangururan yang sekarang. Mitos Pusuk Buhit pun tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam budaya ‘splendid isolation’, di sini, Bangsa Batak dapat berkembang dengan damai sesuai dengan kodratnya. Komunitas ini kemudian terbagi dalam dua kubu. Pertama Tatea Bulan yang dianggap secara adat sebagai kubu tertua dan yang kedua; Kubu Isumbaon yang di dalam adat dianggap yang bungsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu komunitas awal Bangsa Batak, jumlahnya sangat kecil, yang hijrah dan migrasi jauh sebelumnya, mulai menyadari kelemahan budayanya dan mengolah hasil-hasil hutan dan melakukan kontak dagang dengan Bangsa Arab, Yunani dan Romawi kuno melalui pelabuhan Barus. Di Mesir hasil produksi mereka, kapur Barus, digunakan sebagai bahan dasar pengawetan mumi, Raja-raja tuhan Fir’aun yang sudah meninggal. Tentunya di masa inilah hidup seorang pembawa agama yang dikenal sebagai Nabi Musa AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1000 SM – 1510 M&lt;br /&gt;Komunitas Batak berkembang dan struktur masyarakat berfungsi. Persaingan dan Kerjasama menciptakan sebuah pemerintahan yang berkuasa mengatur dan menetapkan sistem adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan tahun sebelum lahirnya Nabi Isa Al Masih, Nabi Bangsa Israel di Tanah Palestina, Dinasti Sori Mangaraja telah berkuasa dan menciptakan tatanan bangsa yang maju selama 90 generasi di Sianjur Sagala Limbong Mulana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti tersebut bersama menteri-menterinya yang sebagian besar adalah Datu, Magician, mengatur pemerintahan atas seluruh Bangsa Batak, di daerah tersebut, dalam sebuah pemerintahan berbentuk Teokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Sorimangaraja terdiri dari orang-orang bermarga Sagala cabang Tatea Bulan. Mereka sangat disegani oleh Bangsa Batak di bagian selatan yang keturunan dari Tatea Bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bertambahnya penduduk, maka berkurang pula lahan yang digunakan untuk pertanian, yang menjadi sumber makanan untuk mempertahankan regenerasi. Maka perpindahan terpaksa dilakukan untuk mencari lokasi baru. Alasan lain dari perpindahan tersebut adalah karena para tenaga medis kerajaan gagal membasmi penyakit menular yang sudah menjangkiti penduduk sampai menjadi epidemik yang parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan diarahkan ke segala arah, sebagain membuka pemukiman baru di daerah hutan belukar di arah selatan yang kemudian bernama Rao, sekarang di Sumatera Barat. Beberapa kelompok di antaranya turun ke arah timur, menetap dan membuka tanah, sekarang dikenal sebagai Tanjung Morawa, daerah di pinggir Kota Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kerajaan lain yang berdiri di era ini adalah Kerajaan Hatorusan yang didirikan oleh Raja Uti di Sianjur Mula-mula. Pusat kerajaan kemudian dipindahkan ke Barus dan Sigkil. Raja Uti adalah cucu langsung Si Raja Batak dari anaknya Guru Tatebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;200 SM-150 M&lt;br /&gt;Orang-orang Mesir (masa Ramses) mengunjungi tanah Batak, tepatnya, Barus untuk membeli kapur barus. Sumber-sumber sejarah Yunani, misalnya dari Ptolomeus abad ke-2 SM mengatakan bahwa kapal-kapal Athena telah singgah di kota Barus pada abad-abad terakhir sebelum tibanya tarikh Masehi. (Abdul Hadi W.M, Hamzah Fansuri; Masalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, Mizan 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ptolomeus membicarakan Barus sebanyak lima kali di dalam laporannya dengan pandangan negatif terhadap penduduk pribumi Sumatera, khususnya orang Batak yang dikatakannya sebagai orang-orang kanibal (Wolters hal. 9; Krom h. 57-59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula rombongan kapal Fir'aun dari Mesir telah berkali-kali berlabuh di Barus antara lain untuk membeli kapur barus (kamper), bahan yang sangat diperlukan untuk pembuatan mummi. Mereka adalah orang-orang Arab pra-Islam Funisia, Kartago yang sekarang menjadi Libya dan Mesir, Afrika Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100 SM&lt;br /&gt;Sementara itu di pedalaman Batak, Sianjur Mula-mula beberapa kerajaan huta telah berdiri. Tahun 100 SM Kerajaan Batahan Pulo Morsa eksis. Kerajaan ini memakai sistem raja na opat atau raja berempat yang terdiri; Pulo Morsa Julu, dengan Raja Suma Hang Deha, Pulo Morsa Tonga, Raja Batahan Jonggi Nabolon, Pulo Morsa Jau dengan Raja Situan I Rugi-rugi dan Pulo Morsa Jae dengan Raja Umung Bane. Kerajaan ini bertahan selama 24 keturunan. (Tiurma. L Tobing, Raja Sisingamangaraja XII, Depdikbud 1981).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;450 M&lt;br /&gt;Daerah Toba telah diolah dan dikelola secara luas oleh rakyat kerajaan tersebut. Mereka yang dominan terutama dari kubu Isumbaon, kelompok marga Si Bagot Ni Pohan, leluhur Annisa Pohan, menantu SBY, Presiden pilihan langsung pertama RI. Di daerah ini bermukim juga kaum Tatea Bulan yang membentuk kelompok minoritas terutama dari marga Lubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari Lubis terdesak ke luar Toba dan merantau ke selatan. Sebagain lagi menetap di Toba dan Uluan hingga kini. Keturunannya di Medan mendirikan banyak lembaga sosial terutama Pesantren Modern Darul Arafah di Pinggiran Kota Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah Selatan kelompok marga Lubis harus bertarung melawan orang-orang Minang. Kalah. Perantauan berhenti dan mendirikan tanah Pekantan Dolok di Mandailing yang dikelilingi benteng pertahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian berhadapan dengan bangsa Lubu, Bangsa berkulit Hitam ras Dravidian yang terusir dari India, melalui Kepulauan Andaman berkelana sampai daerah muara Sungai Batang Toru. Bangsa Lobu tersingkir dan kemudian menetap di hutan-hutan sekitar Muara Sipongi. Bila di India Bangsa Arya meletakkan mereka sebagai bangsa terhina, ‘untouchable’; haram dilihat dan disentuh, maka nasib sama hampir menimpa mereka di sini. Saudara Bangsa Lubu, Bangsa Tamil migrasi beberapa abad kemudian, dari India Selatan, membonceng perusahaan-perusahaan Eropa dan membentuk Kampung Keling di Kerajaan Melayu Deli, Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;497 M&lt;br /&gt;Para pengikut parmalim menyakini bahwa tahun 497 M atau 1450 tahun Batak, merupakan tahun kebangkitan pemikiran keagamaan di kepemimpinan Raja-raja Uti. Raja Uti dinobatkan sebagai Tokoh Spiritual Batak dan Rasul Batak (Abdul Rachmi Pasaribu, Raja Uti: Tokoh Spiritual Batak, Yayasan Lopian Indonesia, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;502-557&lt;br /&gt;Orang-orang Cina datang ke Barus. Orang Cina mengenal Barus dengan istilah P'o-lu-shih yang berarti pelabuhan peng-expor kapur. Sebuah itilah yang berasal dari kata Cina yang berarti harum: "P'o-lu" (Drakard 1993:3). Dalam teks-teks Cina pada zaman Dinasti Liang (502-557), saat itu, kapur dikenal dengan nama "obat salap dari P'o-lu atau Barus" atau P'o-lu-shih .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;600-700&lt;br /&gt;Pada abad ke-7, utusan dagang kerajaan Barus Hatorusan berangkat dari barus menuju ke Cina membicarakan perdagangan bilateral antara Sumatera dan Cina (Wolters 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;600-1200&lt;br /&gt;Komunitas Batak di Simalungun memberontak dan memisahkan diri dari Dinasti Batak, Dinasti Sori Mangaraja di pusat. Mereka mendirikan kerajaan Nagur. Mereka ini keturunan Batak yang bermukim di Tomok, Ambarita dan Simanindo di Pulau Samosir. Di kemudian hari kerajaan Nagur di tangan orang Batak Gayo mendirikan kerajaan Islam Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simalungun merupakan tanah yang subur akibat bekas siraman lava. Siraman lava dan marga tersebut berasal dari ledakan gunung berapi terbesar di dunia, di zaman pra sejarah. Ledakan itu membentuk danau Toba. Orang Simalungun berhasil membudidayakan tanaman, selain padi yang menjadi tanaman kesukaan orang Batak; Pohon Karet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil-hasil pohon karet tersebut mengundang kedatangan ras Mongoloid lainnya yang mengusir mereka dari daratan benua Asia; orang-orang Cina yang sudah pintar berperahu pada zaman Dinasti Swi, 570-620 M. Di antaranya Bangsa Yunnan yang sangat ramah dan banyak beradaptasi dengan pribumi dan suku bangsa Hokkian, suku bangsa yang dikucilkan di Cina daratan, yang mengekspor tabiat jahat dan menjadi bajak laut di Lautan Cina Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolaborasi dengan bangsa Cina tersebut membentuk kembali kebudayaan maritim di masyarakat setempat. Mereka mendirikan kota pelabuhan Sang Pang To di tepi sungai Bah Bolon lebih kurang tiga kilometer dari kota Perdagangan. Orang-orang dari Dinasti Swi tersebut meninggalkan batu-batu bersurat di pedalaman Simalungun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah pesisir Barat, Barus, kota maritim yang bertambah pesat yang sekarang masuk di Kerajaan Batak mulai didatangi pelaut-pelaut baru, terutama Cina, Pedagang Gujarat, Persia dan Arab. Pelaut-pelaut Romawi Kuno dan Yunani Kuno sudah digantikan oleh keturunan mereka pelaut-pelaut Eropa yang lebih canggih, dididikan Arab Spanyol. Islam mulai diterima sebagai kepercayaan resmi oleh sebagian elemen pedagang Bangsa Batak yang mengimpor bahan perhiasan dan alat-alat teknologi lainnya serta mengekpor ‘Kemenyan’ komoditas satu-satunya tanah Batak yang sangat diminati dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mulai dikenal dan diterima sebagai agama resmi orang-orang Batak di pesisir; khusunya Singkil dan Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;600-700 M&lt;br /&gt;Sriwijaya menjajah Barus. Sementara itu laporan Cina yang lain mengatakan bahwa Sriwijaya pada abad ke-7 dan 8 merupakan kerajaan ganda satu diantaranya ialah Barus (Wolters 9). Diyakini lokasi strategis Barus dan volume perdagangan di wilayah tersebut membuat kerajaan Hatorusan terlibat dalam pertikaian politik dengan kerajaan Sriwijaya dari Sumatera Selatan dan Jawa, sehingga saling menganeksasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Barus dengan Sriwijaya dibicarakan di dalam kitab Sunda lama "Carita Parahyangan" yang mengatakan bahwa Barus merupakan daerah taklukan dari Raja Sanjaya, raja Sumatera dari Sriwijaya yang berkuasa di Jawa dan mendirikan candi Borobudur (Krom 126).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;850 M&lt;br /&gt;Kelompok Marga Harahap dari Kubu Tatea Bulan, bekas populasi Habinsaran bermigrasi massal ke arah Timur. Menetap di aliran sungai Kualu dan Barumun di Padang Lawas. Kelompok ini sangat hobbi berkuda sebagai kendaraan bermigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini, dalam jangka waktu yang singkat, sekitar dua tahun, mereka sudah menguasai hampir leuruh daerah Padang Lawas antara sungai Asahan dan Rokan. Sebuah daerah padang rumput yang justru sangat baik untuk mengembangbiakkan kuda-kuda mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagain dari kelompok marga ini, melalui Sipirok, menduduki daerah Angkola dan di sini tradisi mengembala dan menunggang kuda hilang, mereka kembali menjadi komunitas agraris. Sementara di Padang Lawas mereka menjadi penguasa feodalistik dan mulai memperkenalkan perdagangan budak ke Tanah Batak Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;851 M&lt;br /&gt;Laporan Sulaiman pada tahun 851 M membicarakan tentang penambangan emas dan perkebunan barus (kamper) di Barus (Ferrand 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli sejarah menemukan bukti-bukti arkeologis yang memperkuat dugaan bahwa sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang awal di Sumatera seperti Peurlak dan Samudera Pasai, yaitu sekitar abad-9 dan 10, di Barus telah terdapat kelompok-kelompok masyarakat Muslim dengan kehidupan yang cukup mapan (Dada Meuraxa dalam Ali Hasymi, Sejarah Masuk dan Perkembangan Islam di Indonesia, bandung PT Al Ma'arif 1987). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;900 M&lt;br /&gt;Marga Nasution mulai tebentuk di Mandailing. Beberapa ratus tahun sebelumnya, sejak tahun-tahun pertama masyarakat Batak di sini, disinyalir saat itu zaman Nabi Sulaiman di Timur Tengah (Buku Ompu Parlindungan), perbauran penduduk dengan pendatang sudah menjadi tradisi di beberapa tempat, khusunya yang di tepi pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk dataran tinggi, para pendatang di pelabuhan Natal dan Muaralabu (dikenal dengan sebutan Singkuang atau Sing Kwang oleh ejaan Cina), dan terutama elemen-elemen bangsa Pelaut Bugis dari Sulawesi, yang singgah sebelum berlayar berdagang menuju Madagaskar, telah berasimilasi dengan penuh toleransi dengan bangsa Batak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendatang tersebut dengan sukarela interaksi dan menerima adat Dalihan Natolu agar dapat mempersunting wanita-wanita setempat setelah puluhan tahun di tengah laut. Datu Nasangti Sibagot Ni Pohan dari Toba, seorang yang disegani saat itu, menyatukan mereka; campuran penduduk peribumi dan pendatang tersebut, membentuk marga Nasution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu perebutan kekuasaan terjadi di Pusat Pemerintahan Kerajaan batak, martua Raja Doli dari Siangjur Sagala Limbong Mulana dengan pasukannya merebut wilayah Lottung di Samosir Timur. Percampuran keduanya membentuk kelompok Marga Lottung Si Sia Marina, yang terdiri atas; Situmorang, Sinaga, Nainggolan, Pandiangan, Simatupang, Aritonang dan Siregar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rustih, mengunjungi Barus kurang lebih pada tahun 900 M, menyebut Fansur, nama kota di Barus, sebagai negeri yang paling masyhur di kepulauan Nusantara (Ferrand 79). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;902 M&lt;br /&gt;Ibn Faqih, mengunjungi Barus, melaporkan bahwa Barus merupakan pelabuhan terpenting di pantai barat Sumatera (Krom 204).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1050 M&lt;br /&gt;Karena minimnya peralatan medis, epidemik melanda daerah Lottung kembali. Masyarakat Lottung Si Sia Marina berhamburan ke luar dari wilayah tersebut menuju daerah yang “sehat”. Akibatnya, kelompok Marga Siregar terpecah dua menjadi Siregar Sigumpar dan Siregar Muara, keduanya bermukin di Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1070-1120&lt;br /&gt;Kemasyhuran Barus juga mengundang imigran asing bermukim dan berdagang serta menjadi buruh di beberapa sentral industri. Sebuah inskripsi Tamil bertarikh 1088 M dari zaman pemerintahan Kulottungga I (1070-1120) dari kerajaan Cola menyebut Barus terletak di Lobu Tua, dan banyak orang Tamil tinggal di kota ini sebagai saudagar dan pengrajin (Krom 59-60). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Marsakkot Pardosi, Salah satu Dinasti Pardosi di Barus menjadi Raja di Lobu Tua Barus. Nenek moyangnya berasal dari Tukka, Pakkat di Negeri Rambe yang datang dari Balige, Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada permulaan abad ke-12, seorang ahli geografi Arab, Idrisi, memberitakan mengenai ekport kapur di Sumatera (Marschall 1968:72). Kapur bahasa latinnya adalah camphora produk dari sebuah pohon yang bernama latin dryobalanops aromatica gaertn. Orang Batak yang menjadi produsen kapur menyebutnya hapur atau todung atau haboruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa istilah asing mengenai Sumatera adalah al-Kafur al-Fansuri dengan istilah latin Canfora di Fanfur atau Hapur Barus dalam bahasa Batak dikenal sebagai produk terbaik di dunia (Drakard 1990:4) dan produk lain adalah Benzoin dengan bahasa latinnya Styrax benzoin. Semua ini adalah produk-produk di Sumatera Barat Laut dimana penduduk aselinya dalah orang-orang Pakpak dan Toba (Associate Prof. Dr Helmut Lukas, Bangkok 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1200-1285&lt;br /&gt;Kerajaan Nagur tetap eksis di hulu sungai Pasai. Marah Silu, Raja huta Kerajaan Nagur, mantan prajurit/pegawai Kesultanan Daya Pasai saat itu, masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Malik Al Shaleh. Di atas puing-puing kerajaan Nagur tersebut, sang Raja, yang aseli Batak Gayo, berhasil melakukan ekspansi dan mendirikan Kerajaan Samudera Pasai sekaligus menjadikannya sebagai Sultan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerabat Sultan Malik Al Shaleh, yakni Syarif Hidayat Fatahillah merupakan tokoh yang mendirikan kota Jakarta dan menjadi Sultan Banten (Emeritus) dan ikut serta mendirikan Kesultanan Cirebon. Dia, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, adalah tokoh yang berhasil menyelamatkan penduduk pribumi dari amukan bangsa Portugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Malik Al Shaleh sendiri lahir di Nagur, di tanah Batak Gayo. Dia adalah mantan prajurit Kesultanan Daya Pasai. Sebuah kerajaan yang berdiri di sisa-sisa kerajaan Nagur atau tanah Nagur. Nama lahirnya adalah Marah Silu. Marah berasal dari kata Meurah yang artinya ketua. Sedangkan Silu adalah marga Batak Gayo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggalannya (1285-1296) dia digantikan oleh anaknya Sultan Malik Al Tahir (1296-1327). Putranya yang lain Malik Al Mansyur pada tahun 1295 berkuasa di Barumun dan mendirikan Kesultanan Aru Barumun pada tahun 1299.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Batak Gayo di Kesultanan Aru Barumun adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sultan Malik Al Mansyur (1299-1322)&lt;br /&gt;2. Sultan Hassan Al Gafur (1322-1336)&lt;br /&gt;3. Sultan Firman Al Karim (1336-1361), pada era nya banyak bertikai dengan kekuatan imperialis Jawa Majapahit. Di bawah panglima Laksamana Hang Tuah dan Hang Lekir, pasukan marinir Aru Barumun berkali-kali membendung kekuatan Hindu Majapahit dari Jawa.&lt;br /&gt;4. Sultan Sadik Al Quds (1361). Wafat akibat serangan jantung.&lt;br /&gt;5. Sultan Alwi Al Musawwir (1361-1379)&lt;br /&gt;6. Sultan Ridwan Al Hafidz (1379-1407). Banyak melakukan hubungan diplomatik dengan pihak Cina&lt;br /&gt;7. Sultan Hussin Dzul Arsa yang bergelar Sultan Haji. Pada tahun 1409 dia ikut dalam rombongan kapal induk Laksamana Cengho mengunjungi Mekkah dan Peking di zaman Yung Lo. Dia terkenal dalam annals dari Cina pada era Dinasti Ming dengan nama “Adji Alasa” (A Dji A La Sa). Orang Batak yang paling dikenal di Cina.&lt;br /&gt;8. Sultan Djafar Al Baki (1428-1459). Meninggal dalam pergulatan dengan seekor Harimau.&lt;br /&gt;9. Sultan Hamid Al Muktadir (1459-1462), gugur dalam sebuah pandemi.&lt;br /&gt;10. Sultan Zulkifli Al Majid. Lahir cacat; kebutaan dan pendengaran. Pada tahun 1469, kesultanan Aru Barumun diserang oleh kesultanan Malakka, atas perintah Sultan Mansyur Syah yang memerintah antara tahun 1441-1476. Kota pelabuhan Labuhanbilik dibumihanguskan dan Angkatan Laut Kesultanan Aru Barumun dimusnahkan.&lt;br /&gt;11. Sultan Karim Al Mukji (1471-1489)&lt;br /&gt;12. Sultan Muhammad Al Wahid (1489-1512). Gugur dalam pertempuran melawan bajak laut Portugis.&lt;br /&gt;13. Sultan Ibrahim Al Jalil (1512-1523) ditawan dan diperalat oleh Portugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1292-1302 M&lt;br /&gt;Sultan Marah Pangsu Pardosi naik tahta, memerintah di Barus Hulu yang mencakup beberapa negeri diantaranya Negeri Rambe, menggantikan ayahnya Sultan Mualif Pardosi, (700-710 H). Kakeknya Sultan Kadir Pardosi merupakan turunan pertama, dari Dinasti Pardosi, dari Tukka, yang masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Pardosi sejak dahulu kala sampai abad ke-19 adalah:&lt;br /&gt;1. Raja Kesaktian (di Toba)&lt;br /&gt;2. Alang Pardosi pindah ke Rambe dan mendirikan istana di Gotting, Tukka&lt;br /&gt;3. Pucaro Duan Pardosi di Tukka&lt;br /&gt;4. Guru Marsakot Pardosi di Lobu Tua&lt;br /&gt;5. Raja Tutung Pardosi di Tukka, berselisih dengan Raja Rambe di Pakkat.&lt;br /&gt;6. Tuan Namora Raja Pardosi&lt;br /&gt; Ada gap yang lama, beberapa raja difase ini tidak terdokumentasi&lt;br /&gt;7. Raja Tua Pardosi &lt;br /&gt;8. Raja Kadir Pardosi (Pertama masuk Islam)&lt;br /&gt;9. Raja Mualif Pardosi&lt;br /&gt;10. Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)&lt;br /&gt;11. Sultan Marah Sifat Pardosi&lt;br /&gt;12. Tuanku Maharaja Bongsu Pardosi (1054 H)&lt;br /&gt;13. Tuanku Raja Kecil Pardosi&lt;br /&gt;14. Sultan Daeng Pardosi&lt;br /&gt;15. Sultan Marah Tulang Pardosi&lt;br /&gt;16. Sultan Munawar Syah Pardosi&lt;br /&gt;17. Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H)&lt;br /&gt;18. Sultan Baginda Raja Adil Pardosi (1213 H)&lt;br /&gt;19. Sultan Sailan Pardosi (1241 H )&lt;br /&gt;20. Sultan Limba Tua Pardosi&lt;br /&gt;21. Sultan Ma’in Intan Pardosi&lt;br /&gt;22. Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi&lt;br /&gt;23. Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1292 M&lt;br /&gt;Pada abad-13 Ibnu Said membicarakan peranan Barus sebagai pelabuhan dagang utama untuk wilayah Sumatera (Ferrand 112). Marco Polo mengunjungi Sumatera pada tahun 1292 M, dan menulis bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan, yang agak tergantung kepada Cina, tetapi merupakan pelabuhan rempah-rempah yang penting dan memiliki otonomi (Krom 339).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1293 – 1339 M&lt;br /&gt;Penetrasi orang-orang Hindu yang berkolaborasi dengan Bangsa Jawa mendirikan Kerajaan Silo, di Simalungun, dengan Raja Pertama Indra Warman dengan pasukan yang berasal dari Singosari. Pusat Pemerintah Agama ini berkedudukan di Dolok Sinumbah. Kerak direbut oleh orang-orang Batak dan di atasnya menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan Simalungun dengan identitas yang mulai terpisah dengan Batak. Kerajaan Silo ini terdiri dari dua level masyarakat; Para Elit yang terdiri dari kaum Priayi Jawa dan Masyarakat yang terdiri dari kelompok Marga Siregar Silo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1331 – 1364&lt;br /&gt;Di Nusantara, Kerajaan Majapahit tumbuh menjadi sebuah Negara Superpower. Sebelumnya, Sebagain Eropa Barat dan Timur sampai ke Kazan Rusia, Asia Tengah dan Afrika Utara dan tentunya Timur Tengah didominasi Kekuatan Arab yang juga menguasasi Samudera India, Atlantik dan sebagain Samudera Pasifik.. Kekuatan Persia-Mongol tampak di India, Pakistan, Banglades dan sebagian China dan Indo-Cina serta beberapa kepulauan Nusantara, mereka tidak kuat di laut. China menguasasi sebagian Samudera Pasifik khususnya laut China Selatan. Sementara itu di pedalaman Eropa manusia masih hidup dalam pengaruh Yunani dan Romawi yang Animis, mereka kemudian menjadi perompak dan pembajak laut. Di daerah nusantara kaum Hokkian menguasasi jaringan ‘garong’ perompak yang terkadang lebih kuat dari kerajaan-kerajaan kecil melayu. Para pembajak laut Eropa sesekali diboncengi kaum Fundamentalis Yahudi dan pendatang baru; kaum trinitas Gereja barat yang berseberangan dengan Gereja timur yang unitarian dan menaruh dendam kesumat atas kejayaan Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prapanca, seorang pujangga Majapahit abad ke-14, yang masyhur mengatakan di dalam Negara Kertagama bahwa Barus merupakan salah satu negeri Melayu yang penting di Sumatera. Negeri Barus menjadi terkenal karena masyarakat Batak di Sumatera saat itu, Batak Pesisir, menggunakan bahasa Melayu sebagai Lingua Franca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1339&lt;br /&gt;Pasukan ampibi Kerajaan Majapahit melakukan infiltrasi di muara Sungai Asahan. Dimulailah upaya invasi terhadap Kerajaan Silo. Raja Indrawarman tewas dalam penyerbuan tersebut. Kerajaan Silo berantakan, keturunan raja bersembunyi di Haranggaol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Majapahit di bawah komando Perdana Menteri Gajah Mada, mengamuk dan menghancurkan beberapa kerajaan lain; Kerajaan Haru/Wampu serta Kesyahbandaran Tamiang (sekarang Aceh Tamiang) yang saat itu merupakan wilayah kedaulatan Samudra Pasai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Samudra Pasai, di bawah komando Panglima Mula Setia, turun ke lokasi dan berhasil menyergap tentara Majapahit di rawa-rawa sungai Tamiang. Gajah Mada bersma pengawal pribadinya melarikan diri ke Jawa meninggalkan tentaranya terkepung oleh pasukan musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Keturunan Indrawarman kembali ke kerajaan dan mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Dolok Silo dan Kerajaan Raya Kahean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1339&lt;br /&gt;Kerajaan Dolok Silo dan Raya Kahean berakulturasi menjadi kerajaan Batak/Simalungun, namun tetap berciri khas Hindu/Jawa absolut. Konon kerajaan ini mampu berdiri selama 600 tahun. Menjadi dinasti tertua di Kepulauan Indonesia di abad 20. Sekitar 250 tahun lebih tua dari Dinasti Mataram di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama dua kerajaan lain muncul kepermukaan; Kerajaan Siantar dan Tanah Jawa. Raja di Kerajaan Siantar merupakan keturunan Indrawarman, sementara Pulau Jawa, dipimpin oleh Raja Marga Sinaga dari Samosir. Penamaan tanah Jawa untuk mengenang Indrawarman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1350&lt;br /&gt;Kelompok Marga Siregar bermigrasi ke Sipirok di Tanah Batak Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1416 – 1513&lt;br /&gt;Pasukan Cina dibawah komando Laksamana Haji Sam Po Bo, Ceng Ho, dalam armada kapal induk mendarat di Muara Labuh di muara Sungai Batang Gadis. Salah satu misi mereka; mengejar para bandit Hokkian tercapai. Sebelum berangkat, pasukan Cengho yang berjumlah ribuah itu mendirikan industri pengolahan kayu dan sekaligus membuka pelabuhan Sing Kwang (Singkuang=Tanah Baru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1416-1513&lt;br /&gt;Orang-orang Tionghoa yang beragama Islam mulai berdatangan ke Sing Kwang dan berasimilasi dengan penduduk khususnya kelompok marga Nasution. Para Tionghoa tersebut membeli Kayu Meranti dari pengusaha setempat dan mengirimkannya ke Cina daratan untuk bahan baku tiang istana, kuil dan tempat ibadah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1419-1444&lt;br /&gt;Nicolo di Conti dari Venesia tahun 1419-1444 mengadakan perjalanan ke Barus dan menyebutkan kapur dalam bukunya. Seorang navigator atau mualim Arab Ahmad bin Majid menulis dalam bukunya "Kitab al-Fawa'id fi usul al-Bahr wa al-Qawaid" (c 1489-1490) bahwa kapur Barus ada di bagian utara Sumatera yaitu antara garis katulistiwa sampai tiga derajat lintang utara (Marsden 1811: 149f)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1450-1500&lt;br /&gt;Islam menjadi agama resmi orang-orang Batak Toba, khususnya dari kelompok marga Marpaung yang bermukim di aliran sungai Asahan. Demikian juga halnya dengan Batak Simalungun yang bermukim di Kisaran, Tinjauan, Perdagangan, Bandar, Tanjung Kasau, Bedagai, Bangun Purba dab Sungai Karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan terjadi di konstalasi politik dunia. Para bajak laut Eropa mulai mencari target operasi baru di kepulauan Nusantara yang hilir mudik dilalui para pedagang-pedagang Internasional; Arab, Afrika, India, Gujarat, Punjabi, Yunnan dan tentunya kelompok bajak laut lokal; Hokkian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1450-1818&lt;br /&gt;Kelompok Marga Marpaung menjadi supplaier utama komoditas garam ke Tanah Batak di pantai timur. ‘Splendidi Isolation’ Bangsa batak mulai terkuak. Yang positif bisa masuk namun tidak yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid pribumi pertama didirikan oleh penduduk setempat di pedalaman Tanah Batak; Porsea, lebih kurang 400 tahun sebelum mesjid pertama berdiri di Mandailing. Menyusul setelah itu didirikan juga mesjid di sepanjang sungai Asahan antara Porsea dan Tanjung Balai. Setiap beberap kilometer sebagai tempat persinggahan bagi musafir-musafir Batak yang ingin menunaikan sholat. Mesjid-mesjid itu berkembang, selain sebagai termpat ibadah, juga menjadi tempat transaksi komoditas perdagangan. Siapapun berhak membeli, tidak ada diskriminasi agama. Toleransi antara Islam dan Agama S.M.Raja berlangsung begitu erat dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1508&lt;br /&gt;Kerajaan Haru/Wampu yang berpopulasi orang-orang Batak Karo diinvasi oleh Kesultanan Aceh. Dalam perkembangan politik berikutnya para keturunan Raja Haru/Wampu mendirikan kerajaan baru yang menjadi cikal bakal Kesultanan Langkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1508-1523&lt;br /&gt;Kesultanan Haru/Delitua tetap eksis di daerah pengairan sungai Deli namun kedulatannya berada dalam otoritas Kesultanan Aceh. Penduduknya merupakan Batak Karo yang sudah memeluk agama Islam. Setelah melemahnya dominasi Kesultanan Aceh, Kesultanan ini bertransformasi menjadi Kesultanan Deli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok bajak laut Eropa setelah beberapa lama dikucilkan karena perangai ‘garongnya’ mulai memperkenalkan diri kepada kerajaan-kerajaan nusantara sebagai ‘pedagang damai’. Taktik ini diambil agar mereka dapat melakukan penetrasi ke wilayah kerajaan untuk pemetaan dan penentuan titik-titik serangan untuk ‘devide et impera’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1510&lt;br /&gt;Dinasti Sori Mangaraja, yang berpusat di Sianjur Limbong Mulana, dikudeta oleh Kelompok Marga Manullang. Kejayaan dinasti ini, setelah 90 generasi berturut-turut memerintah, lenyap. Dinasti ini sendiri terdiri dari Kelompok Marga Sagala dari kubu Tatea Bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1511&lt;br /&gt;Pada permulaan abad-16, Tome Pires-seorang pengembara Portugis- yang terkenal dan mencatat di dalam bukunya "Suma Oriental" bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan kecil yang merdeka, makmur dan ramai didatangi para pedagang asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan bahwa di antara komoditas penting yang dijual dalam jumlah besar di Barus ialah emas, sutera, benzoin, kapur barus, kayu gaharu, madu, kayu manis dan aneka rempah-rempah (Armando Cartesao, The Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Rodrigues, Nideln-Liechtenstein: Kraus Reprint Ltd,.1967; hal. 161-162).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis Arab terkenal Sulaiman al-Muhri juga mengunjungi Barus pada awal abad ke-16 dan menulis di dalam bukunya al-Umdat al-Muhriya fi Dabt al-Ulum al-Najamiyah (1511) bahwa Barus merupakan tujuan utama pelayaran orang-orang Arab, Persia dann India. Barus, tulis al-Muhri lagi, adalah sebuah pelabuhan yang sangat terkemuka di pantai Barat Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan abad ke-16 seorang ahli sejarah Turki bernama Sidi Ali Syalabi juga berkunjung ke Barus, dan melaporkan bahwa Barus merupakan kota pelabuhan yang penting dan ramai di Sumatera. (Lihat. L.F. Brakel, Hamza Pansuri, JMBRAS vol. 52, 1979).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah misi dagang Portugis mengunjungi Barus pada akhir abad ke-16, dan di dalam laporannya menyatakan bahwa di kerajaan Barus, benzoin putih yang bermutu tinggi didapatkan dalam jumlah yang besar. Begitu juga kamfer yang penting bagi orang-orang Islam, kayu cendana dan gaharu, asam kawak, jahe, cassia, kayu manis, timah, pensil hitam, serta sulfur yang dibawa ke Kairo oleh pedagang-pedagang Turki dan Arab. Emas juga didapatkan di situ dan biasanya dibawa ke Mekkah oleh para pedagang dari Minangkabau, Siak, Indragiri, Jambi, Kanpur, Pidie dan Lampung. (Lihat B.N. Teensma, "An Unkown Potugese Text on Sumatera from 1582", BKI, dell 145, 1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1516-1816&lt;br /&gt;Di Daerah Batak Selatan, dengan populasi Tatea Bulan, Dinasti Sori Mangaraja meneruskan pengaruhnya di Sipirok. Secara de jure diakui oleh masyarakat Marga Siregar, Harahap dan Lubis. Secara mayoritas masyarakat marga Nasution juga memberikan pengakuan sehingga Dinasti Sisingamagaraja yang memerintah tanah Batak seterusnya, berpusat di Bakkara, tidak mendapat pengakuan yang menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Sorimangaraja:&lt;br /&gt;1. Sorimangaraja I-XC (1000 SM-1510M)&lt;br /&gt;2. Sorimangaraja XC (1510). Dikudeta oleh orang-orang marga Simanullang&lt;br /&gt;3. Raja Soambaton Sagala menjadi Sorimangaraja XCI&lt;br /&gt;4. Sorimangaraja CI (ke-101) 1816 M dengan nama Syarif Sagala masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1513&lt;br /&gt;Kesultanan Aceh merebut pelabuhan-pelaburan pantai barat Pulau Andalas, untuk dijadikan jalur baru perdagangan internasional ke Maluku via selat Sunda. Bajak laut Portugis menutup dan melakukan aksi bajing loncat di Selat Malaka. Portugis mulai membawa kebencian agama ke Nusantara; diskriminasi agama diterapkan dengan melarang pedagang Islam melalui Malaka. Cina Islam, Arab dan penduduk nusantara menjadi korban pelecehan gaya Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh internasionalisasi pelabuhan di Andalas, penduduk lokal Batak di lokasi tersebut; Singkil, Pansur, Barus, Sorkam, Teluk Sibolga, Sing Kwang dan Natal memeluk Islam setelah sebelumnya beberapa elemen sudah menganutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Marga Tanjung di Pansur, marga Pohan di barus, Batu Bara di Sorkam kiri, Pasaribu di Sorkam Kanan, Hutagalung di Teluk Sibolga, Daulay di Sing Kwang merupakan komunitas Islam pertama yang menjalankan Islam dengan kaffah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1513-1818&lt;br /&gt;Komunitas Hutagalung dengan karavan-karavan kuda menjadi komunitas pedagang penting yang menghubungkan Silindung, Humbang Hasundutan dan Pahae. Marga Hutagalung di Silindung mendirikan mesjid lokal kedua di Silindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jerman, Kaum Protestan melepaskan diri dari hegemoni Gereja Katolik Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1523&lt;br /&gt;Orang-orang Eropa tidak sabar untuk menjarah Nusantara. Kesultanan Karo Muslim di Haru/Delitua dimusnahkan oleh kaum Portugis. Ratu Putri Hijau, yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan raja-raja Aceh, tewas. Sambil berzikir sang ratu diikat di mulut meriam lalu diledakkan. Kebrutalan perang diperkenalkan oleh bangsa Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1540-1884&lt;br /&gt;Dinasti Sisingamagaraja (SM Raja) tampil sebagai otoritas tertinggi di Tanah Batak, menggantikan dominasi Dinasti Sori Mangaraja. Sisingamangaraja I, Lahir di Bakkara dengan nama Manghuntal atau dikenal juga dengan nama Mahkuta, dibesarkan di Istana Raja Uti VII (Pasaribu Hatorusan) di Singkel, menjadi raja Batak di Bakkara paska menumpas pemberontakan memerintah di tahun 1540-1550 M, lalu menghilang, putra mahkotanya yang masih berumur 12 tahun naik tahta menggantikannya. Diketahui kemudian, Sisingamangaraja pergi ke tanah Karo dan di sana dia berkeluarga dan salah seorang cucunya menjadi pendiri Kota Medan, yakni Guru Patimpus..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Manghuntal atau Raja Mahkota bergelar Sisingamangaraja I memerintah sentral Tanah Batak selama 10 tahun menurut stempel, cap kerajaan, yang bertahun 947 H dan berakhir dalam tahun 957 Hijriyah atau dalam tahun 1540 s.d 1550 M. (Diambil dari informasi L. van Vuuren, Samosir en de Pakpaklanden, Nota 1907).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manghuntal mulai menata kembali kehidupan masyarakat. Untuk mengakomodasi berbagai kepentingan dan pertikaian antar kelompok masyarakat, dia berkoalisi dengan dengan tetua di Bakkara. Mereka, yang menjadi perwakilan tersebut diangkat sebagai anggota kabinet di pemerintahan, adalah raja-raja dari si Onom Ompu; Kelompok Bakkara, Sihite, Simanullang, Sinambela, Simamora dan Marbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing keluarga ini didelegasikan beberapa wewenang. Setiap mereka diberi simbol kerajaan berupa barang pusaka yang didapat Manghuntal dari Kerajaan Hatorusan (Raja Uti VII).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, di juga melakukan distribusi kerja yang jelas kepada para pembantunya; di antaranya lembaga Pande Na Bolon yang bertugas sebagai penasehat dan juga sebagai fasilitator antar daerah di dalam kerajaan. Jabatan bendahara kerajaan diberikan kepada marga Sihite. Untuk mengikat semua daerah kekuasaan dalam satu kesatuan yang utuh, dia melakukan berbagai pendekatan antara lain secara spiritual dengan membawa air dan tanah dari Bakkara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target pertamanya adalah dengan merangkul Humbang. Humbang merupakan daerah paling Barat kerajaan yang berpopulasi keturunan raja Sumba, sama dengan Manghuntal. Mereka itu berasal dari marga Sihombing dan Simamora. Di sana dia mengangkat dua perwakilannya; dalam institusi Raja Parbaringin, yaitu dari marga Simamora dan Hutasoit (Putra sulung Sihombing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Humbang dia pergi ke Silindung. Dia mengangkat raja na opat untuk daerah ini. Perbedaan institusi perwakilannya tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan geografis dan politik saat itu. Hal yang sama dia melakukannya untuk daerah-daerah yang lain. Satu instusi lainnya adalah panglima wilayah. Sebuah daerah yang damai atau homogen akan berbeda dengan huta yang plural. Begitu juga daerah yang berbatasan langsung dengan luar kerajaan dengan yang berada di pusat kerajaan mendapat perwakilan yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insting kepemimpinan yang dia warisi selama masih dididik di istama Raja-raja Uti membuatnya memahami betul langkah-langkh politik yang sesuai dengan karakter sebuah huta. Sikap ini dengan cepat dapat menyatukan masyarakat Batak yang berbeda-beda marga dan kepentingan hutanya. Egoisme, primordialisme huta dan fanatisme marga serta kebiasaan bertengkar orang-orang Batak ditundukkan dengan harmoni dan kebersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di bidang politik, Manghuntal juga mendapat sambutan yang positif dari masyarakat. Masa kecil Manghuntal di Bakkar sebelum dididik di Istana Raja Uti VII yang baik sangat diingat oleh penduduk sebagai orang yang baik hati, tegas, suka menjauhi perbudakan, membayar utang orang-orang yang tidak mampu dan lain sebagainya membuat kharismanya menanjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewibawaan dan keharuman namanya menumbuhkan beberapa mitos di masyarakat mengenai pribadinya. Tidak diketahui siapa yang membuat mitos tersebut, tapi yang pasti pembuatnya adalah pengagum kepribadian Manghuntal. Beberapa mitos tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Divine dan Holy; SM Raja dan keturunanya dianggap sebagai seorang yang mempunyai sifat ketuhanan dan suci. Dia juga dianggap sebagai maha sakti dan mempunyai banyak kelebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immortalitas juga disandingkan kepadanya sebagai raja yang "yang tidak pernah mati dan tua"-na so olo mate na so olo matua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omniscient; Orang Batak percaya bahwa SM Raja mengetahui semua hal yang dikatakan dan dilakukan. Mempunyai sahala yang tinggi. Sahala yang dimaksud adalah kekuatan untuk menunjukkan kemampuan yang tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1590&lt;br /&gt;Guru Patimpus, cucu dari Sisingamangaraja, masuk Islam dan pada tanggal 1 Juli 1590 atau tahun 998 H, mendirikan kota Medan. Tanggal 1 Juli 1590 menjadi haru jadi kota Medan. Cucu Sisingamangaraja menjadi raja-raja huta di tanah Karo di bawah bayang-bayang hegemoni Batak Karo (Haru) dan Batak Gayo (Samudera Pasai dan Kesultanan Aru Barumun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Datuk Bueng yang tinggal di Jl. Kertas Medan dia mempunyai dokumen tua dalam bentuk lempeng–lempeng. Menurut trombo yang ada padanya Raja–raja 12 Kuta (Hamparan Perak) adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Sisingamangaraja I, setelah menghilang dari Bakkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sisingamangaraja I, Lahir di Bakkara, dibesarkan di Istana Raja Uti VII (Pasaribu Hatorusan) di Singkel, menjadi raja Batak di Bakkara paska menumpas pemberontakan memerintah di tahun 1540-1550 M, lalu menghilang. Diketahui kemudian dia pergi ke tanah Karo. &lt;br /&gt;2. Tuan si Raja Hita&lt;br /&gt;3. Guru Patimpus, masuk Islam dan pada tanggal 1 Juli 1590, mendirikan kota Medan.&lt;br /&gt;4. Datuk Hafiz Muda&lt;br /&gt;5. Datuk Muhammad Syah Darat&lt;br /&gt;6. Datuk Mahmud&lt;br /&gt;7. Datuk Ali&lt;br /&gt;8. Banu Hasim&lt;br /&gt;9. Sultan Seru Ahmad&lt;br /&gt;10. Datuk Adil&lt;br /&gt;11. Datuk Gombak&lt;br /&gt;12. Datuk Hafiz Harberhan&lt;br /&gt;13. Datuk Syariful Azas Haberham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1550-1595&lt;br /&gt;Angka tahun ini adalah masa pemerintahan Sisingamangaraja II, yang bernama Raja Manjolong gelar Datu Tinaruan atau Ompu Raja Tinaruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1581&lt;br /&gt;Marga Rangkuti terbentuk. Terdiri dari orang-orang Jawa/Minang yang mengambil suaka politik di Mandailing akibat perubahan politik di Kerajaan Pagarruyung di Minagkabau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1593-1601&lt;br /&gt;Intelektual lokal mulai tampil ke permukaan. Abdulrauf Singkil terkenal sebagai ulama dan intelektual di dalam ilmu fiqih, politik dan ilmu sosial lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teorinya antara lain; Penghapusan perbedaan antara Kepala Negara dan Agama. Raja merupakan otoritas kerajaan dan juga agama. Dia mensyaratkan bahwa Raja yang akan memangku jabatan ini bukan turun temurun melainkan dipilih langsung oleh rakyat. Kedaulatan ada di tangan rakyat. Teori ini kemudian diterima oleh Kesultanan Aceh dan jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eropa mulai bangkit melewati masa kegelapan. Ibarat bangsa kelaparan mereka berhamburan ke penjuru dunia untuk membangun negara-negaranya. Bangsa Inggris mulai membuat pertapakan pertama di Pelabuhan Tapian Na Uli di tepi teluk Sibolga. Titik ini sangat mendukung untuk pemenuhan logistik mereka untuk menjarah bagian-bagian lain di Nusantara. Ambisi jahat yang tidak bisa ditebak oleh penduduk lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya perbudakan mendapat eksploitasi yang parah oleh hadirnya pihak Eropa. Keramahan bangsa Batak di Batang Toru, Puli, Situmandi serta Sigeaon dimanipulasi, mereka kemudian diperdagangkan sebagai Budak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa wilayah di Nusantara mulai ditundukkan dengan tipu muslihat Eropa. Perang antar kerajaan menjadi sangat intens; akibat Devide Et Impera. Belanda mulai memetakan target operasi mereka di tanah Batak setelah menguasai Jawa dan beberapa kerajaan kecil di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1590-1604&lt;br /&gt;Syair-syair Hamzah Fansuri menggambarkan keindahan kota Barus saat itu. Keramaian dan kesibukan kota pelabuhan dengan pasar-pasar dan pandai emasnya yang cekatan mengubah emas menjadi "ashrafi", kapal-kapal dagang besar yang datang dan pergi dari dan ke negeri-negeri jauh, para penjual lemang tapai di pasar-pasar, proses pembuatan kamfer dari kayu barus dan keramaian pembelinya, lelaki-lelaki yang memakai sarung dan membawa obor yang telah dihiasi dalam kotak-kotak tempurung bila berjalan malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis-gadis dengan baju kurung yang anggun dan di leher mereka bergantung kalung emas penuh untaian permata, yang bila usia nikah hampir tiba akan dipingit di rumah-rumah anjung yang pintu-pintunya dihiasi berbagai ukiran yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain syair-syairnya juga memperlihatkan kekecewaanya terhadap perilaku politik sultan Aceh, para bangsawan dan orang-orang kaya yang tamak dan zalim. (Mengenai kesusateraan Hamzah Fansuri lihat S.N. al-Attas, The Origin of Malays Sha'ir, Kulala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968. Juga baca V.I. Braginsky, Tasawuf dan Sastra Melayu, Jakarta: RUL,. 1993, khususnya esai "Sekali Lagi Tentang Asal-usul Sya'ir"; hal 63-76.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana para sarjana Batak, Hamzah Fansuri mendapat pengaruh besar di Aceh. Van Nieuwenhuijze (1945) dan Voerhoeve (1952) berpendapat bahwa Hamzah Fansuri memainkan peran penting di dalam kehidupan kerohanian di Aceh sampai akhir pemerintahan Sultan Ala'uddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil (1590-1604).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1595-1627&lt;br /&gt;Masa pemerintahan Sisingamangara III di Bakkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1610&lt;br /&gt;Sultan Ibrahimsyah Pasaribu, pendiri kembali Dinasti Hatorusan (Pasaribu), wafat dalam serbuan pasukan Aceh, kepalanya dipancung dan oleh itu dia dikenal dengan nama Sultan Tuanku Badan. Perang tersebut dimulai tahun 785 H. Ibrahimsyah Pasaribu adalah keturunan Raja Uti, putra Guru Tatea Bulan, pendiri kerajaan Hatorusan yang berpusat di Singkel dan Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Pasaribu, Tengku Barus Hilir:&lt;br /&gt;1. Sultan Ibrahimsyah Pasaribu (gelar Raja Hatorusan). Wafat 1610 Masehi.&lt;br /&gt;2. Sultan Yusuf Pasaribu&lt;br /&gt;3. Sultan Adil Pasaribu&lt;br /&gt;4. Tuanku Sultan Pasaribu&lt;br /&gt;5. Sultan Raja Kecil Pasaribu&lt;br /&gt;6. Sultan Emas Pasaribu&lt;br /&gt;7. Sultan Kesyari Pasaribu&lt;br /&gt;8. Sultan Main Alam Pasaribu&lt;br /&gt;9. Sultan Perhimpunan Pasaribu&lt;br /&gt;10. Sultan Marah Laut bin Sultan Main Alam Pasaribu pada tahun 1289 rabiul akhir atau pada tanggl 17 Juni 1872 menuliskan kembali Sejarah Tuanku Badan (Tambo Barus Hilir) yang menceritakan silsilah kerajaan Hatorusan di Barus, dari sebuah naskah tua peninggalan leluhurnya yang hampir lapuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1627-1667&lt;br /&gt;Masa Pemerintahan Sisingamangaraja IV, dengan nama Tuan Sorimangaraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1630&lt;br /&gt;Murid Hamzah Fansuri bernama Syamsuddin al-Sumatrani kemudian merantau ke Aceh dan menjadi penasihat politik dan agama di Pasai bagi Sultan Iskandar Muda. Dia wafat tahun 1630 M. Dia satu angkatan dengan Abdulrauf Fansuri, tokoh lain inteletual Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1641&lt;br /&gt;Belanda tercatat pertama kali masuk di Deli, Medan, tahun 1641, ketika sebuah kapal yang dipimpin Arent Patter merapat untuk mengambil budak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1644-1699&lt;br /&gt;Pada tahun 1050 H/1644 M, Belanda datang ke pantai barat Sumatera dan meminta ijin untuk bermukim dan mendirikan koloni perdagangan di Barus. Ijin tinggal kepada orang Belanda diberikan pada tahun 1668. (Stapel and Heeres, eds., Corpus Diplomaticum, vol. 2, pp.383-89). Belanda, akhirnya, mengadu domba dualitas kesultanan Barus (Hulu dan Hilir) yang berujung kepada penjajahan tanah air Barus, tanah Batak pesisir di bagian barat Sumatera di abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1667-1730&lt;br /&gt;Masa pemerintahan Sisingamangaraja V dengan nama asli Raja Pallongos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1730-1751&lt;br /&gt;Masa pemerintahan Sisingamangaraja VI dengan nama Raja Pangolbuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1736-1740&lt;br /&gt;Penduduk Barus, khususnya Sorkam dan Korlang, mengusir VOC, perusahaan Belanda yang banyak meresahkan (monopoli) perekonomian setempat. (VOC 2347, ff. 614-37 and f.425). Mereka dipimpin oleh Raja Simorang dari Tapanuli dan Raja Bukit. (Anne Lindsey, “The Private Trade Of The British In West Sumatera” 1735-1770” [Ph.D Disssertation, University of Hull, 1977], p. 122.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1751-1771&lt;br /&gt;Masa pemerintahan Sisingamangaraja VII, Ompu Tuan Lumbut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1771-1788&lt;br /&gt;Masa Pemerintahan Sisingamangaraja VIII, Ompu Sotaronggal, gelar Raja Bukit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1788-1819&lt;br /&gt;Masa pemerintahan Sisingamangaraja IX, Ompu Sohalompoan, Gelar Datu Muara Labu. Diduga ada permasalahan politik sehingga baru pada tahun 1819 adanya suksesi kepada Sisingamangaraja X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1790&lt;br /&gt;Haji Hassan Nasution dengan gelar Qadhi Malikul Adil menjadi orang Batak pertama yang naik haji di Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1809-1900&lt;br /&gt;Kebangkitan Ulama lokal dalam perkembangan keagamaan di Tanah Batak Selatan. Abdul Fatah dari Pagaran Siantar dan Syeikh Abdul Syukur menjadi dua tokoh intelektual lokal. Mereka dikenal dengan keahlian mereka dalam Tarekat, Khalwah dan Suluk. Disiplin imu mereka dikenal dengan nama “Mazhab Natal” karena mereka mengajar di Natal, tepatnya Huta Siantar. Mazhab Natal ini banyak dipengaruhi oleh ajaran Mazhab Maliki, yang dibawa Tuan Syekh Maghribi (Maulana Malik Ibrahim) dengan dukungan adat yang dipengaruhi oleh faham syiah. (Sejarah Ulama-ulama terkemuka di Sumatera Utara 1983: 19-23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1812 M&lt;br /&gt;Muhammad Faqih Amiruddin Sinambela, menjadi orang pertama dari lingkungan kerajaan Dinasti Sisingamangaraja yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Informasi ini didapat dari sebuah catatan keluarga, bertuliskan Arab, komunitas Marga Sinambela keturunan Sisingamangaraja di Singkil. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1816&lt;br /&gt;Elemen mata-mata Belanda mulai menyusup ke Tanah batak dengan misi; memetakan daerah serta kekuatan dan menentukan titik-titik penembakan artileri di pusat-pusat kekuasaan tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenderal Muhammad Fakih Amiruddin Sinambela, Gelar Tuanku Rao, panglima Paderi, meluaskan pengaruhnya di Tanah Batak Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1816-1833&lt;br /&gt;Islam berkembang pesat di Mandailing dengan pembangunan universitas, pusat-pusat perdagangan dan kebudayaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1819-1841 &lt;br /&gt;Masa pemerintahan Sisingamangarah X, Aman Julangga, Gelar Ompu Tuan Na Bolon. Setahun sebelum diangkat, dia berseteru dengan keponakannya, Fakih Sinambela, yang justru merupakan keponakan kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1818&lt;br /&gt;Panglima Fakih Sinambela berseteru dengan pamannya Sisingamangaraja X, Raja Dinasti Sisingamangaraja di daerah Batak Utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Batak yang miskin dan putus asa dengan penyakit kolera dimanipulasi Belanda sebagai kekuatan anti-otoritas SM Raja. Beberapa kerajaan-kerajaan huta dihadiahi dengan pengakuan sehingga mejadi raja-raja boneka yang membangkang. Kredibilitas kedaulatan Sisingamangaraja di akar rumput menipis, dikempesi orang-orang Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalianya epidemik penyakit menular menjangkiti penduduk. Elemen Eropa dan Belanda di pantai timur Sumatera memanfaatkan situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1818-1820&lt;br /&gt;Perseteruan Sisingamagaraja X dan Fakih Sinambela memuncak. Pasukan Fakih Sinambela dengan komando Jatengger Siregar berhadapan dengan pasukan Sisingamangaraja X di Bakkara setelah buntu dalam perundingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Markas Pusat di Siborong-borong dengan komando Panglima Fakih Sinambela memerintahkan pasukannya di Bakkara untuk menguburkan pamannya S.M Raja X di pemakaman kerajaan dengan pasukan kehormatan dan melindungi keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakih Sinambela menolak tawaran pamannya menjadi Sultan di Tanah batak. Mereka mundur ke Selatan. Yang Mulia Sisingamangaraja XI naik tahta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1820&lt;br /&gt;Pembantu Fakih Sinambela, Tuanku Mansur Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan di pantai timur Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1821&lt;br /&gt;Belanda yang tahu bahwa daerah pesisir Sumatera Barat seperti Pariaman, Tiku, Air Bangis adalah daerah strategis yang telah dikuasai kaum Padri, maka Belanda telah membagi pasukan untuk merebut daerah-daerah tersebut. Dalam menghadapi serangan Belanda ini, maka terpaksa kaum Padri yang berada di Tapanuli Selatan di bawah pimpinan Fakih Sinambela(Tuanku Rao) dan Tuanku Tambusi dikirim untuk menghadapinya. Pertempuran sengit terjadi dan pada tahun 1821 Fakih Sinambela gugur sebagai syuhada di Air Bangis. Perlawanan pasukan Padri melawan pasu kan Belanda diteruskan dengan pimpinan Tuanku Tambusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1823&lt;br /&gt;Thomas Raffles, Jenderal Inggris, tertarik untuk mengadu domba kerajaan-kerajaan di Sumatera. Idenya; Aceh yang Islam dan Minagkabau dipisah dengan Komunitas Batak Kristen. Tanah Batak harus, menurut istilah Ompu Parlindungan, “dikristenkan”; diterima atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan ini ditiru oleh Raffles dari Lord Moira, Gubernur Jenderal Inggris di Kalkutta yang berhasil melemahkan Kerajaan “Dehli” Islam di India; Burma yang Budda serta Thailand yang Buddha harus dipisah dengan bangsa Karen yang Kristen. (Aljunied:2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, pihak Inggris mengirimkan tim-tim pendeta kerajaan ke lokasi tersebut. Di Tapanuli saja ada diutus beberapa orang, sbb;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendeta Burton yang bertugas menguasasi bahasa Batak dan menerjemahkan Bibel ke Bahasa Batak, bertindak sebagai pemimpin misi.&lt;br /&gt;2. Pendeta Ward, seorang dokter yang meneliti pengaruh penuakit menular, epidemik yang menjangkiti penduduk Batak. &lt;br /&gt;3. Pendeta Evans, bertugas mendirikan sekolah-sekolah pro-Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya merupakan tim ekspedisi dalam infiltrasi pasukan Inggris di Tanah batak yang akan berprofesi sebagai pendeta agar tidak terlalu mendapat penolakan di sebagian besar mayarakat Batak yang telah menganut agama Parmalim, agama S.M. Raja, di pusat-pusat kerajaan Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1823-1824&lt;br /&gt;Pertahanan benteng SM Raja di Humbang, yang ‘splendid isolation’ dan tertutup untuk pihak-pihak tidak resmi, sangat kuat dan tidak dapat disusupi, pelabuhan Barus bebas dari penyusup.. Tim tersebut hanya berhasil masuk melalui pantai Sibolga dan daerah Angkola yang mayoritas penduduknya muslim dan terbuka. Burton dan Ward berhasil memasuki Tanah Batak, melalui pelabuhan Sibolga tempat beberapa komunitas Inggris menetap berdagang, menyisir hutan belantara dan mencapai Lembah Silindung. Misi berhasil. Namun ketika akan menyusup ke Toba, pusat kehidupan sosial masyarakat batak, Ward memberikan instruksi untuk mundur. Epidemik Kolera masih mengganas di Toba dan Humbang. Burton dan Ward mundur ke Sibolga. Dari sini ‘character assasination’ terhadap panglima-panglima Padri dilancarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan antar penjajah untuk menguasai Tanah Batak muncul. Belanda menggantikan posisi Inggris di Tapanuli, sesuai ‘Traktat London’. Pendeta-pendeta Inggris diusir. Mereka yang sudah berhasil memasuki wilayah privasi para Panglima tersebut dituduh bersekongkol dengan Padri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1830-1867&lt;br /&gt;S.M Raja XI, setelah naik tahta mulai menata kehidupan rakyatnya. Ada yang menyebutkan angka tahunnya adalah 1841-1871. Di beberapa wilayah dilakukan pembangunan. Hubungan diplomasi luar negeri dengan Kesultanan Aceh dijalin kembali. Sang Raja mulai menyadari kehadiran elemen-elemn penyusup yang bermaksud untuk menguasai dan meniadakan Kedaulatan Bangsa Batak. Belanda yang meneruskan kebijakan Raffles tidak bisa menerima; Bangsa Batak malah melakukan kerjasama militer dengan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pembangunan di bidang sosial dan pendidikan meningkat. Kerajaan mulai mengerjakan penulisan sejarah Batak dalam ‘Arsip Bakkar’ setebal 23 jilid. Total Satu setengah meter tebalnya. Sebagain besar mengenai undang-undang, tradisi dan kehidupan kerajaan. Sebuah usaha yang memberikan dampat baik terhadap kredibilitas otoritas raja dan kehidupan masyarakat namun sudah terlanjur terlambat. Elemen-elemen rakyat yang putus asa dengan epidemik kolera sudah banyak yang pro-Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsip tersebut dijilid setebal lima sentimeter dengan jumlah jilidan 23. Bila ditumpukkan akan mempunyai lebar sekitar satu setengah meter. Ditulis dengan menggunakan pena yang terbuat dari pohon Aren. Tidak diketahui siapa penulisnya tapi yang pasti penulisannya diperintahan oleh Sisingamangaraja XI dalam sebuah usaha untuk memajukan peradaban Batak pada era pemerintahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 1 sampai dengan 10, berupa kitab raja-raja kerajaan atau “Book of Kings” seperti Pararaton, Tambo atau Sejarah Melayu dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 11 sampai dengan 23, merupakan annals (dokumentasi tahunan) perihal pemerintahan Sisingamangaraja XI di Bakkara. Bila buku ini diterbitkan kembali maka kemasyhurannya dipastikan akan menyamai kitab-kitab Majapahit ala Prapanca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara rinci mulai dari jilid 1 sampai dengan 3 berisikan informasi mengenai pemerintahan Dinasti Sorimangaraja selama 90 generasi di Sianjur Sagala Limbong Mulana di kaki gunung Pusuk Buhit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid satu dimulai dengan kalimat Ta Pa Da Na Da Na A A Sa Na yang berarti kisah tentang Putri Tapidonda Nauasan, ibu suri dari suku bangsa Batak. Diyakini oleh kepercayaan agama orang-orang Batak saat itu, diturunkan dari ‘banua ginjang” oleh Debata Mulajadi Na Bolon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 2 berisi kisah pemisahan diri orang-orang Batak Simalungun dari kekuasaan Dinasti Sorimangaraja dan mendirikan kerajaan Nagur. Menyusul pula orang-orang Batak Karo yang mendirikan kerajaan Haru Wampu serta kesetiaan orang Mandailing, Angkola dan Sipirok terhadap pemerintah berkuasa saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 3 berisi tentang file-file mengenai keistimewaan dan kesaktian raja-raja Batak. Legenda-legenda mengenai raja misalnya Sorimangaraja XC yang diyakini dapat menerbangkan benda mati ke udara, demikian juga dari pihak marga Simanullang dan Sinambela yang dapat menerbangkan pedangnya. Semuanya menjelaskan peristiwa konstalasi politik kuno dalam sebuah cerita perumpamaan dimana Dinasti Sorimangaraja dijatuhkan oleh orang-orang marga Simanullang dan dijatuhkan lagi oleh pihak Sinambela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 4 samapi 7 berisi dokumentasi pemerintahan Dinati Sisigamangaraja di Bakkara. Semuanya berisi mengenai kelahiran raja dan pengangkatannya dan lain sebagainya. Setiap peristiwa itu juga dibarengi dengan penjelasan mengenai kejadian alam yang menyusul terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jilid ini juga diceritakan bahwa Sultan Alauddin Muhammad Syah, seorang Sultan Aceh, mengadakan perjanjian kenegaraan dengan pihak Singamangaraja IX dalam kerjasama pertahanan. Sisingamangaraja IX melepaskan pengaruhnya dari Singkil serta daerah Uti Kiri definitif kepada pihak Aceh. Sebagai imbalannya pihak Aceh menyerahkan pengaruhnya di daerah Uti Kanan dengan ibukotanya Lipatkajang ke pihak Singamangaraja IX. Barus yang dikuasai oleh pihak Dinasti Pardosi dan Dinasti Pasaribu Hatorusan (Tuanku Hulu dan Hilir) ditetapkan sebagai zona netral. Sementara itu pihak Aceh mengakui pengaruh Sisingamangaraja IX atas wilayah Simalungun dan kawasan Karo berada dalam pengaruh Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan juga perihal peristiwa suaka politik Pangeran Gindoparang Sinambela yang diusir oleh Singamangaraja IX ke wilayah Uti. Gindoporang Sinambela sekarang ini menjadi leluhur komunitas muslim Sinambela di Singkil. Perihal keluarga Gindoparang dan anaknya Faqih Sinambela yang menjadi seorang Jenderal di pihak Padri didapat oleh sejarawan Sutan Martua Raja dari sebuah catatan keluarga orang-orang muslim marga Sinambela di Singkil. Di sana kebanyakan mereka menjadi guru-guru agama Islam yang menikah dengan orang-orang marga Pohan dari Barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 7 ditutupi dengan sebuah dokumentasi peristiwa tragis yang menimpa Singamangaraja IX yang hendak mencoba sepucuk bedil hadiah dari Sultan Aceh. Dia menembak mati satu ekor gajah yang mengakibatkan dirinya hancur lebur diinjak oleh gajah-gajah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 8 seluruhnya berisi dokumentasi pemerintahan Singamangaraja X serta peristiwa konflik kerajaan dengan kekuatan Padri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 9 berisi mengenai mitos kepala terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 10 mengenai kehidupan Amantagor Manullang selama memerintah di Bakkara sebelum era Dinasti Sisingamangaraja. Dia tewas dan dibunuh oleh orang yang tak dikenal di dataran tinggi Tele dan dikuburkan di Paranginan, Humbang. Daerah ini sampai sekarang masih sangat rawan dan menjadi sarang para perampok dan bajing loncat. Sebelum Tele ada sebuah daerah yang bernama Dolok Partangisan yang dianggap angker dan seram karena diyakini dulunya menjadi pusat pengajaran mistik dan membutuhkan pengorbanan nyawa anak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jilid 10 ini pula diinformasikan mengenai kedatangan orang Eropa yang disebut sebagai “Si Bontar Mata” oleh bahasa Batak yang memasuki Silindung tapi tidak melalui Bukit Sigompulon. Agama yang mereka bawa, katanya, ditolak oleh orang-orang Batak. Tidak disebutkan mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 11 berisi mengenai informasi penobatan Sisingamangaraja XI dalam usia 10 tahun akan tetapi telah bersikap sangat bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 11 sampai dengan 23, merupakan file-file pemerintahan Ompu Sohahuaon yakni Sinagamangaraja XI. Juga mengenai penanggalan pemerintahan yang dimulai dari penobatannya sebagai raja. Menyerupai angka tahun Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun I dalam penanggalan Sisingamangaraja XI sama dengan tahun 1830 M. Di ajaran parmalim juga terdapat penanggalan yang berdasarkan pada era Dinasti Uti dimana tahun 497 Masehi sama dengan tahun 1450 tahun Batak. Tahun ini dipercaya merupakan tahun berdirinya agama parmalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu jilid 23 ditutup dengan tahun ke-37 dari pemerintahan Sisingamangaraja yang berarti tahun 1866 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singamangaraja XI menyesuaikan permulaan tahun dengan permulaan ‘Tinki Ni Pangkuron’ yakni musim mencangkul sawah. Ini berarti tahunnya disesuaikan dengan musim hujan yang di tanah Batak adalah pada pertengahan November. Untuk tanda diambillah ‘bintang na pintu’ yakni Orion sementara tenggelamnya ‘bintang hala’ yakni Skorpio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permulaan bulan dihitung degan naiknya bulan. Sehingga ‘tula’ yakni malam terang bulan purnama selamanya jatuh pada tanggal 15 seperti penanggalan tahun Hijriyah. Sepuluh bulan pertama tidak diberi nama akan tetapi hanya penomoran seperti ‘bulan sapaha sada’ sampai dengan ‘bulan sapaha sappulu’. Sementara itu bulan yang ke-11 bernama ‘bulan hala’ dan bulan ke-12 bernama ‘bulan hurung’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli astronomi kerajaan mengerti bahwa penanggalan berdasarkan bulan berbeda dengan penanggalan berdasarkan bintang selama 11 hari setiap tahun. Akibatnya, permulaan dari bulan ‘sapaha sada’ yang begitu penting untuk mencangkul sawah turut pula bergeser 11 hari dari timbulnya ‘bintang na pitu’. Singamangaraja XI juga mengadakan ‘bulan na badia’ yakni bulan ketigabelas yang diselipkan antara ‘bulan hurung’ dan ‘bulan sapaha sada’. Tujuannya, agar perhitungan waktunya tepat pada permulaan tahun dengan timbulnya ‘bintang na pitu’, tepat dengan permulaan musim hujan dan permulaan musim mencangkul sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 11 dan 12 kondisinya sangat rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 13 sampai dengan jilid 16 mengenai periode pembangunan ibukota Bakkara dan daerah Toba dalam periode 1835-1846. Termasuk penataan pertanian, peternakan, penetapan geografis negeri-negeri dan juga pembangunan yang bersifat sosial dan poltik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jilid 14 disebutkan bahwa Singamangaraja XI mengadakan kunjungan kenegaraan ke Aceh dalam usia 24 tahun. Tujuannya untuk mengikuti pendidikan militer di Indrapuri selama 2 tahun. Di sana dia satu kelas dengan pangeran Ali Muhammad Syah, Tengku Mahkota Kesultanan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini juga disebutkan nama Teku Nangta Sati, ayah dari Cut Nya’ Dien dan mertua dari Teuku Umar, yang ikut ke Bakkara bersama Singamangaraja XI selaku ‘Chief Aceh Military Mission’ yang pertama. Selama Singamangaraja XI di luar negeri, pemerintahan kerajaan di dalam negeri dipegang oleh Panglima Panibal Simorangkir, putra dari Panglima Jomba Simorangkir, pengawal setia Singamangaraja XI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jilid 16 dicatat bahwa telah lahir putra mahkota Parobatu di tahun ke-16 dari pemerintahan Singamangaraja XI yakni tahun 1845 M. (Dia kelak memerintah antara tahun 1867-1907)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 17 menceritakan datangnya dua orang Eropa, Si Junghun dan Si pandortuk yakni Dr. Junghuhn dan Dr. van der Tuuk. Momen inilah yang membuat adanya kesempatan oranga sing mengabadikan foto Singamangaraja XI. Van der Tuuk merupakan orang kulit putih satu-satunya yang pernah diijinkan menginap di Bakkara karena dia menyampaikan salam dari kepada Sinagamangaraja XI, dari abangnya Putra Mahkota Lambung Sinambela di Roncitan, Sipirok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilid 21 berisi informasi mengenai kunjungan Singamangaraja XI pada tahun 1865 kepada pendeta Nommensen di Huta Damai untuk menagih pajak atau cukai berupa ‘nyonya kulit putih’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jilid 23 disebutkan bahwa dalam pemerintahan yang ke-36 Singamangaraja XI di tanah Batak Utara mengamuk lagi Begu Attuk, plague epidemik, serta Begu Arun yakni kolera. (Singamangaraja XI sendiri diketahui meninggal karena kolera)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jilid ini disebutkan juga bahwa Putera Mahkota Parobatu ditugaskan selama dua tahun untuk mengikuti pendidikan militer di Aceh pada tahun 1864-1866.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1833&lt;br /&gt;Tentara Belanda mulai mendaratkan pasukan ekspedisi dibawah Komando Mayor Eiler, di daerah Natal dan mengangkat rajanya menjadi raja boneka dengan gelar; Regent van Mandailing. Elemen-elemen padri Minang dibasmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1833-1834&lt;br /&gt;Pasukan Kolonel Elout menguasai Angkola dan Sipirok. Sipirok menjadi batu loncatan untuk menggempur Toba. Peta-peta sasaran tembak sudah dikumpulkan sebelumnya oleh tim penyusup dan orang-oramg Eropa yang bergerak bebas di Tanah Batak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolonel Elout memerintahkan pendeta-pendeta tentara Belanda, yang menjadi bawahannya di pasukan tersebut, antara lain; Pendeta Verhoeven untuk mempersiapkan diri untuk meng-kristenkan penduduk asli Tanah Batak Utara. Verhoeven diwajibkan untuk bergaul dengan penduduk asli dan belajar Bahasa Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eliot melalui kakaknya, saudara perempuannya, di Boston, AS, meminta tambahan tim misi dari American Baptist Mission (ABM). Permintaan ini mendapat dukungan dana oleh Clipper Millionairs yang berpusat di Boston dengan kompensasi mereka dapat menguasai kegiatan ekspor dan impor di Tanah Batak yang sangat potensial saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperempat abad kemudian, Hamburg Millionairs mendanai pendeta-pendeta dari Barmen untuk mengkristenkan Tanah Batak, hasilnya sejak tahun 1880-1940, di belakang “Reinische Missions Gesselschaft”, seluruh arus perdagangan ekspor dan impor di Tanah batak dimonopoli oleh “Hennemann Aktions Gessellschaft”. Diperkirakan, paska PD II total pengusaha-pengusaha nasionalpun tidak sanggup mendekati 10 persen dari volume perdagangan “Hennemen &amp; Co,” dulu di Tanah Batak. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1833-1930&lt;br /&gt;Masyarakat Mandailing menderita dengan pendudukan Belanda setelah beberapa usaha mempertahankan diri, gagal. Eksodus ke Malaysia dimulai. Komunitas-komunitas diaspora batak di luar negeri terbentuk. Di Malaysia, Mekkah, Jeddah dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1834&lt;br /&gt;ABM mengirimkan tiga orang pendeta ke Tanah Batak. Yakni; Pendeta Lyman, Munson, Ellys. Kolonel Elout menempatkan Ellys di Mandailing untuk mengkristenkan masyarakat muslim di sana. Lyman dan Munson melanjutkan jejak Burton dan Ward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lyman dan Munson memasuki toba dengan seorang penerjemah, Jamal Pasaribu. Di sana mereka disambut baik. Namun setelah insiden penembakan mati seorang wanita tua oleh Lyman, raja setempat, Raja Panggulamau menolak kehadiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penembakan wanita tua, yang kebetulan, namboru sang raja tidak dapat diterima oleh raja. Lyman dan Munson mendapat hukuman mati oleh pengadilan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1834-1909&lt;br /&gt;Tokoh intelektual Batak lainnya muncul ke permukaan. Syekh H. Muhammad Yunus Nasution menjadi ulama terkenal di Huraba, Angkola. (Schnitger 1983: 43-48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1834-1838&lt;br /&gt;Pemerintahan Militer Belanda di Tanah Batak Selatan didirikan secara permanen. Komplek markas Besar Belanda didirikan berikut taman perumahan para pemimpin militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1838-1884&lt;br /&gt;Kekuatan militer Belanda bertambah kuat. Sumatera Barat dapat dikuasai. Mandailing, Angkola dan Sipirok menjadi “Direct Bestuurd Gebied”, Raja Gadumbang tidak jadi dijadikan Sultan oleh Pemerintah Penjajahan Belanda, akan tetapi dibohongi dan hanya diberikan gelar “Regent Voor Her Leven”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin-pemimpin masyarakat Batak Islam yang tidak mau tunduk dengan Belanda di berbagai daerah, dibasmi. Silindung masuk ke dalam “Residente Air Bangis tahun 1973 dan Toba, yang belum takluk, dimasukkan pada tahun 1881. Kerajaan-kerajaan lain yang berhubungan dengan Kerajaan Toba tidak dapat berbuat banyak untuk membantu. Hegemoni Eropa tidak dapat terbendung. Manusia di nusantara hanya menunggu waktu untuk menjadi mangsa Eropa. Kerajaan Batak terisolir dan melemah. Rakyat sudah banyak yang pro Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1839-1840&lt;br /&gt;Belanda kembali lagi dengan sebuah kekuatan perang ke Barus. Sebelumnya elemen Belanda yang memonopoli dan membuat kesukaran bagi penduduk Barus berhasil dideportasi oleh penduduk dan kerajaan. VOC dibenci oleh rakyat dan perdagangannya di Barus dikalahkan oleh pedagang-pedagang Aceh. Paska pendirian kantor resmi penjajah Belanda di Barus, para pedagang dan elemen Aceh diusir. Pemerintah Belanda memonopoli kembali perekonomian Kesultanan Barus. (E.B. Kielstra, “Sumatra’s Westkust van 1826-32,” BKI 37 (1888):221 and 327.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1843-1845&lt;br /&gt;Perbatasan Tanah Batak yang relatif aman hanya pelabuhan Singkil dan Barus serta perbatasan darat dengan Aceh. Sisingamangaraja XI mengikuti Pendidikan Militer di Indrapuri, Kesultanan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1845-1847&lt;br /&gt;Aceh mengirimkan satu balayon tentara di bawah komando Teuku Nangsa Sati ke Toba. Bersama Yang Mulia Sisingamangaraja XI, Teuku menyiapkan perencanaan strategi gerilya. Pasukan komando gerilya dibentuk. Pertahanan dengan menggelar pasukan sudah tidak memungkinkan. Siasat ini pada tahun 1873-1907 sangat membingungkan pihak imperialis Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1848&lt;br /&gt;Putra Mahkota, Pangeran Parobatu, satau-satunya anak laki-laki Sisingamangaraja XI lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1849&lt;br /&gt;Neubronner van der Tuuk, atau yang dikenal di masyarakat Batak dengan nama Pondortuk (Big Nose), diberangkatkan oleh Dutch Bible Society ke Barus untuk mempelajari peradaban Batak agar dapat memberi masukan kepada misionaris, mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada harapan untuk mengkristenkan orang-orang Angkola dan Mandailing. Sebagian besar mereka telah memeluk agama Islam, begitu juga kebanyakan penduduk yang berada dalam penjajahan Belanda. Untuk menyebarkan Agama Kristen, oleh karena itu, harus diambil sebuah keputusan yang pasti. Semua anggota misi harus diarahkan ke tempat lain (tanah Batak Utara). Jika kita tidak mengikuti rencana ini, maka semua penduduk akan memeluk agama Islam tanpa kita sadari. Biasanya penyebaran bahasa Melayu (Di tanah-tanah penduduk yang masih pagan) akan membawa orang-orang melayu ke tempat tersebut yang akan membuat penduduk tertarik kepada Islam” (Pedersen 1970: 54; Muller-Kruger 1959: 181-182) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Abdur Rajjab Lubis, “Mandailing Islam Across Borders”, Taiwan Journal of South East Asian Studies (TJSEAS), Vol. 2, No. 2, 2005, pp. 55-98.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1852&lt;br /&gt;Barus berhasil dikerdilkan oleh Belanda sebagai kota pelabuhan. Posisisnya terkurung dengan dibangunnya Sibolga sebagai pelabuhan penyaing oleh Belanda. (Tengku Luckman Sinar, Sibolga dan Pantai Barat Sumatera Utara dalam intasan Sejarah,” unpublished papaer, Medan 1980; dan van der Kemp, “Een Bijdrage to E. B. Kielstra’s Opstellen,” p. 612.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1856&lt;br /&gt;Sultan Marah Tulang naik tahta Kesultanan Barus Hulu pada tahun 1270 H atau sekitar tahun 1856. Dia merupakan Sultan terakhir dari Dinasti Pardosi yang masih memangku jabatan kerajaan. Setelah kepeninggalannya, keturunannya hanya menjadi ‘kepala kuria’ atau pegawai gajian penjajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1857-1861&lt;br /&gt;Zending Calvinist Belanda dari “Gereja Petani Ermeloo/Holland” (GPE) dengan gencar melakukan misi di Tanah Batak Selatan. Mereka antara lain; Pendeta Van Asselt di Parausorat, Sipirok, pendeta Dammerboer di Hutarimbaru, Angkola, Pendeta Van Danen di Pangarutan, Angkola dan Pendeta Betz di Bungabondar, Sipirok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misinya gagal. Masyarakat Muslim Batak yang sudah tidak berdaya dalam penguasaan Belanda menolak untuk dikristenkan. Belanda, tidak habis akal, mempercayakan misi pengkristenan Batak Selatan dan Utara kepada pendeta-pendeta Jerman, “Reinische Missions Gesselschaft” (RMG), yang menganggur di Batavia, sejak diusir keluar dari Kalimantan Selatan oleh Pangeran Hidayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda menghubungkan pendeta Fabri, pemimpin RMG di Jerman dengan pendeta Witteveen, pemimpin dari GPE. GPE mengalah, mundur dari Tanah Batak Selatan, karena kahabisan dana. Dengan banjir dana dari perusahaan Hennemann &amp; Co, RMG memulai upaya misi kembali agar secepatnya Belanda dapat menguasai Tanah Batak dan menghancurkan Aceh di ujung sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1861&lt;br /&gt;Pada tanggal 7 Oktober 1861, di dalam rumah pendeta van Asselt diadakan rapat bersama oleh pendeta-pendeta Belanda yang sudah aktif di tanah Batak bersamam pendeta-pendeta Jerman yang baru datang. Rapat ditutup oleh pendeta Klammer hasilnya; Pimpinan pengkristenan tanah Batak sudah berpindah dari tangan Pendeta Belanda ke tangan Pendeta Jerman. Pendeta Belanda Dammerboer serta van Dalen tidak menyukai posisinya menjadi bawahan seorang “Moffen”, Jerman. Mereka berhenti menjadi pendeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1861-1907&lt;br /&gt;Belanda tidak sabar untuk menguasai lahan-lahan pertanian Tanah Batak yang masih dimiliki Sisingamagaraja XI. Untuk menyerangnya secara frontal Belanda belum mampu karena dipihak lain dan di dalam negeri mereka banyak menghabiskan tenaga unutuk menumpas pemberontakan-pemberontakan, sementara itu, kerajaan-kerajaan pribumi tidak menyadari keunggulan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda kemudian menerapkan Devide et Impera dari pantai timur dengan kebijakan Zelbestuur, artinya swapraja. Tanah Batak dipecah menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keresidenan Tapanuli. Direct Bestuur Gebied, sebuah daerah Pamong Praja.&lt;br /&gt;2. Sumatera Timur, Zelbestuurs Gebied, Swapraja.&lt;br /&gt;3. Daerah Batak, Singkil, gayo, dan Alas atas permintaan komandan tentara Belanda di Kotapraja, dimasukkan ke dalam Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Batak yang menjadi Swapraja yang bercampur dengan puak Melayu dipecah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kesultanan Langkat, di atas kerajaan Karo, Aru/Wampu di tanah Karo, Dusun&lt;br /&gt;2. Kesultanan Deli, bekas Kesultanan Haru/Delitua.&lt;br /&gt;3. Kesultanan Serdang, di bekas Kerajaan Dolok Silo, Simalungun sampai ke Lubuk Pakam.&lt;br /&gt;4. Distrik Bedagai, dilepas dari Kerajaan Kahean, Simalungun. Di bawah pimpinan otoritas bergelar Tengku. &lt;br /&gt;5. Kesultanan Asahan yang didirikan oleh Tuanku Mansur Marpaung diberi pengakuan secara hukum.&lt;br /&gt;6. Kerajaan Kota Pinang, dengan mayoritas penduduk Batak Muslim didirikan dengan kepemimpinan Alamsyah Dasopang dengan gelar Tuanku Kota Pinang.&lt;br /&gt;7. Kerajaan-kerajaan kecil dan tak mempunyai kekuatan diciptakan, misalnya kerajaan Merbau, Panai, Bila dan lain sebagainya dengan tujuan untuk memecah-mecah kekuatan masyarakat Batak dalam kotak-kotak agama, wilayah dan kepentingan ekonomi.&lt;br /&gt;8. Kerajaan Dolok Silo dan Kahaen dipecah tiga.&lt;br /&gt;9. Di Tanah Karo daerah pegunungan diciptakan Kerajaan Sibayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Gayo yang dimasukkan ke Aceh dan orang-orang Batak Karo serta Simalungun tidak dapat lagi membela perjuangan Dinasti Sisingamangaraja karena mereka menganggap dirinya masing-masing sudah berbeda kewarganegaraan. Pihak Belanda menguasai setiap check point, untuk mengisolir rakyat setiap kerajaan dan membatasi pelintas batas. Kekuatan ekonomi, praktis, dikuasi Belanda. Kekuatan Tanah Batak mencapai titik paling lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1863&lt;br /&gt;Pendeta Nommensen dari Sipirok memasuki Silindung. Pengkristenan Tanah Batak Utara dimulai dan dikerjakan dengan sangat sistematis. Target ke selatan Batak, daerah Batak Muslim, dikurangi. Dengan beking seorang raja, Pontas Lumban Tobing, yang sudah pro Belanda, sebuah gereja pertama didirikan di Hutadamai, Silindung. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1864-1866&lt;br /&gt;Pangeran Parobatu, selama dua tahun, mengikuti Pendidikan Militer di XXV/Mukim, di Kesultanan Aceh. Setelah wisuda, pangeran juga membawa oleh-oleh; Bantuan Pasukan Penempur dari Aceh, ke Bakkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1867&lt;br /&gt;Penyakit Kolera menjangkiti lagi. Para tenaga medis Kerajaan gagal membendung epidemik ini. Yang Mulia Sisingamangaraja XI wafat karena kolera. Pangeran Parobatu naik tahta menjadi Sisingamangaraja XII dengan gelar Patuan Bosar. Ada yang menyebutkan angka tahun masa pemerintahan Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan nama Patuan Bosar, gelar Ompu Pulo Batu adalah 1871-1907.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat epidemik ini, intensitas misi pengkristenan bertambah tinggi. Rakyat yang frustasi berduyun-duyun mendatangi Christian Community di Hutadame. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1867-1884&lt;br /&gt;Sisingamangaraja XII selama 17 tahun memerintah di Bakkara. Menurut penulis sejarah pro Belanda, Sisingamangaraja memerintah dengan tangan besi, untuk mempertahankan “Singgasana Batak Pagan Priest Kings” yang sudah memerintah selama 12 generasi paska Dinasti Sori Mangaraja. Informasi ini tentunya untuk pengalihan perhatian orang-orang Batak di masa mendatang yang akan merasa kehilangan penguasa Batak yang mereka cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, para penulis itu menuduh Sisingamangaraja XII secara totaliter menentang Pemerintah Belanda, serta menentang infiltrasi dari Agama Kristen yang dibawa oleh pendeta-pendeta Jerman. Mereka menambahkan bahwa karena itulah orang-orang Batak yang sudah Kristen (dan lebih-lebih lagi yang sudah Islam) tentulah tidak mau mengakui seorang Batak Pagan Priest King.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda, dengan dendam kesumat atas kewibawaan Sisingamangaraja XII, sengaja menanam bibit perpecahan dan pertikaian di masyarakat untuk dipanen oleh generasi Batak di masa mendatang. Paska Kemerdekaaan Indonesia, bibit itu melapuk dan tidak membuahkan hasil. Orang Batak hidup damai dalam toleransi beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Huta, Pontas Lumbantobing di Saitnihuta, Silindung, menjadi antipode dari Sisingamangaraja XII, maharaja di wilayah huta-huta Batak. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah Batak Utara didirikan sekolah-sekolah dengan jumlah besar; Sekolah Dzending. Namun, demi misi imperialis, diskriminasi diterapkan. Anak-anak dari Sintua, tetua Gereja, mendapat prioritas masuk sekolah Zending. Untuk menjadi Sintua, seseorang harus membuktikan diri patuh terhadap Kristen. Orang-oranng tanah Batak Utara belomba-lomba menjadi Sintua. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Sisingamangaraja XII kehilangan legitimasi dan dukungan dari rakyatnya yang sudah Kristen karena sudah berlomba-lomba menjadi Sintua (idem).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Dairi, Pakpak dan Simsim masih menjadi pengikut setia Sisingamangaraja XII. Dalam pertempuran dengan Belanda, Ibukota kerajaan yang sudah ditandai oleh tim penyusup sebelumnya menjadi sasaran empuk pasukan Belanda. Serangan-serangan artileri memaksa Sisingamangaraja XII, dengan pengawalan khusus dari rakyatnya orang-orang Gayo yang menjadi pasukan komando dari Aceh, pasukan yang diberikan Kesultanan Aceh, mengungsi di Dairi dan melancarkan serangan dari hutan belantara sana. (1884-1907). Sementara itu panglima-panglimanya yang masih setia, melakukan upaya defensif untuk menahan laju tentara Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1869&lt;br /&gt;Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pendeta Ellys di Mandailing menemukan beberapa hambatan-hambatan, serta penyebabnya, dalam misi pengkristenan. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)&lt;br /&gt;1. Aliran Baptist, merupakan kelompok yang sangat sedikit di dunia. Baptist melepaskan diri dari Gereja Roma Katolik, lebih dahulu daripada Protestan dengan Martin Luther-nya pada tahun 1517. Baptis mengkristenkan orang-orang dewasa dengan cara menyemplungkan diri, seluruh badan, di dalam sungai. Seperti halnya oleh Johannes Pembaptis sebelum Jesus.&lt;br /&gt;2. American Baptist Misson dan British Baptish Mission tidak mau lagi mendanai Pendeta di Mandailing yang berpenduduk Muslim dan taat beragama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Romanov, di Rusia beragama. Kristen Ortodoks Katolik. Akan tetapi di Ukraina terdapat sedikit aliran Baptist keturunan Belanda yang disebut; Mennoniets, karena mereka adalah keturunan dari Menno Simons. Baptist, Doopsgezinden, di Negeri Belanda habis dibasmi oleh Protestan, di dalam periode 1568-1648. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Baptist Belanda melarikan diri ke Ukarina. Di sana, mereka dilindungi oleh Dinasti Romanov, karena kepandaian mereka di bidang pertanian dan peternakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Romanov saat itu sedang asyik menanam pengaruh di Seluruh Asia, mulai dari Selat Dardanella, sampai ke Vladiwostok. Romanov kemudian mengatur kepergian Pendeta-pendeta Mennoniet dari Ukraina ke Mandailing 1869-1918.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja yang di Mandailing didirikan pada tahun 1838 dirombak dan diganti dengan Gereja model Basilyk Rusia, lengkap dengan atas yang berbentuk “bawang” , 1869. Misi pendeta Mennoniet inipun berakhir karena jatuhnya Tsar Rusia yang dibantai oleh kaum Komunis. Pendeta Iwan Tissanov, pendeta yang teakhir dari aliran ini kemudian pindah ke Bandung 1918. (Pedersen 1970:56; Elkhart:2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keturunan pasukan Padri bermarga Lubis, Kalirancak Lubis dan Jamandatar Lubis, yang pernah merebut Toba dan menguasai Ibukota Bakkara, di bawah pimpinan Panglima Muhammad Faqih Amiruddin Sinambela, kemenakan S. M. Raja X, menjadi Kristen Protestan Luteran di HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Salah satunya adalah Martinus Lubis pahlawan Medan 1947.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1870 M&lt;br /&gt;Peta politik populasi Tanah Batak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah Batak Selatan; 90% Beragama Islam, 10% lagi terdiri dari Muslim Syiah, Kristen Protestan dan Baptist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah Batak Utara; 90% Beragama Monoteis Adat Sisingamangaraja (Parmalim atau Sipelebegu) dengan Sisingamangaraja sebagai Raja dan Pemimpin Agama dan Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan, Maha Pencipta serta Maha Agung) sebagai Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara 10 persen lagi; Muslim dan Protestan di Silindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1873&lt;br /&gt;Sebuah mesjid di Tarutung, Silindung, dirombak oleh Belanda. Haji-haji dan orang-orang Islam, kebanyakan, dari marga Hutagalung, diusir dari tanah leluhur dan pusaka mereka di Lembah Silindung. Belanda melakukan pembersihan etnis, terhadap muslim Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran Sisingamagaraja XII sudah menipis, tindakan ofensif ditingkatkan. Pertempuran Tangga Batu II meletus. Sisingamangaraja XII terluka, kena tembak dan berdarah. Belanda mengumunkannya ke seluruh penjuru. Tujuannya, agar hormat dan kepercayaan orang-orang Batak terhadap raja mereka, SM Raja XII, goyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di periode yang sama, dengan bala tentara yang lebih banyak, kebanyakan terdiri dari pasukan paksaan dari daerah-daerah jajahan lainnya; Halmahera, Madura dan Jawa, Belanda melumpuhkan kekuatan tempur SM Raja. Sisa-sia kekuatan hanya untuk defensif. Dari dataran tinggi Humbang (sekarang di Kab. Humbang Hasundutan) Bakkara dibombardir dengan senjata Artileri Berat, namun Belanda masih takut untuk melakukan serangan infanteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1881 M &lt;br /&gt;Toba resmi diduduki Belanda. Di Balige ditempatkan Controleur B.B. Di Laguboti ditempatkan Detasement Tentara Belanda. Pendeta Pilgram di Balige dan Pendeta Bonn di Muara mulai mengkristenkan penduduk yang sudah menyerah dan tak berdaya. Sementara itu, tentara Belanda diperkuat dan Laguboti menjadi Garnizon Tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan SM Raja mulai kehilangan pasokan senjata dan amunisi dari dua pabrik senjata di kedua tempat tersebut, yang dibagun atas alih teknologi dari Kesultanan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1882-1884&lt;br /&gt;Sisingangaraja XII di ibukota Bakkara meningkatkan kewaspadaan mereka dalam sebuah upaya ofensif dan melakukan usaha mendeportasi elemen-elemen Belanda, yang menyusup jauh dan membeberkan kelemahan kerajaan, dan Pendeta-pendeta Jerman keluar dari wilayah kedaulatan Tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Mulia, Patuan Bosar, menjanjikan uang sebanyak 300 ringgit burung untuk setiap orang yang memancung seorang pendeta Jerman dengan membawa bukti berupa kepala yang dipancung (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan). Terutama Pendeta Bonn di Muara, yang lalu lalang dan mengintai di daerah antara Bakkara dan Balige yang sudah terlalu dekat dengan pusat kekuasaan Patuan Bosar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1883&lt;br /&gt;Destor Nasution, putera dari Jarumahot Nasution alias Hussni bin Tuanku Lelo, menjadi pendeta. Tuanku Lelo merupakan salah satu panglima tentara Islam Padri yang merebut Bakkara di era S. M. Raja X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Destor merupakan orang Batak pertama yang ditahbiskan menjadi pendeta dari Marga Nasution. Ayah Tuanku Lelo merupakan Qadi Malikul Adil, Menteri Kehakiman di pemerintahan Padri, dan orang Batak pertama yang naik haji ke Mekkah, 1790.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Sisingamangaraja XII dengan sisa-sisa kekuatannya melancarkan serangan frontal ke Muara. Tujuannya. Merebut kembali tanah Toba, dan mengusir Belanda di Laguboti. Pendeta Bonn dan Istrinya berhasil melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda membalas, Bakkara dikepung dengan bombardir artileri dan serang infanteri. Ibu kota Bakkara, hancur lebur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. M Raja hijrah ke Tamba dan mengatur serangan dari sana. Pasukan khusus dari Aceh masih setia melindungi ‘Sri Maharaja’ Patuan Bosar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan rakyat muncul kembali tatkala mendengar patriotisme Putri Lopian Boru Sinambela yang sejak usia 11 tahun selalu mendampingi ayahnya, S. M. Raja XII, Pahlawan Nasional Indonesia. Secara khusus sang putri selalu melakukan ritual untuk memintakan pertolongan dari Debata Mulajadi Na Bolon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat opini rakyat yang mulai menentang, Belanda tidak terima. Karisma sang Putri di bendung dengan tangan besi. Pembicaraan mengenai S. M Raja dan putrinya akan mendapat hukuman penjara. Akibatnya lambat laun rakyat lupa kembali, apakah rajanya masih berjuang atau tidak. Rakyat terintimidasi untuk berbicara mengenai rajanya. Perang Ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1884-1905 &lt;br /&gt;Padangsidempuan menjadi ibukota keresidenan Air Bangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1884-1907&lt;br /&gt;Sisingamangaraja XII, Pahlawan Nasional Indonesia dengan heroik meneruskan perang melawan penjajah dari Dairi. Tanpa sedikitpun bantuan dari orang-orang Toba di Silindung yang menyibukkan diri untuk menjadi Sintua agar anaknya diterima sekolah di Zending.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1886-1948&lt;br /&gt;Syekh Juneid Thola Rangkuti, dari Maga yang juga dikenal dengan nama Simanonga, tampil menjadi tokoh pembaharuan sosial di Tanah Batak Selatan. Dia mendirikan sebuah institusi pendidikan di Padang Rengas yang menjadi pusat studi dan pengembangan Islam secara lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1905&lt;br /&gt;Ibukota Keresidenan Tapanuli, Belanda, dipindahkan ke Sibolga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1907&lt;br /&gt;Pasukan Sisingamangaraja XII bersama panglima dan pengawal pribadinya dari Aceh terkepung di hutan belantara Dairi. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Dalam upaya menolong putrinya yang terluka, Sisingamangaraja XII, gelar Patuan Bosar, Ompu Raja Pulo Batu, tewas diberondong Belanda. Jenazahnya dicincang dan dibuang begitu saja di hutan agar tidak dilihat oleh warga Batak yang pasti akan menimbulkan kemarahan besar. Menurut sumber lain, Jenazahnya dikuburkan di Balige atau Parlilitan. Masih perlu didebatkan. Keturunan S.M. Raja yang masih hidup ditawan dan dijauhkan dari masyarakat untuk tidak memancing pertalian emosi dengan warga Batak. Mereka di tawan dan dibuang ke sebuah Biara terpencil. Di sana mereka mati satu per satu. Menurut cerita lain, sebelum mati mereka sudah dipabtis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1912&lt;br /&gt;Perkembangan Islam, yang tidak diperbolehkan Belanda untuk mengecap pendidikan, walau paska kebijakan balas budi, kemudian bangkit mendirikan Perguruan Mustofawiyah. Disinyalir sebagai sekolah pribumi pertama di tanah Batak yang sudah modern dan sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Mustofa Husein Purba Baru, dari marga Nasution, merupakan penggagas perguruan ini. Dia, yang dikenal sebagai Tuan Guru, merupakan murid dari Syeikh Muhammad Abduh, seorang reformis dan rektor Universitas Al Azhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulusan perguruan Musthofawiyah ini kemudian menyebar dan mendirikan perguruan-perguruan lain di berbagai daerah di Tanah Batak. Di Humbang Hasundutan di tanah Toba, alumnusnya yang dari Toba Isumbaon mendirikan Perguruan Al Kaustar Al Akbar pada tahun 1990-an setelah mendirikan perguruan lain di Medan tahun 1987. Daerah Tatea Bulan di Batak Selatan merupakan pusat pengembangan Islam di Sumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKBP sendiri pernah menjadi gereja protestan terbesar di Asia. Para turunannya mendirikan gereja Angkola, Karo dan Dairi di berbagai tempat di Indonesia. Demikian pula di Kesultanan Langkat, para keturunan Jatengger Siregar gelar Tuanku Ali Sakti mendirikan ‘Lilbanaad College’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1923 &lt;br /&gt;Arsip Bakkara diamankan pendeta Pilgram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1923&lt;br /&gt;Kebangkitan politik orang-orang Mandailing. Sebuah komisi yang dinamakan Majlis Syariah (Commissie van Advies) dibentuk untuk memecahkan masalah-masalah berdasarkan hukum Islam. Masalah-masalah tersebut bahkan dibawa ke Diwan Raiat yang dikenal dengan nama Volksraad. Satu institusi lainnya adalah Comite Kebangsaan Mandailing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1928 &lt;br /&gt;Jong Batak merupakan elemen sumpah pemuda. Orang-orang Batak tanpa beda wilayah, marga dan agama bersatu mengusir Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1945&lt;br /&gt;Tanah Batak merupakan bagian dari Indonesia merdeka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36047615-116088848048550887?l=porseauli.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116088848048550887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36047615/posts/default/116088848048550887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://porseauli.blogspot.com/2006/10/mesjid-pertama-porsea-1450-m.html' title='Mesjid Pertama Porsea (1450 M)'/><author><name>Tony</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
